CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB. 54 Kekhawatiran Wafa


__ADS_3

Gemericik air masih terdengar jelas dari kamar utama pasangan AW (Alhan & Wafa), di dalam kamar hanya terlihat Alhan yang masih memeluk guling, Sedangkan Wafa selalu bangun lebih pagi. Ia cukup menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga.


Wafa menyibak gorden kamarnya. Sinar pagi memantul menembus jendela kamar menyilaukan mata. Pagi ini ia masih kepikiran tentang adik sepupunya yang tidak datang ke rumahnya semalam, padahal mereka sudah diwanti-wanti untuk menginap di rumahnya saja.


Ia pun menghubungi Resa via telepon. Cukup lama telepon itu berdering, namun belum ada jawaban.


Wafa duduk di kasur tepat di samping suaminya tidur. Tumben selepas subuh tadi Alhan tidur lagi, cape dan lelah efek dari kejadian kemarin yang berakhir sampai larut malam. Begitu menyadari di sampingnya ada istrinya yang tengah duduk ia pun melingkarkan tangannya di perut Wafa. Tidak ada penolakan dari Wafa.


"Kenapa, apa yang kamu pikirkan?" Mata Alhan terbuka menyipit ketika menyadari tidak ada pergerakan dari istrinya. Biasanya istrinya akan mengusap kepalanya sampai ia merasa nyaman.


"Mas kok mereka sampai sekarang belum datang ke rumah kita ya?"


"Mereka siapa?" Alhan menjawab dengan mata terpejam.


"Siapa lagi kalau bukan pasangan pengantin baru Resa dan Rasya. Resa kok susah sekali dihubungi ya mas? Padahal hapenya aktif."


"Sudahlah mereka sudah pada gede ini. Kita harus mengerti yang namanya pengantin baru kerjaan pagi-pagi kalau lagi liburan ya gotong royong. Jadi biarkan saja." Masih dengan mata terpejam.


"Gotong royong? Ah mas Han ada-ada saja deh. Hujan begini mana ada yang mau gotong royong." Wafa geleng-geleng kepala. Alhan tergelak masih dengan mode malasnya.


"Gotong royong dalam bentuk konotasi sayang. Hanya orang yang memiliki kecerdasan tinggi yang dapat memahami arti gotong royong di atas."


"Oooh jadi maksud mas aku ga cerdas? Ayo bilang dengan jujur....ayo mas....katakan!" Wafa mencubit dan menggelitik berkali- kali perut Alhan.


"Ampun sayang. Iya.....iya kamu cerdas. Kalau ga cerdas mana mungkin kamu jadi bidan." Wafa mengentikan cubitan dan kelitikannya.


"Sudahlah jangan memikirkan mereka lagi."


" Tapi mas dengan penolakan Kak Rasya kemarin aku khawatir Kak Rasya belum menerima Resa seutuhnya. Aku khawatir Resa diperlakukan kasar oleh kakak angkatku itu." Alhan tersenyum, ia terbangun duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Wafa.

__ADS_1


Ternyata Wafa tidak sepenuhnya


mengenal Rasya. Hatinya menjadi lega. Mengingat Rasya pernah mencintai istrinya ternyata benar istrinya tidak menyimpan nama itu dalam hatinya.


"Jangan khawatir ya! Rasya itu orang yang bertanggung jawab. Ia tidak akan mengkhianati janji yang sudah ia ikrarkan semalam. Ia tahu pernikahan bukan permainan. Dengan ia menyematkan cincin di jari Resa itu pertanda ia ikhlas dengan takdir yang sudah ditentukan Allah padanya." Penuturan Alhan membuat hatinya menjadi lega.


"Mas Han mandi gih! Emmmh bau bunga kasturi. Setelah selesai aku tunggu di bawah. Aku siapkan dulu makanannya!" Wafa beranjak dari tempat tidur. Alhan menahan lengan Wafa.


"Tunggu dulu, kamu masak apa pagi ini?"


"Masak nasi goreng spesial terasi plus telor dadar, kesukaanmu kan?" Wafa tersenyum.


"Oooh yaaa! Aromanya sudah tercium nih. Ya sudah aku mandi dulu. Emmmh sayang tolong siapkan baju ganti. Kaos berkerah ya!" Wafa memberi hormat. Alhan menutup pintu kamar mandi.


"Siap bosku" Wafa langsung menuju lemari pakaian. Ia memilih baju kaos berkerah warna navy.


Ia mengamati kaos tersebut dan cincin yang masih melingkar di jari manisnya, mengingatkannya pada pertemuan pertama kali di sebuah toko mas di sebuah Mall. Yang membuat suaminya kalang kabut karena kehilangan sebuah cincin seharga 50 juta.


Setelah Wafa meletakkan pakaian Alhan di atas kasur, ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan nasi goreng yang masih ada di atas wajan. Dicek ternyata sudah dingin, sehingga Wafa perlu untuk memanaskan nasgor buatannya.


Ning nong


Ning nong


Ning nong


Wafa menghentikan kegiatannya begitu mendengar bel rumahnya berbunyi. Masih pagi sudah ada tamu, siapakah gerangan? Wafa membuka pintu....matanya berbinar begitu tahu siapa yang datang.


"Walaikumussalam Resa kak Rasya! Kenapa baru datang sih?"

__ADS_1


" Kami ke sini mau numpang sarapan doang. Nih aku bawa nasi uduk tapi hanya 2 bungkus. Biasanya kamu bikin sarapan sendiri iya kan?"


"Pasti dong kak. Ini juga baru mau sarapan. Kita sekalian sarapan bersama ya!"


Rasya mengedar ke seluruh ruangan namun tak didapati Alhan sahabatnya yang sudah memaksanya untuk menikahi Resa.


"Mana juragan Alhan, belum bangun ya?"


"Sudah dong kak. Dia masih di atas, sedang bersiap."


"Kak Wafa maaf ya semalam kami ga mampir. Kupikir Ka Rasya mengajakku ke rumah ini eh engga tahunya dia ngajak aku nginep di hotel." Resa menghampiri Wafa yang tengah menyiapkan nasgor ke dalam dua piring.


"Resaaa ah kamu ga asik. Jangan kasih tahu Wafa nanti dia pengen." Rasya mulai mengingatkan.


"Pengen apa?" Alhan yang barusan turun dari lantai atas langsung bertanya.


"Aih bro kamu kesiangan? Jam segini baru turun." Rasya tergelak melihat sahabatnya itu bermata panda. Rasya mendekat lalu berbisik,


"Semalam berapa ronde?"


"Harusnya aku yang nanya gitu. Lihat mataku gara-gara nungguin kalian jadi mata panda begini. Jadi mengurangi ketampananku kan?"


"Kak Alhan mau bagaimana pun juga tetap tampan. Wajar kalau kak Wafa jadi tertarik sama kakak" Resa yang menjawab.


"Ih apaan sih Sa. Ada suamimu juga masih memuji lelaki lain. Suamimu juga tak kalah tampan begini, iya kan?" Jawaban Rasya mengundang tawa Alhan dan Wafa.


Mereka merasa bersyukur ternyata pernikahan yang tadinya ditentang Rasya karena ia menganggap tidak mencintai Resa jadi berbalik sembilan puluh derajat. Rasya terlihat sangat menyayangi dan mencintai Resa. Terlihat ketika Rasya merasa cemburu melihat istrinya memuji lelaki lain di depannya. Ah ternyata mencintai setelah pernikahan itu jauh lebih nikmat. Melakukan apa pun dengan pasangan halal jauh lebih bahagia tidak akan ada yang berani menghalangi maupun menangkap basah seperti yang terjadi di lift kemarin.


Mereka pun sarapan bersama dengan berbeda menu. Dari perbedaan tersebut kedua pasangan terlihat harmonis satu sama lain.

__ADS_1


"Han aku mohon kalian menemani kami untuk menjadi saksi pernikahan kami. Pagi ini kami berniat untuk menghadap orang tuaku. Kamu tahu sendiri bagaimana mamaku kan, Han?" Rasya mengajak Alhan untuk ke rumah orang tuanya setelah menghabiskan sebungkus uduknya.


Alhan berpikir sejenak , ia memang mengetahui bagaimana orang tua Rasya gencar memilih pasangan hidup untuk anaknya. Yang tentunya bukan orang sembarangan yang bisa menempati ruang hati calon mertuanya itu.


__ADS_2