CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 46 Kejutan untuk Nurmala


__ADS_3

Alhan membalikkan badan isterinya. Ia mengangkat dagu sang isteri.


"Ada apa, ada yang kau pikirkan?" Wafa hanya menggeleng pelan.


Ponsel Alhan kembali berdering.


"Sebentar ya, mas terima telepon dulu." Alhan agak menjauhi Wafa namun masih ada dalam satu ruangan.


Alhan dengan cepat mengambil ponselnya dan langsung menjawab tanpa melihat dari siapa panggilan tersebut.


"Hallo...."


"Han sekarang aku sudah ada uangnya" suara dari seberang sana terdengar sumringah.


"Kamu?"


"Iya aku Nurmala. Bisa kita bertemu? Aku akan melunasi pinjaman yang kemarin. Khawatir terpakai. " Alhan bergeming


.


"Transfer saja nanti aku kirim nomor rekeningnya. Aku ga bisa keluar."


"Please Han. Ku mohon temui aku. Aku ga punya ATM semua yang kupunya tidak aktif. Aku janji aku ga macam-macam"


Cukup lama Alhan terdiam. Ia melirik isterinya yang tidak merubah posisinya sejak tadi.


"Oke. Di mana?"


"Di tempat biasa ya! Aku tunggu jam 10." Telepon pun langsung ditutup.


Alhan sebenarnya tidak bergairah untuk bertemu dengan mantan kekasihnya itu namun karena ada niat baik dari Nurmala untuk mengembalikan uang itu maka Alhan menyetujui pertemuan yang bisa saja memberikan kenangan masa lalu yang begitu manis sekaligus pahit saat ingat Nurmala memutuskan hubungan cintanya karena status sosial.

__ADS_1


Nurmala lebih memilih seorang pengusaha dari pada Alhan yang seorang guru honorer. Jelas seperti langit dan bumi. Alhan lebih baik mundur walaupun sebenarnya bisa saja ia mempertahankan hubungannya bersama Nurmala dengan segala yang ia punya. Dengan membeberkan kekayaannya agar Nurmala bersedia menerima cintanya. Namun ia tidak melakukan itu ia ingin mendapatkan wanita yang dengan tulus mencintainya bukan mencintai hartanya.


Setelah menerima telepon Alhan mendekati isterinya yang masih berdiri di samping jendela dengan menyilangkan kedua tangannya. Matanya mengembun.


"Sayang ...."


"Pergilah mas. Kita bisa pergi lain hari, masih banyak waktu bukan untuk melihat rumah kita? Dia lebih penting." Sekali kedip air mata itu lolos dari tempatnya.


"Baiklah kalau kamu mengizinkan" Wafa menekan dadanya yang terasa sesak ia memejamkan matanya.


Akhirnya luruh juga air mata itu. Pemandangan seperti itu tidak lepas dari netra Alhan yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, ia memperhatikan isterinya. Alhan tahu isterinya sedang tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang ia pikirkan.


Alhan mendekati Wafa ditatapnya wanita cantik itu.


"Kamu kenapa? Aku tidak akan pergi kalau isteriku dalam keadaan menangis. Cerita lah mungkin dengan cerita bebanmu akan berkurang." Wafa menggeleng.


"Pergilah jangan biarkan dia terlalu lama menunggu. Dan jangan sampai kau menghianati janji yang sudah disepakati dengannya" Ujar Wafa lirih.


"Maafkan aku jika membuatmu menangis. Aku tidak ingin kamu berpikiran macam-macam tentangku maka ikutlah kemana pun aku pergi kecuali kalau kita sedang bekerja." Alhan tidak ingin membuat isterinya marah dan kecewa. Ia tidak mau kehilangan obat penawar yang sudah menyembuhkan luka hatinya karena cinta.


"Aku mencintaimu Wafa Zahira aku menyayangimu. Tidak akan menunggu lama untuk bisa melupakan orang yang sudah menghancurkan hidupku cukup kamu yang akan menjadikan masa depan kita menjadi lebih indah dan lebih bermakna hanya kita dan anak-anak kita, ya kelak kita akan memiliki anak-anak yang lucu dari rahimmu." Alhan mengecup pucuk kepala isterinya. Wafa hanya diam. Kini ia terharu dengan suaminya yang seolah-olah mengetahui isi hatinya yang paling dalam.


Entahlah apa yang akan terjadi jika Alhan benar-benar mengkhianati cintanya? Cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Cinta yang benar-benar tulus lahir bukan karena harta yang dimilikinya namun cinta yang tumbuh dari dasar hati yang paling dalam.


-


Di sepanjang perjalanan Alhan tidak melepas tangan isterinya. Ia menggenggamnya dengan erat. Senyumnya selalu terpancar dari wajah tampannya. Mereka sudah sampai di sebuah rumah makan yang bernuansa out door.


Wafa menghentikan langkahnya.


"Mas kamu duluan aja. Aku ke toilet sebentar. Tiba-tiba aku kebelet pengen Pepsi"

__ADS_1


"Aku temani ya?"


"Eh jangan ga usah. Aku bisa sendiri kok. Mas duluan aja nanti aku nyusul." Wafa merasa risih, ia langsung menuju toilet perempuan.


-


Nurmala sudah menunggu Alhan cukup lama. Ia melambaikan tangan ketika melihat Alhan yang sedang berdiri di depan toilet.


Alhan menghampiri Nurmala. Nurmala menyambutnya dengan sangat baik. Wajahnya berbinar. Sama seperti dulu kebahagiaan selalu terpancar di wajahnya ketika mereka bertemu.


"Terima kasih sudah mau datang. Silakan duduk, Han! Kita makan dulu nanti aku yang traktir" Nurmala mempersilahkan Alhan untuk duduk di hadapannya. Sesekali Alhan melihat ke arah toilet untuk memastikan isterinya sudah keluar dari tempat itu.


-


Selesai menuntaskan hajatnya Wafa keluar dari toilet ternyata di luar sudah tidak ada suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap gazebo yang ada di tempat itu. Gazebo Nomor 8. Terlihat sepi namun sebentar lagi tempat ini akan ramai dengan pengunjung karena waktu menunjukan jam makan siang. Wafa pun beranjak menghampiri keberadaan suaminya. Wafa berdiri mematung melihat pemandangan dua orang mantan kekasih yang sedang mengadakan pertemuan. Keceriaan terlihat jelas di wajah perempuan yang sudah tidak asing lagi baginya. Dia terlihat lebih cantik mengenakan hijab. Mereka duduk lesehan. Melihat suaminya yang bermuka datar di hadapan perempuan lain hatinya menjadi tenang.


"Sayang kenapa berdiri di situ, ayo sini!" Alhan beranjak dari tempatnya duduk. Langsung menghampiri isterinya untuk bergabung bersama mantan. Ia menggenggam tangan isterinya dengan erat.


"Sini duduk samping, mas" Alhan menyuruh isterinya duduk berhadapan dengan Nurmala. Ia kemudian memperkenalkan isterinya kepada Nurmala. Melihat kemesraan Alhan bersama isterinya wajah Nurmala berubah 90 derajat, agak pucat. Tidak bergairah. Senyumnya dipaksakan.


"Ibu Nurmala kenalkan ini isteriku yang pertama dan terakhir."


"Sayang ini ibu Nurmala, dulu teman satu profesi saat mas masih ngajar di SMA." Mereka saling berjabat tangan.


Nurmala menelisik wanita yang ada di hadapannya. Sungguh tidak ada cacat sedikitpun. Sungguh kecantikannya mampu mengalahkan kecantikan Nurmala. Pantas saja Alhan bisa melupakan Nurmala secepat itu. Tapi tunggu...sepertinya Nurmala tidak asing dengan wanita di hadapannya.


"Maaf sepertinya kita pernah bertemu tapi di mana ya?"


"Iya Bu Nurmala kita memang pernah bertemu di sekolah tempat ibu mengajar. Saat itu ibu sebagai guru piket. Ibu ingat?"


" Oh ya, aku ingat. Jadi saat itu kalian sudah punya hubungan pacaran gitu?" Selidik Nurmala penuh curiga

__ADS_1


"Ah tidak. Kami tidak pernah berpacaran. Justru kami baru memulainya, pacaran halal. Takdir sudah mempertemukan kami dengan jalan-Nya. Aku sangat bersyukur dipersatukan takdir dengan menikahi Wafa yang jauh lebih baik dari mantanku dulu." Alhan menjawabnya dengan kata-kata yang mampu menampar perempuan yang sudah menyakiti hatinya.


__ADS_2