
Insiden cincin tertinggal membawa Alhan pada kebahagiaan. Seorang wanita yang dulu ia benci karena sudah membawa kabur cincin seharga 50 juta berhasil membuat hatinya porak poranda dan merasa karena sebuah cincin yang tertinggal itulah ia gagal melamar kekasih yang sangat ia cintai. Dan karena cincin itu juga ia menjadi dekat sangat dekat dengan orang yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Tanpa Alhan ketahui ternyata orang tuanya lebih mengetahui dan mengenal Wafa lebih dalam karena Wanita itu orang kepercayaan keluarganya, orang yang sudah membesarkan Klinik Sehat Medika. Orang tuanya sudah klik dengan Wafa, mereka tidak ingin menyia-nyiakan orang yang sudah mengharumkan nama kliniknya. Dengan kasih sayang yang tulus diberikan orang tua Alhan pada Wafa, ia melihat kasih sayang kedua orang tuanya mampu merontokkan perasaan Alhan yang sangat membenci Wafa beralih ingin membahagiakan keduanya dengan mencoba untuk bisa mencintai orang pilihan kedua orang tuanya tersebut.
Ternyata di balik peristiwa tertinggalnya cincin tersebut terkuak juga kebenaran dari kekasihnya yang selama ini ia perjuangkan. Alhan bersyukur telah dipersatukan dengan Wafa. Wanita sederhana yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun karena ia tidak pernah menjalin sebuah hubungan seperti pacaran.
Berbeda dengan Alhan ketika ingin mendapatkan pendamping hidup ia berkali-kali berpacaran namun sering pula dikecewakan, ujung-ujungnya karena status sosial dan ekonomi. Sampai Alhan harus menutupi semua kemewahan dan kemapanan yang ia miliki demi meraih cinta sejati. Alhan sangat beruntung mendapatkan Wafa walaupun belum tumbuh rasa cinta namun rasa kasih sayang untuk Wafa sudah mulai menyapa hatinya yang gersang.
Jodoh memang unik dengan perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya tanpa keberatan Alhan menerima keputusan mereka. Tidak ada orang tua yang akan menggelincirkan anak-anaknya dalam berumah tangga.
Dengan pilihan orang tua Alhan mereka hanya ingin kebahagiaan anaknya tidak hanya kebahagiaan dunia yang nantinya bisa diraih, namun kebahagiaan akhirat pun bisa ia genggam.
Wafa tersenyum melihat suaminya yang memandangnya dengan intens.
"Kenapa mas?" Agak grogi ketika Alhan menatapnya terus.
"Mas ..itu ada tamu yang mau bersalaman." Wafa menyenggol lengan Alhan. Suaminya itu tersenyum. Mereka masih menerima tamu di singgasana pengantin. Berkali-kali mereka mengabadikan momen kebahagiaan itu dengan mendokumentasikannya dengan berfoto dan mengabadikannya dengan video.
Hampir semua orang yang di undang bisa datang untuk mendoakan kebahagiaan mereka.
Rasya menghampiri sahabatnya itu setelah menerima telepon. Sahabat yang sudah berubah status menjadi seorang suami dari orang yang ia cintai, sahabat yang sudah mencuri hati orang yang ia sayang. Ia tidak ingin egois merusak momen kebahagiaan pasangan tersebut walaupun sempat terlintas seharusnya yang berada di singgasana pengantin mendampingi Wafa itu adalah aku Rasya Mahendra. Langsung ia tepis. Harus bisa melepas orang yang sangat dicintai demi kebahagiaannya. Bukankah cinta yang tulus tidak harus memiliki namun membiarkan ia pergi bersama orang yang di cintai.
__ADS_1
"Selamat sekali lagi untuk kalian samawa sampai maut memisahkan kalian. Segera dapat momongan jangan sampai ditunda dan doakan aku juga biar aku secepatnya menyusul kalian di pelaminan"
"Aamiin" Keduanya mengamini doa tulus yang disampaikan Rasya.
"Aku ngga bisa lama di sini, tadi aku terima telepon untuk segera datang ke rumah sakit karena ada pasien yang SC malam ini. Oiya aku bawa kado spesial untuk kalian, sudah aku titipkan sama Resa." Alhan dan Wafa saling pandang kemudian mereka tersenyum. Mereka berasumsi Rasya dan Resa sudah mulai dekat.
"Kak aku rasa kakak sudah menemukan penggantiku. Aku harap kakak mampu memperjuangkan cinta kakak dan kurasa gayung akan bersambut, iya kan mas?" Wafa minta persetujuan suaminya. Alhan hanya mengangguk. Rasya sendiri kurang paham dengan apa yang dibicarakan Wafa yang jelas sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu menggantikan seorang Wafa di hatinya.
Resa menunggu di halaman parkir di samping mobil Rasya.
Entah mengapa ia tidak rela Rasya pergi. Walaupun kejadian kemarin membuat hatinya dongkol karena ucapan yang tidak bisa difilter diucapkan Rasya di depan banyak orang.
"Kamu? Kamu sedang apa di sini?" Rasya kaget karena melihat Resa tengah berdiri di samping kemudi mobilnya.
"Kalau gitu minggir aku mau masuk." Namun dihalangi Resa
"Lah ini kan mobil tanteku" kilahnya.
"Sembarangan ini mobilku, lihat plat nomornya. Ayo cepat minggir aku buru-buru harus segera balik." Namun tidak ada respon dari Resa. Resa tetap berdiri.
"Resa please aku mau pulang. Kamu ada masalah denganku? Oh ya aku ingat pasti masalah peristiwa kemarin. Aku minta maaf aku engga bermaksud membuat kamu sakit hati atau kecewa. Tapi ya aku pikir kita sudah impas kemarin kamu juga sudah menyiramku dengan jus jeruk. Jadi aku pikir sudah tidak ada masalah lagi, sekarang minggir aku benar-benar sedang terburu-buru." Resa bergeming dengan tatapan sendu. Resa sudah tidak mempermasalahkan peristiwa kemarin setidaknya ia sudah puas dengan menyiram Rasya dengan jus jeruk. Namun yang jadi masalah adalah hatinya. Entahlah perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya. Kenapa ia enggan untuk melepas Rasya. Padahal Rasya bukan siapa-siapa. Atau jangan-jangan?
__ADS_1
"Resa please aku mohon sekali lagi sebelum aku paksa kamu untuk menyingkir dari mobilku. Aku mau masuk dan kamu menghalangi pintu. Jadi aku mohon ya Resa cantik minggir dulu aku mau masuk" Dengan reflek Rasya membimbing Resa untuk menyingkir agak menjauh dari mobilnya. Resa terhenyak degup jantungnya begitu kencang dia berharap Rasya tidak mendengarnya.
"Oiya bajuku ga usah dikembalikan. Biar saja itu untukmu siapa tahu kamu benar-benar kangen." Rasya berlalu sambil tertawa. Resa mengerucutkan bibirnya.Tak terasa matanya mengeluarkan bulir kesedihan seiring kepergian Rasya.
-
Resepsi pernikahan AW (Alhan dan Wafa) hanya berlangsung sampai pukul 16.00 Wib. Berangsur-angsur tempat itu menjadi sepi. Hanya keluarga dan panitia yang masih stay.
"Han setelah ini kalian ke rumah bunda dulu ya. Bunda masih ingin bersama mantu bunda. Pokoknya sudah seminggu di rumah bunda silakan kalian mau pilih tinggal di mana, bebas. Yang penting jarak rumah dengan tempat kerja bisa terjangkau"
"Iya bunda nanti Alhan diskusikan dengan Wafa. Sementara kami tinggal bersama bunda dulu. Karena malam ini Han juga harus isi pelatihan di Anyer jadi Han titip Wafa ke bunda"
"Loh kamu ga cuti, Kamu kan baru menikah masa mau langsung kerja sih?"
"Ga bisa cuti Bun, karena ga ada yang menggantikan Alhan. Materi yang akan disampaikan itu spesial hanya Alhan yang pegang. Alhan harus melaksanakan tugas ini walupun harus meninggalkan istriku." Bunda Rianti hanya menghela nafas dalam. Ia mengerti posisi anaknya. Anaknya kerap menjadi pembicara dalam setiap pelatihan pendidikan. ia jelas tidak bisa melarangnya.
"Wafa tahu kalau kamu mau pergi?"
"Belum Bun, Nanti malam saja sekalian berangkat"
Rianti merasa kasihan pada anak dan menantunya seharusnya malam nanti adalah malam pertama buat mereka, malam kebahagiaan buat pasangan pengantin baru namun karena sebuah tugas negara mau tidak mau harus dilaksanakan walaupun harus mempertaruhkan kebahagiaannya.
__ADS_1
-
-