CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 33 Kedatangan Herdi


__ADS_3

Sebelum ke rumah Nurmala, Herdi menyempatkan diri untuk pergi ke toko kue & roti. Ia memilih kue donat dan bolen coklat keju kesukaan calon mertuanya. Herdi selalu seperti itu kalau bertamu ke rumah siapapun pasti ada buah tangan yang ia bawa apalagi ini bertandang ke rumah kekasihnya dan akan berhadapan langsung dengan calon mertuanya.


Senyum mengembang selalu terbit di wajah yang rupawan. Ia ingin segera bertemu dengan kekasih hatinya yang tampak lebih cantik saat mengandung.


Setelah memarkirkan mobilnya ia merapikan rambut dan baju yang dikenakannya. Tampak sempurna. Kemudian ia keluar dari mobil dengan hati yang deg....deg.... degan. Pasalnya ia pun ingin mengungkapkan keseriusannya hidup bersama Nurmala pada calon mertuanya. Walaupun terus terang Herdi belum membicarakan keinginannya untuk menikahi Nurmala dalam waktu dekat dengan orang tuanya yang sebelumnya menolak keras Herdi berhubungan dengan Nurmala. Terutama ibunya yang idealis dalam menentukan calon menantunya. Karena ibunya pun sudah menyiapkan calon untuk Herdi yang selevel dan satu keyakinan.


Herdi menghembuskan nafasnya perlahan. Ia mencoba menetralkan hatinya.


"Assalamualaikum" Herdi mengulangnya sampai dua kali, kemudian pintu itu terbuka. Bu Danu sudah berdiri di tengah pintu.


"Walaikumussalam. Masuk" Titahnya dingin. Tidak seperti biasanya Bu Danu seperti itu. Agak kaku itulah yang dirasakan Herdi saat ini.


"Maaf ibu, Nurmalanya ada?"


"Ada. Duduk" Masih mode dingin. Herdi menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Beberapa lama kemudian orang yang menemui Herdi bukanlah Nurmala namun ayah Danu dengan kursi rodanya.


Herdi bingung biasanya Nurmala langsung menemui nya dan orang tuanya hanya memantaunya dari jauh.


Herdi meraih tangan kanan Danu dan menciumnya.


"Apa kabar ayah!"

__ADS_1


"Baik. Kamu bisa lihat sendiri. Hanya aku masih belum kuat untuk berdiri." Ujarnya dingin. Herdi merasa tidak enak perasaan karena sikap calon mertuanya sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Maaf ibu ayah, Nurmalanya mana?"


"Ada di dalam. Dia tidak ayah izinkan untuk menemuimu. Dia sedang ayah hukum"


"Hukum? Tapi kenapa ayah, apa kesalahannya sampai tidak diperbolehkan menemuiku?"


"Kesalahannya hanya satu dia sudah bo*** menyerahkan kesuciannya kepadamu" Herdi terhenyak menelan salivanya dengan susah payah.


"Jadi orang tua Nurmala sudah tahu." Gumamnya dalam hati. Herdi menggigit bibir bawahnya.


"Maaf kan aku ayah. Kami khilaf. Aku datang ke sini pun ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku."


"Maaf ini kesalahanku. Aku yang merayunya agar Nurmala melakukan hal itu karena menurutku dengan cara itulah orang tuaku bisa merestui kami." Herdi menunduk tidak berani menatap ayah Danu. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah izinkan aku menikahi Nurmala. Aku tidak ingin anak itu terlahir tanpa ayah. Aku ayahnya....tolong nikahi kami!" Herdi bersimpuh di bawah kaki ayah Danu. Danu melihat ada kesungguhan dari Herdi untuk bersatu dengan Nurmala. Danu menghembuskan nafasnya dengan pelan ia lebih tenang.


"Bangun!" Titah Danu tegas.


Herdi bangkit sambil mengusap air matanya. Lalu duduk di hadapan Danu.

__ADS_1


"Ayah aku sangat mencintai Nurmala. Aku siap menjadi suaminya. Aku akan tetap berusaha bisa mendapatkan restu dari kedua orang tuaku. Kumohon ayah." Harapnya dengan suara parau.


"Baiklah kamu boleh menikahi putriku" Ada senyuman yang terlintas di wajah Herdi hanya sebentar setelah danu melanjutkan kalimatnya Herdi kembali terlihat sedih.


"Tapi setelah ia melahirkan. Tunggulah delapan bulan lagi. Ayah rasa itu waktu yang cukup untuk kalian introspeksi diri dan menyesali kesalahan kalian. Bertaubatlah. Kalau kamu serius datanglah kembali delapan bulan ke depan. Aku ingin tahu seberapa besar pengorbananmu untuk mendapatkan putriku. Tapi kalau waktunya sudah tiba dan kamu tidak kembali ayah tidak segan-segan untuk menikahi Nurmala dengan orang yang lebih baik dari kamu. Karena Nurmala berhak mendapatkan yang terbaik setelah ia bertobat." Herdi memejamkan matanya. Menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kesalahan fatal bagi pasangan muda sekarang ketika tidak direstui orang tua mereka mengambil jalan yang salah mengambil jalan pintas dengan berzina. Perlu kamu ketahui dalam surat Al-Isra ayat 32 ditegaskan bahwa janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Semoga kalian diampuni Allah." Mata Danu berkaca-kaca.


Satu hal yang terjadi di masyarakat pada umumnya ketika mengetahui anaknya hamil langsung dinikahi, sehingga angka perzinahan di berbagai kota semakin meningkat karena mereka berargumen pasti akan menikah setelah melakukan perbuatan maksiat tersebut. Kalau hal ini terjadi tidak menutup kemungkinan permasalahan tidak akan pernah selesai. Dan semoga keputusan ayah Danu tidak salah.


"Tapi ayah bagaimana nasib dengan anak kami. Aku tidak ingin ia lahir tanpa ayah." Danu menatap Herdi dengan tajam. Tertawa sinis.


"Anak? Kenapa kamu baru menanyakan hal ini kenapa kamu tidak berpikir jauh tentang ini sebelumnya? Perlu kamu ketahui juga anak yang terlahir tanpa ikatan pernikahan tetap tidak mempunyai hubungan nasab dengan ayahnya. Ia hanya dinasabkan dengan ibu yang melahirkannya. Jadi sah-sah saja kamu mengakui bahwa anak itu adalah anakmu namun secara perdata kamu tidak memiliki nasab dengan anak itu. Anak di luar pernikahan hanya boleh memakai binti ibu di belakang namanya dan tidak berhak memakai bin ayah selama-lamanya."


Herdi menggeleng- gelengkan kepalanya sungguh ia baru tahu hal ini. Ia menangis. Ia merasa sudah membuat anaknya menderita, walaupun ia ayahnya namun di dokumen negara namanya tidak bisa tercantum karena tidak bernasab. Ini ditegaskan dalam undang-undang No. 1 tahun 1974 pasal 43 ayat 1 tentang perkawinan menjelaskan bahwa anak di luar perkawinan tidak mempunyai hubungan nasab dengan ayahnya. Lebih lanjut menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibu. Jika yang terlahir adalah anak perempuan maka yang akan menjadi wali nikah adalah wali hakim.


Herdi masih tergugu di tempatnya. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Baiklah ayah aku akan terima keputusan ayah, aku akan menunggu delapan bulan. Aku akan kembali tapi tolong izinkan aku bertanggung jawab dengan memberi dana untuk anakku sampai ia lahir. Aku ingin anakku lahir sehat dengan selamat."


"Itu hakmu silakan ayah tidak melarangnya dengan catatan kamu tetap tidak diizinkan untuk bertemu"

__ADS_1


"Ayah ajarkan aku untuk bertobat!" Pinta Herdi memohon dengan tulus dan ikhlas.


__ADS_2