CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 39 Meninggalkan Malam Pertama


__ADS_3

Dengan berat hati Wafa melepaskan kepergian nenek dan keluarganya. Hanya kakek dan nenek dari pihak almarhum ayahnya yang tidak bisa menghadiri hari spesialnya karena saat ini kakek sedang sakit.


Keluarga Dr. Ibrahim tiba di kediamannya sore hari. Mereka memasuki rumah yang cukup megah. Dengan taman yang luas dipenuhi aneka tanaman warna - warni dan beberapa pohon terlihat begitu asri dan mendamaikan.


Alhan mengajak Wafa ke kamarnya sambil membawa koper milik Wafa.


Tidak pernah terlintas sedikitpun dipikiran Wafa kalau ia akan masuk ke dalam kamar suaminya itu.


Kamar yang begitu luas dengan kasur king size, lemari pakaian 4 pintu, meja kerja, dispenser air, televisi, sofa, cermin besar yang tertata begitu rapih dan bersih. Di dalam ruangan itu pun ada kamar mandi. Wafa begitu takjub melihat suasana kamar yang begitu adem dan enak dilihat membuat betah penghuninya berlama-lama di ruangan tersebut.


Ia mengamati foto-foto yang terpampang di dinding kamar. Wafa bergeming ketika melihat foto yang berada di atas meja kerja Alhan. Foto di mana Alhan sedang bersama seorang wanita yang pernah ia kenal sebelumnya. Ya foto Alhan bersama Nurmala, dalam foto tersebut terlihat kebahagiaan yang terpancar di wajah keduanya.


"Fa ini aku bawakan kue untukmu" Alhan masuk tanpa permisi karena merasa itu adalah kamarnya. Wafa tersentak buru-buru ia simpan foto itu di tempat semula. Rasanya sakit. Namun ia berusaha untuk tersenyum. Wafa membiarkan foto itu ada di atas meja. Biarlah....biarlah biar tahu sampai berapa lama Alhan akan membiarkan foto itu bertengger di atas meja.


"Kok belum ganti baju? Kamu kesulitan untuk membukanya, sini aku bantu." Alhan mendekat yang membuat hati Wafa dug....dug....seeer.


"Eh ga usah. Biar sendiri saja. Aku...aku ke kamar mandi dulu ya!" Wafa gugup sambil menepis tangan Alhan yang hampir menyentuh bahunya.


"Ya sudah aku tunggu di sini. Ga pake lama ya, aku ingin kau menemaniku makan kue." Pinta Alhan lembut. Ia mengambil laptop yang ada di atas meja kerjanya. Lalu ia meletakkan laptopnya di atas meja sofa. Alhan menyeruput kopi yang ia buat tadi. Kalau hanya sekedar membuat kopi, Alhan bisa melakukannya sendiri apalagi kalau ia tidak sibuk.


Cukup lama Alhan menunggu Wafa yang berada di dalam kamar mandi, sehingga mata Alhan tak bisa dikompromi lagi akhirnya Alhan tertidur di atas sofa dalam posisi duduk. Sedangkan laptopnya masih dalam keadaan menyala.


Wafa keluar dari kamar mandi dalam keadaan rapih. Ia mendekati Alhan yang masih tertidur. Diamatinya wajah suaminya itu dengan penuh kebahagiaan. Akhirnya ia bisa mendapatkan Alhan, perasaan cinta bersemayam sejak pertama kali ia dijodohkan. Walaupun sejak awal pertemuan Alhan menunjukkan sikap tidak suka padanya bahkan sampai membencinya, terkait masalah cincin yang sampai sekarang masih terselip di jari manis sebelah kanan.

__ADS_1


Wafa tersenyum sendiri sambil menatap cincin yang membawa keberkahan dalam hidupnya sehingga hadir pemilik cincin yang menjadi pasangan dalam pernikahannya. Namun ia kembali bersedih begitu tahu suaminya masih menyimpan foto mantan, entah di sengaja atau tidak hal itu membuat hatinya menjadi sakit.


Ia menatap foto dari sofa tempat ia duduk. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Ia menyadari Alhan belum sepenuhnya melupakan Nurmala. Ia pun sadar diri jika Alhan belum bisa mencintainya walaupun pada kenyataannya perhatian dan kebaikan hati Alhan yang meningkat sembilan puluh derajat mampu memberikan kedamaian dalam hatinya.


"Ah maaf aku ketiduran, jam berapa ini?" Alhan mengusap wajahnya pelan.


"Baru jam setengah enam sore. Sebaiknya tidak usah tidur lagi mas, tidur sore tidak dianjurkan untuk kesehatanmu. Oiya katamu ingin ditemani makan kue? Aku temani ya!" Ucap Wafa pelan. Kue - kue yang dibawa Alhan dari dapur dengan cepat dihabiskan oleh meraka berdua tanpa bersuara.


Selepas magrib Alhan mengeluarkan baju ganti dari lemari sebagai persiapan kepergiannya ke Anyer selama dua hari.


"Mas mau kemana, memasukkan pakaian ke dalam tas, mau pergi?" Wafa mendekat setelah ia membaca ayat suci Alquran. Ia masih mengenakan mukenanya.


"Iya sayang aku mau pergi malam ini. Insyaallah Minggu sore baru pulang. Aku ada pelatihan di Anyer dan aku sebagai pembicaranya sekaligus panitia inti di sana. Maaf ya aku tidak bisa mengajakmu untuk ikut."


"Kenapa mendadak sekali mas?"


"Sebenarnya tidak mendadak, informasinya seminggu sebelum pernikahan kita."


"Kenapa kau ambil, mas? Mas kan tahu kita itu baru nikah masa malam pertama kita kau malah pergi?" Wafa mendadak kecewa dengan keputusan Alhan untuk pergi ke Anyer di malam pertamanya.


Alhan tertawa renyah.


"Sini duduk dekat mas!" Alhan menepuk kasur.

__ADS_1


Wafa mendekat sambil melipat mukenanya.


"Aku tahu kamu kecewa karena ini malam pertama kita. Tapi bagaimana lagi. Ini tugas negara yang tidak bisa ditolak karena surat tugas sudah aku terima dan memang di dalam surat tugas itu tercantum namaku. Aku ingin kamu mengerti. Atau kamu ikut saja? nanti akan aku perkenalkan istriku di hadapan seluruh peserta dan panitia di sana."


"Tidak perlu mas. Lagi pula aku masih capek. Selama cuti aku hanya ingin di rumah saja. Kalau kau mau pergi pergi lah. Aku memang harus terbiasa ditinggal-tinggal."


"Terima kasih ya atas pengertiannya." Alhan memeluk Wafa dari samping.


Deg


Deg


Deg


Ini pertama kalinya bagi Wafa dipeluk seorang laki-laki dan itu suaminya hanya suaminya yang berhak atas tubuhnya. Alhan adalah orang pertama yang berhasil menempati ruang dalam hatinya.


Sebelum pergi Alhan menyempatkan diri mengajak istrinya untuk makan bersama di bawah. Alhan turun dengan menggendong tas. Kemudian ia menyampirkan jas almamater berwarna hijau daun di pergelangan tangannya.


"Oalah penganten baru turun. Sini kita makan bareng ya!" Seru bunda tatkala melihat pasangan pengantin yang berjalan menuruni tangga.


Hanya bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ketika harus melepas orang yang kita dicintai pergi di momen penting mereka. Memang tidak jauh namun kepergian seseorang yang baru saja mencicipi manisnya cinta membuat hatinya luka.


"Hey kenapa nangis? Hanya dua hari kok Minggu sore pulang. Begitu aku pulang kamu siap - siap saja aku akan mengurungmu berhari-hari." Ujar Alhan berbisik sambil membawa Wafa dalam pelukan. Ia mengecup kening istrinya begitu dalam. Wafa meraih tangan suaminya mencium dengan takzim.

__ADS_1


Alhan pun pergi meninggalkan Wafa dan orang tuanya menuju tempat di mana pelatihan pendidikan akan dimulai. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lalu lalang kendaraan begitu normal tanpa hambatan tanpa kemacetan. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.


__ADS_2