
Nurmala menangis namun tangisan itu tak terlihat dan tak terdengar oleh Alhan. Karena deburan ombak dan suara angin yang mulai menyapa dengan beringas.
"Nur kembalilah ke villa! Ini sudah malam. Udara di pantai sangat dingin" Angin meniup sangat kencang, suara petir membahana di setiap penjuru langit.
Alhan menyadari hanya mereka berdua yang berada di tempat itu. Nurmala hanya bergeming. Alhan kesal ditariknya Nurmala secara paksa karena sesuatu seperti akan terjadi malam itu.
Dan benar saja hujan turun disertai angin kencang. Mereka hanya bisa berteduh di sebuah saung. Mereka terjebak di dalamnya. Hujan sangat lebat suara petir bertalu-talu badai pun datang.
"Nur kita harus segera pergi dari sini!"
"Tapi pak hujannya sangat deras sekali. Baju kita pasti akan kuyup. Pak....pak ...lihat ombak semakin pasang!" Ada rasa takut menjalar di hati Nurmala. Alhan bergeming sesaat.
Melihat keadaan air laut lama kelamaan semakin pasang, air pun sudah menghampiri sampai semata kaki, Alhan memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
Nurmala pun dengan terpaksa mengikuti langkah Alhan yang begitu cepat.
Semakin lama semakin bertambah ketinggian air yang melanda kawasan tersebut. Hampir saja....hampir sampai villa yang Alhan tempati namun Nurmala berhenti menahan kram perut yang hebat, sakit terasa sangat sakit.
Banyak orang berlarian untuk masuk ke villa masing-masing namun sepertinya air laut semakin deras mengikuti keberadaaan mereka.
Banjir.....ya banjir. Air laut pasang, badai bertambah kencang sehingga memporak- porandakan saung yang tadi mereka tempati.
Para peserta berlari menyelamatkan diri untuk keluar dari hotel. Banyak orang yang sudah membawa perlengkapan miliknya langsung berhambur keluar dari villa walaupun pakaian mereka akan basah.
"Tsunami..... tsunami ayo keluar, selamatkan diri kalian masing-masing!" Suara salah satu panitia lantang.
__ADS_1
Alhan menengok ke belakang, pakaiannya sudah kuyup. Ia melihat Nurmala jatuh tak sadarkan diri. Wajahnya pucat.
Ia meminta pertolongan pada orang - orang berlalu lalang yang sibuk menyelamatkan diri. Banyak yang tidak mau menolong karena mereka takut akan bahaya yang sedang mengintainya.
"Pak....pak....tolong pak ini ada yang pingsan!" Alhan tidak tega membiarkan Nurmala dalam keadaan pingsan. Ia berteriak meminta tolong pada siapa pun yang mendengarnya.
"Nur ..Nur... bangun. Ya Allah Nur kenapa kamu jadi pingsan begini? Nur bangun! Pak ..pak tolong bantu angkat perempuan ini!" Alhan memanggil salah seorang yang melewatinya, melihat Nurmala yang terendam air seorang peserta yang melihatnya merasa kasihan beruntung bapak tersebut bersedia menolong. Satu orang lagi turut membantu sehingga Nurmala dibopong oleh dua orang.
"Tolong masukkan ke dalam mobil saya, pak. Kalau bapak-bapak mau ikut segera naik pak! Saya mau membawanya ke rumah sakit terdekat." Alhan segera masuk mobil bagian pengemudi, sementara di sampingnya duduk salah satu bapak yang tadi menolong Nurmala sementara bapak yang satu lagi duduk di bagian belakang.
Nurmala dibaringkan di bagian tengah ditemani seorang perempuan yang tiba-tiba minta ikut naik ke mobil Alhan karena ia tidak mau terjebak banjir yang lama kelamaan air semakin tinggi dan deras. Seolah air mengikuti mobil Alhan sehingga Alhan dengan gesit melajukan mobilnya meninggalkan hotel.
Orang-orang yang berada di dalam mobil Alhan tidak ada satu pun yang membawa barang. Hanya diri mereka yang diselamatkan dan hp sebagai alat hubung untuk memberitahukan keluarganya.
Di perjalanan tidak semulus yang dibayangkan tidak sedikit pohon yang tumbang sehingga perjalanan menuju rumah sakit agak sedikit terhambat.
-
-
Nurmala masih terbaring di ruang perawatan. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian rumah sakit karena pakaian yang ia kenakan semalam basah kuyup.
Sementara pakaian yang Alhan kenakan kering di badan. Alhan merasa tidak tenang sebelum mengetahui keadaan Nurmala yang sebenarnya. Alhan sengaja menunggu Nurmala siuman, ia tidak tega meninggalkan Nurmala dengan keadaan seperti itu, Alhan pun rela menemani Nurmala karena hanya Alhan yang mengenalnya. Alhan masih punya rasa empati apalagi Nurmala seorang perempuan tentunya sangat membutuhkan orang terdekat saat dia sedang tidak berdaya.
Pagi-pagi dokter dan perawat mendatangi kamar perawatan Nurmala. Saat itu Alhan sedang sarapan bubur ayam yang tadi ia beli selepas subuh. Alhan segera menuntaskan sarapannya.
__ADS_1
Ia memperhatikan pemeriksaaan tersebut dengan seksama. Ada rasa iba mengguyur hatinya.Walau bagaimana pun Nurmala pernah mengisi ruang hatinya selama dua tahun. Saat itu dia pun tidak pernah menuntut untuk dipenuhi keinginannya, Alhan pun mengambil kesimpulan kalau Nurmala memang seorang wanita yang pengertian dan dianggap orang yang mau menerima Alhan apa adanya. Itulah sebabnya keinginan Alhan melegalkan statusnya sangat besar pada Nurmala. Itu sudah berlalu seandainya Nurmala merupakan sosok wanita setia tentu perpisahan tidak akan pernah terjadi. Sebenarnya Alhan salut padanya, dengan kejujuran Nurmala Alhan jadi tahu Kebenaran yang terjadi pada hubungan yang mereka bina.
"Bagaimana keadaan teman saya, dok?"
"Teman?" Alhan mengangguk.
"Oh maaf saya pikir Anda suaminya ibu ini." Alhan tersenyum terpaksa.
"Bukan dok, saya bukan suaminya. Saya hanya seorang teman yang tadi menolongnya karena ia pingsan di jalan saat banjir."
"Ooh kalau begitu nanti sampaikan pada suaminya. Bu Nurmala sudah melewati masa kritisnya. Untung saja semalam Anda langsung membawanya kemari. Kalau tidak kandungannya tidak bisa diselamatkan."
"Kandungan? Memang dia hamil dok?" Alhan shock ternyata orang yang berada di kliniknya sebulan yang lalu itu benar Nurmala, dengan suaminya.
"Untung dia kuat dengan kehamilannya yang berumur 6 bulan ia mampu melewati kram di perutnya. Sekarang ia masih tidur mohon jangan diganggu dulu. Karena ia membutuhkan banyak istirahat. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi saya permisi pak!" Alhan semakin dibuat shock dengan informasi yang dokter berikan. Umur kehamilan Nurmala sudah 6 bulan itu artinya 4 bulan sebelum perpisahan Nurmala sudah berbadan dua. Alhan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Mata Alhan memperhatikan Nurmala yang masih terpejam. 10 menit kemudian mata Nurmala terbuka perlahan. Netranya menyapu ruangan didapati Alhan dengan wajah datarnya. Sebelum mereka memulai percakapan seorang perawat datang dengan membawa resep yang harus ditebus sekaligus sisa pembayaran yang harus dilunasi.
"Hubungi saja suaminya, Sus. Saya hanya bisa sebatas mengantar dan memastikan keadaannya saja." Alhan melengos. Suster kemudian berbicara pada Nurmala
"Baik kalau begitu tolong ibu sampaikan ke suami ibu untuk melunasi pembayaran sebelum pulang." Nurmala bingung dengan keadaannya.
Alhan sudah bersiap untuk pergi.
"Kumohon Han kamu jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri" Pinta Nurmala dengan sangat.
__ADS_1
Apakah Alhan akan menuruti kemauan Nurmala?