CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 27 Lamaran Alhanan


__ADS_3

Rianti sangat antusias menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk acara lamaran Wafa besok. Dia senang akhirnya Alhan dapat menuruti keinginan Rianti.


Tampak di rumah itu sudah ada Rasya yang siap untuk mendampingi sahabat terbaiknya. Karena ini termasuk momen yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Sedangkan Alhan merasa sudah salah mengambil keputusan. Kalau Rasya tahu gadis yang akan ia lamar adalah orang yang sama apa yang akan terjadi? Sungguh ia tidak ingin Rasya terluka dan persahabatan mereka rusak karena seorang gadis. Kalau saja bukan keinginan bunda tentunya ia akan dengan tegas menolak Wafa untuk menjadi istrinya.


"Hai kok melamun? Harusnya kamu senang dong mau nikah juga. Kok ini kelihatannya bete banget sih. Ada apa?" Rasya meninju bahu Alhan dengan pelan. Lantas ia duduk berhadapan.


"Aku bimbang dengan keputusan melamar gadis itu. Apalagi bunda menginginkan proses pernikahan sebulan lagi dilaksanakan."


"Alhamdulillah atuh, niat baik itu harus disegerakan apalagi sudah ada pasangannya."


"Kalau menikah dengan orang yang kita cintai itu ga masalah. Seandainya aku menikah dengan Nurmala aku sangat bahagia. Tapi sayang bunda tidak merestui hubungan kami. Akhirnya hubungan kami kandas. Nurmala lebih memilih orang lain untuk menjadi suaminya. Dan sepertinya mereka sudah menikah."


"Jadi kamu mau melamar siapa kalau bukan Nurmala?"Rasya bingung karena yang ia tahu Alhan memiliki hubungan dengan Nurmala. Dan yang Rasya tahu Alhan termasuk laki-laki setia pada pasangannya.


"Dia pilihan bunda."


"Jadi kamu dijodohkan?" Alhan mengangguk. Rasya menatap Alhan tak percaya, mereka diam beberapa saat.


"Han aku rasa bunda mu sangat peduli padamu sehingga ia sampai memilihkan calon pendamping yang istimewa. Aku yakin bunda memberikan yang terbaik untukmu. Ingat satu hal sesuatu yang dianggap baik menurut kita belum tentu dihadapan Allah itu baik. Sementara sesuatu yang kita anggap buruk ternyata itu sesuatu yang sangat membahagiakan. Aku yakin dia jodoh kamu, kamu harus ikhlas menerimanya." Rasya dengan bijak memberi nasihat kepada sahabatnya itu. Selalu seperti itu Rasya memberikan solusi dan nasihat setiap kali Alhan mendapat kesulitan ataupun permasalahan. Rasya tidak peduli tentang dirinya yang sedang patah hati karena ditolak Wafa. Ia bisa bersikap dan melihat situasi.


Alhan menatap sahabatnya dengan rasa bersalah, ingin ia ungkapkan dengan siapa dia akan menikah namun ia urungkan khawatir ia akan merusak pengorbanan bunda yang berusaha untuk menyatukannya dengan Wafa .


"Emmmh bagaimana hubunganmu dengan Wafa, katanya kemarin kamu mau melamarnya?" Dengan begitu Alhan akan tahu keputusan yang akan diambil oleh Wafa. Rasya tersenyum kecut. Ia menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Kemarin bukanlah yang pertama aku melamarnya. Namun anehnya aku ga gentar. Karena sebelumnya dia bilang belum siap menikah. Eeeh giliran sudah siap menikah dia milih orang lain yang akan menjadi calon suaminya. Miris bukan? Ck ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. Coba menurut kamu apa kurangnya aku?"


"Kalau menurut ku kamu laki-laki sempurna. Hanya orang bodoh yang tidak mau menerimamu?"


"Dia juga bilang begitu aku terlalu sempurna di matanya. Namun ia mencintai laki-laki lain." Alhan terhenyak tidak pernah menyangka Wafa selama ini mencintai laki-laki lain,


"Apakah laki-laki itu aku? Apa mungkin Wafa mencintaiku? Sejak kapan?" Alhan bergumam dalam hati


Rasya menunduk sedih.


" Kamu tidak berhenti untuk berjuang mendapatkannya kan?"


"Sepertinya aku harus menyerah sampai di sini. Karena aku ingin ia bahagia. Bukankah mencintai tidak harus memiliki? Aku mencoba untuk bisa ikhlas menerima ketentuan dari-Nya. Berarti kami tidak berjodoh. Kamu tahu Han, dia selama ini hanya menganggapku sebagai seorang kakak tidak lebih. Jadi kalau ada orang yang menyakitinya terutama suaminya kelak maka itu akan berurusan dengan ku." Jelas Rasya begitu tulus. Dia terlihat ikhlas melepas Wafa untuk orang lain. Tapi kenapa Alhan sulit sekali ikhlas melepaskan Nurmala untuk orang lain? Ah kamu terbuat dari apa hatimu Rasya? Benar Wafa bodoh tidak menerima lamaranmu.


-


-


Keesokan harinya Wafa terlihat begitu cantik dengan balutan gamis berwarna hijau daun senada dengan hijab yang ia kenakan. Polesan makeup yang sederhana menambah kecantikan yang natural.


"Duuh yang mau dilamar, cantik banget loh!" Resa menatap takjub kakak sepupunya. Wafa tersenyum bahagia. Dia tidak pernah bermimpi akan dilamar oleh seorang Alhan yang jutek kalau bertemu. Dia mengingat pertemuan tak disengaja di sebuah mall di depan toko perhiasan. Wafa terlihat senyum - senyum sendiri tidak jelas.


"Aih benar kata orang ya, kalau cinta bikin orang menjadi gila. Seperti kakakku yang satu ini. Senyum-senyum sendiri benar-benar ga jelas " Resa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Tok....tok.....tok


Pintu terbuka tampak ibunya Resa, Tante Rosa berjalan sambil memberitahu kalau tamu sudah datang. Degup jantung Wafa berdetak begitu cepat. Cukup banyak tamu yang datang saat ini. Wafa turun dari lantai atas dengan menunduk.


Tampak rombongan sudah duduk di kursi yang sudah disediakan.


Alhan duduk di tengah, sebelah kanan bunda Rianti dan sebelah kiri ayah Ibrahim. Sementara Rasya duduk di sebelah bunda Rianti. Rasya terhenyak ketika melihat Wafa yang sedang berjalan menghampiri kursi yang tidak jauh dengan dirinya. Dia masih bertanya-tanya melihat Wafa berada di rumah tersebut yang hadir di tengah-tengah acara.


Dr. Ibrahim memulai acara lamaran dengan mengutarakan maksud kedatangan keluarganya untuk melamar Wafa Zahira untuk putranya Alhanan Farabi. Wafa masih menunduk tidak menyadari kehadiran Rasya yang sedang terluka menyaksikan lamaran sahabatnya.


Setelah Dr. Ibrahim menyampaikan maksud dan tujuannya Om Dirga menyambutnya sebagai perwakilan dari keluarga Wafa.


"Wafa adalah keponakan kami satu-satunya, orang tuanya sebelum meninggal sudah menitipkan kepada kami untuk menjaganya. Maka jika nak Alhan mau menjadikan Wafa sebagai istri kami mohon jaga lah dengan baik bahagiakan ia. Jangan pernah menyakitinya kalau itu terjadi lebih baik pulangkan pada kami dengan cara yang baik tanpa menyakitinya. Untuk lebih lanjut kesediaan Wafa atas lamaran ini maka sebaiknya kita tanyakan pada kedua pasangan yang akan menjalani kehidupan rumah tangga yang panjang." Dr. Ibrahim mengangguk setuju.


"Bagaimana nak Wafa apakah menerima lamaran anak kami Alhanan Farabi untuk menjadi suamimu?" Tanya dr. Ibrahim. Wafa masih menunduk dalam diam. Nenek Meliana mengusap lembut punggung tangan Wafa, untuk memberi ketenangan jiwa.


Deg


Deg


Deg


Alhan bergeming ketika mendapat jawaban dari Wafa. Ucapan doa dari tamu yang hadir membuat dirinya merasa bersalah telah menikung Rasya dari belakang, apalagi ketika Rasya izin pergi untuk ke toilet. Perasaan bersalahnya semakin membuncah.

__ADS_1


"Maafkan aku Rasya" Gumamnya dalam hati.


__ADS_2