
Nurmala berdiri dekat jendela dengan menyilangkan kedua tangannya. Tubuhnya bersandar menyamping di jendela kamarnya. Menatap nanar pemandangan yang ada di luar sana. Masih ada air mata yang tersisa di pelupuk matanya. Sampai ibunya masuk ke dalam kamar namun Nurmala bergeming ia masih berdiri sambil melamun. Ibunya menyentuh bahu anaknya dengan lembut. Menoleh sebentar lalu netranya kembali memandang arah luar rumah melalui balik jendela kamarnya.
Ibunya begitu memahami kondisi putrinya saat ini. Rapuh. Walaupun kekecewaan terhadap putrinya masih ada dalam hatinya namun ia memaafkan dengan melihat penyesalan yang sudah putrinya lakukan dengan bertaubat di sepertiga malam. Karena memang manusia selalu mempunyai kesalahan baik sengaja maupun tidak disengaja.
Air mata yang hampir saja habis membuat mata Nurmala menjadi sembab. Ibunya meletakkan sesuatu bungkusan di atas kasur.
"Ini titipan dari Tante Hera. Ia berharap kamu benar-benar bertaubat salah satunya dengan mengubah penampilanmu dengan menutupi tubuhmu dengan hijab." Ibunya mendekat lalu menatap lekat putrinya itu.
__ADS_1
Mata Nurmala menatap bungkusan yang diletakkan ibunya di atas kasur. Keluarga Nurmala memang keluarga yang cukup mengerti agama. Hampir semua perempuan di keluarganya sudah berhijab. Hanya Nurmala yang belum mau mengenakannya lantaran belum ada kesiapan untuk mengubah penampilannya. Matanya kembali menelisik barang yang dibawa ibunya. Ia mendekat dan meraih bungkusan tersebut. Dia menatap ibunya sesaat dibalas dengan anggukan kecil.
"bukalah lalu kenakan ditubuhmu!" Titahnya.
Sebelum perut membesar, Nurmala harus mau merubah penampilan untuk bisa menutupi aib yang pernah ia lakukan.
Nurmala tertegun, cairan bening dari pelupuk matanya lolos begitu saja. Ia memejamkan matanya sambil memeluk gamis dan hijab pemberian tantenya. Teringat ucapan Alhan yang sangat ingin ia berubah namun ia abaikan begitu saja. Ia lebih memilih Herdi yang membuat hidupnya menjadi tercabik-cabik. Bukan kerena ia tidak mau bertanggung jawab namun hanya waktulah yang akan menjawab kembalinya Herdi dalam pelukannya dan menjadi satu-satunya pemilik hatinya.
__ADS_1
Nurmala mencoba mengenakan pakaian itu, memang tidak seksi lagi namun mampu untuk membungkus seluruh tubuh dengan rapih sehingga tidak ada kekhawatiran kemungkaran akan menyentilnya kembali. Nurmala mematung di depan cermin, ia tak percaya setelah melihat penampilannya. Cantik ya sangat cantik. Pipinya yang mulai tembem dan tubuhnya yang mulai berisi membuat ia menggemaskan. Senyumannya mengembang seketika yang membuat percaya dirinya tumbuh. Ia harus bangkit. Ia harus berubah dan bertekad yakin Allah akan membantunya.
Ia pun segera pergi memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dengan jiwa yang tenang Nurmala ingin memperbanyak pakaian gamis dan pakaian kerja untuk menutupi auratnya. Ia akan menjalaninya sendiri, ia bersyukur masih di kelilingi orang-orang baik. Alhamdulillah.
Dengan mengajak adiknya, Nurmala pergi ke sebuah mall terbesar. Dengan uang yang dimiliki ia ingin memperbanyak pakaian muslim, sekarang hatinya lebih mantap. Semoga bisa istiqomah. Adiknya mendukung perubahan pada kakaknya.
Begitu banyak pilihan gamis sehingga Nurmala menjadi bingung untuk menentukannya. Ia meminta pendapat adiknya. Setelah ia berkeliling ia teringat sesuatu benda yang akan menolongnya saat perutnya tambah membesar nanti. Ya Nurmala harus mendapatkan benda itu. Seketika mata Nurmala melihat benda yang ia cari. Syukurlah semuanya dipermudah. Akhirnya ia mendapatkan Belly band sebuah benda yang akan ia kenakan jika saatnya tiba.
__ADS_1
(Belly band merupakan benda berbentuk seperti sabuk yang berfungsi untuk menopang atau menyangga perut dan punggung bagian bawah saat masa kehamilan. Alat ini terbuat dari kain mirip korset yang dirancang dapat menyerap keringat).