CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 76 Laki-laki Misterius


__ADS_3

Nurmala menggigit bibir bawahnya sambil mendesis menahan rasa sakit pada dadanya yang bengkak. Ia masih duduk di samping Herdi yang dengan lantang mengucapkan ijab kobul. Alhamdulillah diberi kemudahan dan kelancaran prosesi akad nikah Nurmala dan Herdi. Kebahagiaan jelas tergambar di raut wajah Herdi. Berbeda dengan Nurmala, wajahnya pucat karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Kalau saja pompa ASInya tidak ketinggalan di rumah Herdi tentu rasa sakit itu bisa berkurang karena bisa dikeluarkan walaupun tidak semua, setidaknya akan mengurangi rasa tersebut.


Rasa gelisah tak menentu karena efek nyeri di dadanya menyeruak begitu saja. Ia berpamitan pada Herdi untuk segera masuk kamar saja, karena sudah tidak tahan lagi.


"Mas aku ke kamar duluan...." Tanpa persetujuan Herdi, Nurmala langsung meninggalkan tempat acara menuju kamarnya. Bagi Herdi sikap Nurmala terasa aneh. Baru saja melangsungkan akad nikah Nurmala langsung pamit tidak ikut ramah tamah bersama tamu yang hadir, sehingga Herdi kuwalahan manakala banyak yang bertanya keberadaan Nurmala.


Nurmala mengambil air hangat untuk mengompres dadanya. Linangan air mata terus merembes menahan rasa sakit. Ia mencoba memompa secara manual untuk mengeluarkan ASI agar rasa sakitnya reda. Akhirnya Nurmala bisa tertidur pulas.


Herdi membuka pintu kamar Nurmala dengan pelan. Rasa rindu pada anaknya begitu terasa saat tak mendengar tangisannya. Ia hanya memandang ibunya yang sedang tertidur pulas. tampak kelelahan. Di atas nakas sudah ada dua botol susu ukuran sedang, penuh semua. Apakah itu? Herdi meraih salah satu botol tersebut, ia menelisik botol yang masih hangat dan meletakkan kembali ke tempat semula. Setelah ia menyadari dan paham akhirnya Ia membawa botol-botol tersebut ke dapur dan menyimpannya ke dalam freezer lemari es.


Selepas sholat subuh Herdi mengajak Nurmala untuk pulang ke rumahnya. Ia paham istrinya pun tidak bisa berlama-lama jauh dengan Panji. Setelah semuanya dipacking dan masuk ke dalam koper termasuk buku nikah sebagai persyaratan yang diminta RT setempat, mereka pun pamit pada kedua orang tua Nurmala.


Nurmala sebenarnya masih merindukan kedua orang tua yang baru pulang kemarin karena terpaksa. Padahal acara di kampung halaman ibunya belum selesai.


"Ibu Nurmala pamit." Nurmala langsung memeluk ibunya. Sebenarnya ia tidak ingin jauh dari ibu dan ayahnya apalagi panji adalah cucu pertama mereka hanya karena keadaan, ia mengambil keputusan harus jauh dari orang tua.


"Iya sayang kalau ada waktu ibu dan ayah yang ke sana pengen lihat cucu." Ibunya tersenyum dengan mata mengembun. Nurmala mengangguk.


"Iya ibu. Nurmala tunggu."


Nurmala tidak bisa berlama-lama di rumahnya karena ia akan merasa enggan untuk meninggalkan rumah berjuta kenangan tersebut.


××××××××


Ooeeek


Ooeeek

__ADS_1


Ooeeek


Pagi ini Panji terlihat begitu rewel. Pasokan ASI dalam freezer hanya ada 2 botol lagi. Tiara mengeluarkan 1 botol ASI dari freezer kemudian ia letakkan di atas meja makan, kemudian ia siapkan air panas dalam baskom kecil untuk rendaman botol ASI sehingga ASI akan terasa hangat diminum dede bayi.


"Ra setelah ini kamu ke supermarket beli susu formula aja."


"Tapi tante, bukannya Panji hanya minum ASI eksklusif saja, Itu artinya hanya diberi ASI saja tanpa diberi makanan atau minuman tambahan apa pun."


"Iya tante tahu. Kalau kondisinya seperti ini, mau gimana lagi? Apa Panji harus nungggu sampai bundanya pulang dengan menahan lapar? Bagi bayi kalau lapar ya harus disusui ga bisa ditunda-tunda kayak kita. Nih uangnya beli di supermarket dekat sini saja ya! Terus ingat ga pake lama." Tantenya mengingatkan keponakanya yang satu ini karena sering berlama-lama kalau sudah berada di supermarket dengan alasan hanya lihat -lihat harga saja tanpa berniat untuk membeli sebagai perbandingan harga di supermarket yang lain.


"Iya tante cantik. Lagi pula aku ga akan kemana-mana lagi kok. Tempat ini asing bagiku."


Tiara pergi dengan berjalan kaki.


"Huft ternyata lumayan jauh juga tempatnya, gimana mau cepat sampe kalau begini." Gumamnya.


"Bang ke supermarket ya!"


"Iya neng lets go!" Abang becak yang kisaran umurnya 45 tahunan itu mengayuh becaknya dengan semangat 45.


Tiara memberikan selembar sepuluh ribuan kepada babang becak.


"Makasih ya bang." Ia langsung masuk ke dalam supermarket yang terlihat lumayan ramai.


Ia memilih salah satu produk susu formula berwarna merah yang harganya lebih terjangkau dibandingkan harga susu lainnya.


Kali ini ia langsung ke kasir tanpa melihat-lihat barang lagi. Antrian masih senggang sekitar 3 orang yang antri termasuk Tiara. Tiara menyodorkan kardus susu ke kasir tiba-tiba antrian yang berada di belakang menyerobot.

__ADS_1


"Sekalian mbak. Biar punya mbak ini juga saya yang bayar." Laki-laki itu tersenyum pada Tiara. Bagi Tiara suara itu tidak asing lagi. Tapi Tiara tidak bisa langsung melihat wajahnya selain tinggi laki-laki itu juga memakai topi dan bermasker.


"Jangan biar saya saja yang bayar. Saya mampu kok untuk bayar." Tolak Tiara


"Saya tahu kamu pasti mampu untuk bayar. Tapi saya pengen bayarin kamu. Ga papa mbak hitung aja!" Titah laki-laki itu ngeyel.


"Tuh kan jadinya lama." Tiara dongkol pada laki-laki yang bertopi dan bermasker itu.


"Setelah ini kamu temani saya minum teh ya!" Bisik laki-laki itu agak merunduk mensejajarkan dengan tinggi badan Tiara yang hanya sebahunya. Tiara penasaran dengan siapa ia bicara. Sangat sopan sekali. Sok kenal sok dekat.


"Mbak sini dulu susunya. Biar aku duluan aja. Saya buru-buru."


"Jangan mbak biar nanti disatukan dalam satu wadah saja.....!" Titah laki-laki itu sengaja menahan Tiara agar tidak pergi.


"Ck mau Anda ini apa? Kita ga saling kenal ya!" Tiara geram suaranya sedikit direndahkan agar tidak terjadi keributan.


Laki-laki itu masih tersenyum. Tidak menghiraukan kata-kata Tiara.


"Jadi berapa mbak?"


" Seratus lima puluh ribu rupiah." Laki-laki itu merogoh dompet dari saku celananya. Tiara menekan sabar. Kok ada laki-laki yang sok baik, sok kenal, sok dekat tapi ujung-ujungnya minta ditemani minum teh, dasar modus.


"Hey mas mana susu formulanya. Saya sedang ditunggu tante, sekarang." Tiara menagih barang miliknya.


"Iya nanti kita pulang bareng. Tapi kamu harus menemaniku minum teh dulu. Nah di sana ada kursi kosong. Ayo!" Laki-laki itu reflek menarik tangan Tiara. Ada penolakan namun tangan laki-laki itu sangat kuat. Tiara mengikuti keinginan laki-laki itu hanya sekedar ingin tahu siapa dia yang berani menarik tangannya? Dasar laki-laki misterius.


Ada yang tahu siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2