
Tiara dan tante Rima turun di terminal kota. Mereka langsung naik angkot yang lumayan agak penuh. Hampir semua penumpang perempuan cantik tidak ada yang laki-laki di angkot tersebut kecuali sopirnya.
Di bagian depan tampak perempuan cantik berpostur langsing berpakaian ketat selutut. Dandanannya lumayan menor selalu tersenyum, apalagi sopirnya hendak masuk membuka pintu kemudi. Dengan handuk kecil yang disimpan di lehernya tidak mengurangi ketampanan sopir sejuta umat yang selalu ditunggu oleh kaum hawa tersebut.
Sedangkan Tiara duduk tepat di belakang sang sopir. Dan Tante Rima duduk di samping Tiara.
Tampak Sopir yang asli memberikan uang pada para calo karena sudah berhasil membuat angkotnya terisi penuh.
"Siap semua ibu-ibu jangan lupa berdoa menurut kepercayaannya masing-masing sebelum kita berangkat!" Ciri khas seorang Kasdun memberikan instruksi pada semua penumpangnya.
"Bang Kasdun....." Perempuan yang berada di sebelahnya menyapanya dengan manja. Sudah beberapa hari ini perempuan cantik tersebut naik angkot yang dibawa Kasdun dan selalu duduk didepan. Sebenarnya Kasdun risih dengan penampilan perempuan itu namun karena tugas negara jadi harus bisa menahan matanya dengan penuh kesabaran. Mata Kasdun merasa ternodai, seraya tersenyum ramah.
Deg
Deg
Nama itu? Ya Tiara lumayan kaget kalau ternyata ia naik angkot laki-laki yang ia benci selama ini. Ia menatap tajam perempuan seksi yang hanya bisa dilihat bagian sampingnya saja. Selalu Kasdun yang ia jumpai seperti tidak ada laki-laki lain di dunia ini.
"Sekali-kali bertemu Blu di terminal gitu. Kenapa dia lagi dia lagi huft...." Tiara bergumam dalam hati , ia menetralkan suasana hatinya yang mendadak tidak menentu.
"Iya mbak ada apa?" Mau tidak mau Kasdun menoleh sesaat, selanjutnya ia fokus mengemudi.
"Ih kok manggilnya mbak sih? Panggil Neneng aja bang biar lebih akrab!" Neneng tidak terima dipanggil mbak karena menurutnya panggilan tersebut terkesan lebih tua padahal umurnya tidak beda jauh dengan Kasdun. Satu tahun di bawah Kasdun.
"Iya ada apa Neneng?"
"Abang Kasdun sudah punya pacar belum?" Dengan suara manjanya sambil memilin rambut panjang sebahu.
"Kalau belum Neneng mau jadi pacar abang. Apalagi jadi istri abang.....abang Kasdun kan ganteng. Abang mau ya!" Perempuan itu tersenyum penuh arti.
" Hoek " Entah mengapa Tiara mendadak mual mendengar ocehan perempuan itu.
"Kamu kenapa Tiara? Kamu sakit?" Tanya Tante Rima. Tiara menggeleng.
__ADS_1
"Mbak kalau mau muntah jangan di sini dong!" Protes salah satu penumpang yang duduknya tepat di depan Tiara.
"Apa kenapa mbak ada yang mau muntah? Kasdun lebih respon pada penumpang bagian belakang.
"Engga jadi bang. Lanjut aja." Kata Tiara kesal.
Hah suara itu? Kasdun sangat mengenalnya. Apakah Tiara ada di angkotnya? Ah tidak mungkin bukankah Tiara ada di Tanggarong? Kasdun ....Kasdun segitunya kamu cinta Tiara sampai suaranya pun selalu diingat dan dikenal.
"Ooh kalau ada yang sakit bilang aja ya mbak nanti kuantar ke klinik terdekat!" Seru Kasdun penuh perhatian pada penumpangnya. Ia selalu begitu, dalam kamusnya penumpang harus diberi pelayanan dan perhatian ekstra agar tidak berpaling ke lain angkot.
"Siappp bang Kasduuun!" jawab para penumpang kompak.
Kasdun tetap menjalankan mobilnya dengan penuh tanda tanya tentang suara yang sempat ia dengar, sesekali ia memperhatikan penumpang belakang dari kaca mobil bagian atas. Ia masih penasaran.
"Bang Kasdun..." Suara manja itu keluar lagi.
"Bang Kasdun terima cinta Neneng engga? Neneng sangat berharap jadi bagian hidupnya abang. Neneng siap apapun keinginan abang asalkan abang mau nikah sama Neneng."
"Neneng yang cantik se RT. Harga diri seorang wanita terlihat dari bagaimana ia berpakaian dan bersikap. Jadi menurut abang nih Neng, sebaiknya tubuh Neneng yang bagus dan menarik itu ditutup dengan hijab. Auratnya ditutup Neng!" Ujar Kasdun penuh hati-hati khawatir Neneng tersinggung.
Kasdun tertawa melihat tangan Neneng seperti sedang memeras baju yang selesai dicuci.
Perkataan Neneng yang menohok cukup menyentil penumpang bagian belakang sopir. Perkataannya membuat Tiara kesal. Apalagi respon Kasdun yang mendukung ucapan wanita yang bernama Neneng tersebut.
Kasdun masih tertawa. Ucapan Neneng mengingatkannya pada wanita yang masih ia perjuangkan cintanya.
"Tapi Neneng rela kalau bang Kasdun menginginkan Neneng berhijab. Neneng akan berhijab besok kalau Neneng ga lupa ya bang he....he....apalagi baju Neneng kurang bahan semua." Imbuh Neneng dengan semangat.
"Berhijabnya jangan karena abang dong Neng. Tetapkan dalam hati dulu, niat berhijab karena Allah itu lebih berpahala. Ingat pesan abang kalau sudah berhijab jadilah wanita yang bermartabat dengan menjaga kehormatan dan harga diri. Bertutur kata yang baik tidak menyinggung orang lain dan bersikap baiklah terhadap sesama manusia. Pasti banyak laki-laki baik yang mau sama Neneng."
Kali ini perkataan Kasdun yang mampu menyentil Tiara.
"Dasar dua-duanya tidak berprikemanusiaan....." Gumam Tiara dalam hati. Ia kesal dengan perbincangan mereka. Ingin rasanya cepat turun. Yang ia rasakan Kasdun membawa angkotnya sengaja dengan pelan.
__ADS_1
"Begitu ya bang. Doakan Neneng ya bang biar niatan Neneng berhijab terlaksana. Semoga setelah ini ada orang yang mau berdonasi baju gamis atau baju apa saja yang ga kekurangan bahan lagi dan semoga ada orang yang mau mendonasikan kerudungnya juga. Waaah pasti niat itu cepat terlaksana, Aamiin." Neneng mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aamiin Ya Allah." Kasdun tersenyum bangga melihat Neneng semangat untuk mengubah penampilannya.
Dreeet
Dreeet
Dreeet
Tepat sekali ketika ada panggilan masuk ada penumpang yang turun.
"Tolong terima ongkosnya dulu ya Neng! Saya mau terima telepon."
Senang sekali Neneng diberi kepercayaan seperti itu hatinya berbunga-bunga seolah harapannya menjadi calon istri Kasdun mendapat lampu hijau.
"Hallo bu bidan ada apa?"
"Kasdun maaf bisa ke klinik engga hari ini, sesempatnya saja."
"Emmmh ada apa ya bu?"
"Ini ibu sudah memilih pakaian muslim yang tidak terpakai tapi masih layak untuk dibagikan ke orang yang membutuhkan. Sebenarnya sih ada juga baju yang masih baru. Bisa tolong bagikan? Terserah buat siapa yang penting mau pakenya biar tidak mubadzir."
" iya bu.....bisa....bisa bu bidan. Setelah Kasdun mengantarkan para penumpang ya bu!" Mata Kasdun berbinar. Ia menoleh ke arah Neneng yang sedang memberikan kembalian pada penumpang yang turun.
"Boleh tidak apa-apa."
Kasdun menutup panggilan dari bidan Wafa yang terkenal sangat dermawan di Klinik Sehat Medika.
Kasdun tidak pernah menyangka doa wanita yang ingin berubah diijabah secara langsung oleh Allah sang pemberi rizeki.
"Abang kenapa senyum-senyum begitu habis menang lotre ya?" Neneng bingung dengan mimik Kasdun yang tetiba sangat senang.
__ADS_1
"Sembarangan kamu.
Pokoknya nanti Neneng ikut saya. Doa Neneng dikabulkan." Kasdun langsung tancap gas. Mengantarkan penumpang yang tersisa.