
Kasdun putar balik menuju angkotnya. Ia tidak tega meninggalkan Neneng sendirian di dalam angkot, kalau ada yang nyulik gimana?
"Ah bang Kasdun ini. Mana ada yang mau nyulik Neneng. Kalau memang ada si penculik bakalan nyesel. Neneng kan doyan makan dan jago melintir kepala orang sampe lepas." Neneng tertawa dengan ucapannya sendiri yang ngasal imbas kekesalan tethadap wanita yang sudah merendahkan Kasdun.
"Ah kamu tuh Neng ada-ada saja." Kasdun geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Hayu turun! Kasihan bidan Wafa sudah lama menunggu." Kasdun membukakan pintu depan agar Neneng secepatnya turun.
"Bidan Wafa? Bidan sahabat umat? Waaah aku sudah lama ingin berkenalan dengan beliau!" Wajah Neneng berbinar setelah tahu orang yang akan ia temui. Namun tak lama kemudian ia terdiam.
"Loh kenapa diam sih....kamu kuajak ke sana biar sekalian nyoba pakaiannya. Kan enak kamu tinggal pilih-pilih yang cukup buat badan kamu." Terang Kasdun panjang lebar. Neneng hanya menggeleng pelan.
"Tapi.....pakaian Neneng seperti ini. Neneng malu untuk ke sana."
Dagunya menunjuk arah klinik.
"Jadi beneran ga mau ikut ke dalam. Atau jangan-jangan kamu malu jalan bareng aku?"
"Apaan sih bang? Neneng bukan malu jalan sama abang tapi Neneng malu karena keadaan pakaian Neneng yang serba minim, apalagi ketat begini. Untung ada jaket abang buat nutupin atas. Iiih Neneng nyesel pake baju ini, hufft...."
"Ya sudah aku masuk ke dalam dulu ya! Ingat jangan kemana-mana nanti aku yang repot lagi kalau harus cari kamu."
"Iya abang ganteng." Neneng tersenyum bangga mendapat perhatian dari Kasdun walaupun sedikit. Hatinya menghangat. Ia terus memandang Kasdun sampai tak terlihat lagi.
Neneng memainkan hapenya terlihat ia menghubungi seseorang.
"Mang tolong carikan kontrakan rumah bedengan sekitar kampus pelangi, sekarang! Berapapun harganya, ambil! Yang penting toilet ada di dalam rumah."
Tidak lama kemudian ada pesan yang masuk. Neneng membuka kiriman gambar rumah bedeng yang terdekat dengan kampus.
"Oke bagus. Tolong bersihkan dan kalau sudah selesai simpan kuncinya di atas pintu depan!" Neneng menerima telepon dari seseorang yang barusan ia hubungi. Neneng tersenyum.
Kasdun memperhatikan Neneng yang tengah senyum sendiri dengan mata terpejam sambil memeluk hpnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kasdun menyimpan 2 kantong plastik merah berisi baju muslim second masih layak pakai di bagian belakang mobil.
__ADS_1
Neneng tersentak begitu merasakan angkot yang ia tumpangi bergerak.
"Bang Kasdun kok ga ketahuan datangnya?"
"Kenapa kaget? Senyum-senyum ga jelas....hati-hati lo Neng kalau orang lain lihat dikiranya kamu lagi sakit iiiih." Kasdun begidik sambil tertawa.
"Ih bang Kasdun emangnya Neneng strees." Neneng cemberut.
"Sekarang katakan kamu tinggal di mana biar kuantar. "
"Aku ngontrak di dekat kampus pelangi."
"Oke aku anterin ke sana sekarang."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Perutku lapar. Gimana kalau kita makan dulu bang. Neneng yang traktir deh."
"Ya punya lah....hasil dari penjualan cilok di kampus."
"Kamu jualan cilok di kampus?"
"Iya lumayan bang buat nyambung hidup." Neneng tertawa.
"Setidaknya beban orang tua Neneng berkurang." Sambungnya merendah.
Sebenarnya Neneng mengajak makan Kasdun hanya untuk menjeda waktu agar orang suruhannya selesai mengerjakan tugasnya membereskan rumah kontrakan yang akan ia tempati.
Neneng bukanlah orang sembarangan. Ia anak mandiri yang dilahirkan dari orang tua yang bekerja sebagai anggota DPRD Propinsi Banteng. Ia anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya dokter di rumah sakit umum. Sebagai anak bungsu yang sering ditinggal pergi kedua orang tuanya bertugas, ia berinisiatif untuk mengontrak rumah dekat kampus. Ia sendiri ambil jurusan manajemen akuntansi.
Rumah besar berlantai dua terasa hampa manakala Neneng hanya sendirian di dalam rumah. Orang tuanya selalu melarangnya ngontrak dengan alasan apa pun, namun hari ini Neneng merasa tidak ada jalan lain selain pulang di tempat kontrakan walaupun dikontrak secara mendadak karena ia tidak ingin siapa pun tahu jati dirinya. Ia menutupi identitas sebenarnya dari seorang Kasdun hanya karena ingin mengetahui apakah Kasdun mau berteman dengannya bukan karena ia orang yang punya segalanya. Walaupun ia berharap lebih pada Kasdun namun ia merasa Kasdun hanya menganggapnya sebagai teman saja mengingat Kasdun hanya mencintai seorang Tiara.
__ADS_1
×××××××××××
Allahu Akbar......Allahu Akbar
Suara azan mengalun merdu di penjuru kota. Kasdun memarkirkan angkotnya di depan Masjid Al-Abraar.
"Loh kok kita ke sini? Bukankah kita mau makan?"
"Kita sholat dulu. Oiya sebaiknya kamu ganti bajumu agar tidak risih lagi lihatnya!" Saran Kasdun sekaligus mengingatkan ucapan Neneng yang merasa malu berpakaian kurang bahan tersebut.
Neneng melihat ke belakang, terdapat dua kantong plastik merah yang berisi pakaian muslim.
"Ambillah baju yang kamu kehendaki. Lantas ganti bajumu di kamar mandi masjid ini. Kita mau menghadap Allah!" Titah Kasdun pada Neneng yang tidak pernah menolak saran yang ia berikan.
"Siap bos!" Ujar Neneng mengangkat tangannya memberi hormat. Ia langsung ke belakang angkot dan mamilih baju yang anggap pas di badannya.
Neneng melangkahkan kakinya menuju toilet perempuan. Ia jalan menunduk sambil mendekap pakaian gantinya. Ia merasa banyak sorot mata yang tertuju padanya. Ia merasakan seolah-olah menjadi pusat perhatian masyarakat yang hendak mengambil air wudhu. Ia tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Sehingga tak terelakkan ia menubruk seorang lelaki yang selesai berwudhu.
"Keira...!" Seru lelaki yang suaranya familiar di telinga Neneng. Neneng meringis mengusap lengannya. Hanya bagian dari keluarganya saja yang memanggil namanya dengan nama Keira.
"Kak Blu, kok di sini?" Tanya Neneng tanpa berdosa.
"Harusnya aku yang nanya kamu ngapain ke sini?"
"Kei mau sholat lah masa mau ngobrol. Lagi pula ini tempat umum kak."
"Iya kakak tahu ke masjid pasti mau sholat tapi lihat dong kamu masuk ke toilet laki-laki." Blu menunjuk tulisan yang terpampang di dinding depan ruang wudhu laki-laki.
"Adduuuh kenapa jadi salah masuk. Perasaan tadi beloknya sudah benar." Gumam Neneng malu. Untung saja situasinya sedang sepi. Ia cengengesan.
"Makanya kalau jalan matanya menatap lurus ke depan bukan nunduk lihat ke bawah. Kamu berharap nemu uang ya?" Tanya Blu ngasal.
"Idiiih kakak apaan sih....aku cuma malu aja karena aku pake baju kurang bahan begini, makanya tadi jalanku nunduk" Neneng kesal dengan kakak sepupu yang satu ini, suka rese kalau bertemu apalagi kalau melihat Neneng berpenampilan mirip artis pasti Blu paling cerewet seperti emak-emak yang tidak mau anaknya salah jalan. Karena dalam keluarga besarnya hanya Neneng cucu perempuan satu-satunya di keluarga mamanya.
__ADS_1
"Iya ini Keira mau ganti kostum. Udah Kak Blu wudhu lagi aja sana!"
"Kamu yang kesana. Tuh toilet perempuan di sebelah kanan jangan salah masuk lagi. Bisa-bisa kamu masuk gudang yang ada kerandanya." Blu tertawa. Neneng bergidik ngeri. Ia cepat berjalan menuju toilet perempuan kali ini ia masuk dengan benar.