CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 47 Olah raga malam


__ADS_3

Kata-kata Alhan cukup membuat Nurmala merasa tertampar. Ia merubah posisi duduknya. Tidak lama kemudian makanan pun datang, hanya 2 porsi saja. Tadi sebelum Alhan datang Nurmala sudah memesan makanan kesukaannya. Nurmala tidak tahu kalau ternyata Alhan datang bersama isterinya. Ia merasa tidak enak hati.


"Duh maaf ya Bu Wafa aku tadi pesan duluan hanya untuk 2 orang. Tapi begini saja makanan ini buat kalian. Kebetulan aku ingat siang ini ada janji dengan teman. Aku yang traktir." Nurmala menggeser piring tepat di atas meja Wafa.


"Loh ini kan makanan Bu Nurmala. Nanti aku pesan lagi saja. Apalagi Bu Nurmala mau pergi pasti ibu lapar. Tujuan utama ke sini kan memang mau makan, bukan begitu mas?"


"Bukan....bukan ....jangan salah paham. Aku ke sini janjian sama pak Han mau bayar utang. Pak Han terima kasih sudah memberi pinjaman padaku. Oiya selamat ya buat kalian maaf saat kalian menikah aku ga bisa datang. Samawa ya!" Nurmala menyerahkan beberapa lembar rupiah berwarna merah. Nurmala berdiri dari tempat duduknya namun tak disangka Wafa mengatakan sesuatu yang sudah ia tutupi selama ini.


"Bu Nur sedang hamil? Selamat ya Bu Nur. In syaa Allah kami akan menyusul." Nurmala hanya tersenyum. Ternyata yang ia usahakan untuk ditutupi selama ini terbongkar juga. Kalau memang seperti ini ia khawatir banyak orang yang menaruh curiga padanya.


"iya kok Bu Wafa tahu?"


" Ya iyalah kan istriku ini seorang bidan" Jawab Alhan bangga sambil merangkul Wafa. Nurmala terkesiap. Lengkap sudah kehidupan Alhan memiliki istri tidak hanya cantik tapi mapan juga.


"Oh ya, berarti suatu saat nanti Bu Wafa bisa menolongku untuk melahirkan?


" Boleh Bu. Ditunggu!" Wafa tersenyum kembali setelah keduanya saling bersalaman dan berpamitan. Nurmala beranjak dari tempat itu dengan perasaaan yang tenang setelah mengetahui Alhan menikahi orang baik seperti Wafa. Alhan berhak memiliki Wafa. Alhan berhak memiliki orang yang benar-benar tulus mencintainya. Alhan berhak memiliki pasangan yang setia seperti Wafa. Semoga saja di antara mereka selalu rukun dan damai.


Sedangkan Alhan dan Wafa melanjutkan acara makan siang gratisnya dengan kebahagiaan. Setelah acara makan siang mereka bertolak ke rumah barunya yang tidak jauh dengan lokasi klinik Sehat Medika. Agar Wafa lebih leluasa memantau perkembangan klinik keluarga suaminya itu. Dan jika ada panggilan darurat Wafa bisa bertindak dengan cepat.


-


Rumah sederhana yang Alhan beli untuk keluarga adalah hasil kerja kerasnya selama jadi pendidik baik saat di SMA maupun perguruan tinggi. Hal ini sudah Alhan siapkan jauh-jauh hari Ia memikirkan masa depan keluarga kecilnya.


Rumah tersebut memiliki 3 kamar tidur, 1 ruang kerja, 2 kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, teras depan dan belakang. Di samping rumah terdapat sebuah taman yang sudah tumbuh aneka tanaman hias dan tanaman herbal. Di depan rumah ada garasi dan halaman yang ditumbuhi beberapa tanaman dan pohon mangga sehingga terlihat rindang dan indah dipandang mata.


"Mas ini rumah kamu?" Wafa surprise dengan tatanan yang sudah didekor sesuai seleranya, ternyata banyak kesamaan dalam hal penataan rumah.

__ADS_1


"Bukan rumahku tapi rumah kita" Alhan membuka jendela di kamar utama.


"Dan ini kamar kita" Alhan membuka pintu kamar utama. Wafa memandang takjub kamar barunya itu. Bernuansa hijau muda. Di kamar tersebut terdapat lemari pakaian, meja televisi, sofa, kasur king size, meja rias. Di dalam kamar utama ada kamar mandi.


"Jadi gimana kamu mau pindah ke rumah ini kapan?"


"lebih cepat lebih baik, mas. Diharapkan sebelum habis masa cuti kita sudah pindah." Ujar Wafa memberikan saran.


Mereka bersiap untuk kembali ke rumah Bunda Rianti. Tidak diduga sebelumnya ternyata alam berkata lain mereka tidak diperkenankan untuk pulang sore itu, hujan turun dengan lebatnya mengguyur kota ini. Akhirnya mereka pun sepakat untuk menginap di rumah tersebut malam ini.


"Mas terasa lapar engga?"


"Iya mas lapar. Di kulkas belum ada persediaan apapun. Rencananya kan kulkas akan terisi kalau mau ditempati. Gimana ya? Kita pesan gofood aja ya?"


" Boleh mas. Sekalian beli cemilan juga, roti buat persediaan tengah malam kalau lapar lagi" request Wafa. Alhan tersenyum. Ternyata menikahi bidan justru lebih memahami kegiatan malam. Alhan memesan makanan request Wafa. Selesai memesan Alhan kembali tertawa.


"Pacaran? Ah mas ada-ada saja deh. Kita kan sudah nikah kenapa harus ajari aku pacaran sih. Ajari tuh yang benar misalnya nih tentang cara menjadi istri Sholehah, Cara membuat suami betah di rumah, cara istri melayani suami atau cara membuat......"


Cerocos Wafa yang langsung disela Alhan.


"Keturunan. Kalau hal itu ga perlu ditanyakan karena istriku jauh lebih pintar. " Alhan mendekati istrinya yang sejak tadi ga mau diam kayak setrikaan, sok sibuk. Padahal tidak mengerjakan apapun. Alhan membimbing istrinya untuk duduk di sofa.


Ning nong


Ning nong


"Ade tunggu di sini biar mas yang buka pintu." Alhan bergegas membuka pintu depan. Ternyata pesanan yang datang. Setelah dibayar, Alhan membawa dua kresek makanan yang ia beli ke meja makan. Ia menata menu makan malamnya. Sedangkan Wafa merapikan makanan ringan dan roti dan kue disimpan di tengah meja makan.

__ADS_1


"Banyak juga yang dibeli mas?"


"Biar kita tidak kelaparan. Apalagi kalau habis olah raga malam." Ujar Alhan ambigu.


"Oh ya, mas sering olah raga malam? Iya sih mas kalau olah raga malam itu bisa membakar kalori lebih banyak. Apalagi yang pengen kurus. Makanya banyak ibu-ibu yang ikut senam malam hari dan benar tubuh mereka banyak yang langsing." Celoteh Wafa membuat Alhan semakin tertawa. Ternyata Isterinya masih polos juga terkait olah raga malam versi Alhan.


"Sudah kita makan dulu yuk! Nanti beres makan kita olah raga malam"


" Boleh" Jawab Wafa singkat dan jelas. Mantap. Sesekali Alhan melirik wanita yang berada di sampingnya itu dengan penuh cinta dan sayang.


Tidak ada obrolan ketika mereka makan malam. Yang ada hanya dentingan sendok dan garpu. Sampai mereka menyelesaikan makan malamnya Wafa tidak langsung beranjak ke ruang keluarga seperti yang Alhan lakukan. Namun ia menuju dapur untuk mencuci piring kotor.


-


Wafa duduk di samping suaminya yang sedang memainkan ponselnya.


"Mas sudah memberi kabar ke bunda kalau kita terjebak hujan dan menginap di sini?"


"Sudah."


Malam ini mereka lalui dengan kebahagiaan. Ada rasa adem dan tenang ketika suaminya sering memujinya.


Alhan menggeser duduknya lebih merapat dengan Wafa. Ia mengelus pundak istinya dengan lembut. Pijatan lembut Alhan membuat istrinya merinding.


"Kita pindah ke kamar yuk.! Tidak enak olah raga di sini kurang nyaman" Ajak Alhan. Ya di sini kurang nyaman mereka pun pindah ke kamar. Mereka tidak mau kegiatannya diekspos para readers.


-

__ADS_1


__ADS_2