CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 57. Keikhlasan


__ADS_3

Mama Azka melepas pelukannya beralih pandangannya ke anak sulungnya. Ia menatap putranya yang sekarang sudah dewasa dan memiliki istri. Matanya mengembun. Mau marah tapi pada siapa lagi? Tadi ia sudah meluapkan emosinya pada Rasya. Tapi percuma. Ini sudah kehendak-Nya. Rasya mendapatkan jodohnya dengan cara yang unik.


"Ma....maafkan Rasya. Restui pernikahan Rasya dengan Resa! Pernikahan yang tanpa rencana, kami hanya memohon doa dari mama dan papa untuk masa depan kami." Rasya memeluk mamanya setelah itu beralih ke papanya.


"Papa dan mama berharap pernikahan kalian bisa langgeng selamanya sampai maut memisahkan kalian. Dan cinta yang belum kalian miliki dengan seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Rasya hargai istrimu sebagai wanita. Cintai istrimu dengan tulus. Kesetiaan, kejujuran, komunikasi yang aktif modal untuk keharmonisan dalam rumah tangga." Pesan papa tidak berbeda dengan ucapan Rasya pada istrinya tadi pagi.


Kalau tidak ada penjelasan yang rinci dari Rasya dan Alhan tentu orang tua Rasya tidak akan merestui pernikahan mereka. Apalagi idealitas mama Azka dalam menentukan pilihan untuk anaknya begitu sulit untuk digapai.


Namun entahlah kalau jika mama tahu siapa Resa sebenarnya. Yang pasti untuk saat ini Mama menerima Resa apa adanya. Bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur semuanya sudah terjadi mau tidak mau suka tidak suka mama Azka harus menerima Resa sebagai istrinya Rasya.


Tragedi sambal geprek membawa Rasya dan Resa menjadi pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan. Jodoh yang unik ini membawa kebahagian tersendiri bagi keduanya.


Awal yang sulit harus mau menerima Resa yang menyebalkan. Namun ternyata Resa bisa menghidupkan suasana yang kaku dalam diri Rasya sehingga seiring berjalannya waktu Resa bisa secepatnya menempati ruang hatinya.


Jujur Rasya belum mengenal sepenuhnya siapa Resa yang sebenarnya, bahkan Resa kuliah di mana, semester berapa, ambil jurusan apa? Rasya belum sempat tanya.


-


-


Mama Azka menghampiri gadis yang sudah menaruh harapan besar untuk Rasya. Mama Azka sempat meminta Mela mendekati Rasya untuk dijadikan suaminya kelak.


Gadis cantik berhijab berprofesi sebagai dokter gigi merupakan gadis pilihan mama Azka dengan kriteria yang hampir sempurna, ia benar-benar calon menantu idamannya.


Mela tercenung duduk bersandar di kursi teras belakang rumah sambil memijit pelipisnya, matanya menatap nanar taman yang dipenuhi aneka tanaman hias dan tanaman apotek hidup.

__ADS_1


Ia butuh sendiri melihat kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Dia bukanlah artis sinetron yang kalau patah hati akan nekat atau berontak marah bahkan dendam pada orang yang dicintainya. Matanya mengembun. Orang yang ia sayang sekarang sudah beristri. Mau bagaimana lagi? Berdosa rasanya kalau Mela merebut Rasya dari istrinya. Atau bahkan meminta Rasya bercerai dengan bantuan mama Azka , seperti di sinetron yang pernah ia tonton.


Mama Azka duduk di kursi kosong. Ia membawa teh hangat 2 gelas dan sepiring kue brownies. Semilir angin sore hari begitu menyejukan.


"Tante minta maaf Mela. Tante tidak tahu akan berakhir seperti ini. Tante sangat berharap kamu yang akan jadi istri Rasya tapi ternyata Rasya sudah menikah tanpa sepengetahuan tante....."


"Sudahlah tante tidak ada yang perlu disalahkan karena memang sudah menjadi taqdir-Nya. Dari awal aku hanya teman masa kecil Rasya dan akan terus seperti itu." Ujar Mela tanoa mengalihkan pandangannya. Ada semburat kekecewaan di wajahnya.


"Kamu engga marah sama tente?" Mama Azka merasa bersalah.


"Marah, buat apa tante? Apakah dengan marah Rasya bisa kembali seperti dulu, engga kan? Lagi pula aku hanya teman masa kecilnya....engga pantas bersanding dengannya." Gemuruh di dadanya tersalurkan. Matanya mengembun sekali kedip air matanya akan tumpah.


"Ya kamu benar kemarahan tidak bisa mengembalikan Rasya sebagai single man. Dia sudah beristri. Seorang ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat masa depan anak- anaknya." Ujar Mama Azka dengan perasaan yang sulit digambarkan.


Mela beranjak dari tempat duduknya. Ia berpamitan pada mama Azka. Mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Di sana masih berkumpul Rasya dan temannya.


"Terima kasih dokter Mela."


Mela menghampiri Resa yang tengah tersenyum.


"Kamu pantas mendapatkan Rasya. Jaga dia jangan sampai kau lepaskan. Selamat Resa samawa." Mela mendekap tubuh Resa cukup lama. Resa bergeming. Ada sesuatu yang sedang diungkapkan dari gadis berprofesi dokter itu.


"Maaf." Spontan Resa mengucapkan kata maaf. Yang membuat Mela melepaskan dekapannya.


"Maaf untuk apa?"

__ADS_1


"Pernikahan yang mendadak. Mungkin membuat hatimu terluka. Aku tidak tahu kalau ternyata mama sudah menyiapkan pilihannya untuk Kak Rasya tapi...."


"Hust....sudah kamu itu jodohnya Rasya. Harus kamu ingat itu. Aku sudah ikhlas melepas Rasya. Dan sesungguhnya aku dan Rasya tidak ada hubungan apa pun kecuali teman masa kecil, jadi kau jangan khawatir ya!" Mela tersenyum. Lalu terakhir menyalami Alhan dan Wafa. Dia diantar mama Azka sampai teras.


-


AW bersyukur permasalahan satu persatu sudah bisa diatasi. Untuk malam ini mereka bermalam di rumah orang tua Rasya karena orang tuanya meminta untuk menginap di sana.


Tak ada penolakan dari keduanya setidaknya mereka ingin mengetahui keseharian di rumah itu.


"Aku dan Resa hanya sementara tinggal di sini. Selanjutnya Resa akan kubawa ke rumahku. Aku akan tinggal di sana. Lebih dekat dengan kawasan rumah sakit."


"Syukurlah kalau kak Rasya sudah punya rumah. Kita memang harus mandiri agar tidak bergantung terus pada orang tua. Jaga Resa dengan baik jangan lupa ingatkan terus untuk beribadah, kuliah yang benar dan satu lagi kurangi aktivitas di luar karena kalau sudah punya suami akan berbeda. Harus izin dulu kalau mau kemana- mana"


"Siap eteh. Nanti aku kurangi organisasi yang aku ikuti di kampus."


Huuaaaam


"Tidur yuk....sudah malam nih." Lelah dalam perjalanan belum terobati. Wafa mengajak semuanya untuk pergi ke alam mimpi. Sedangkan papa dan mama Azka sudah sejak tadi tidur di kamarnya.


-


-


Tepat pukul 02.00 wib. Seorang wanita keluar dari kamar tidurnya. Tenggorokannya begitu kering, ia hendak ke dapur untuk mengambil segelas air. Air minum memang harus selalu tersedia di dalam kamarnya. Dia sering banyak minum. Lagi pula hal ini sangat dianjurkan minum minimal 2 liter sehari.

__ADS_1


Ckrek...sreeet


Resa menghentikan langkahnya ketika suara pintu depan terbuka mengusik atensinya. Dia langsung mengambil sapu. Ia meletakkan gelas yang berisi air putih di atas meja makan. Kekhawatiranya membuncah, ia mencari tempat persembunyian. Begitu orang yang diduga pencuri tersebut melewati tempat persembunyiannya. Resa dengan sigap memukulinya dengan sapu secara bertubi-tubi.


__ADS_2