CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 22. Tamu Tidak Terduga


__ADS_3

Cukup melelahkan perjalanan hari ini. Wafa memarkirkan mobilnya di pelataran Klinik Sehat Medika. Ia turun dan masuk ke klinik tersebut. Senyum ramahnya Wafa selalu terbit di wajahnya yang cantik. Resepsionis yang berjaga sore itu menyapanya dan memberitahu kalau di dalam ruangan Wafa ada tamu tanpa memberitahukan nama tamu tersebut karena memang tamunya ingin memberi kejutan pada Wafa.


"Bunda! Bunda ke sini kenapa ga bilang sebelumnya, pasti sudah nunggu lama ya?" Wafa menghambur memeluk Bunda Rianti. Sejak Wafa ke rumah dr. Ibrahim hubungan Wafa dengan Bunda Rianti sangat baik seperti ibu dan anak. Namun Rianti menganggap Wafa adalah calon menantu idaman, maka ia berusaha sebisa mungkin untuk bisa menemui calon menantunya tersebut di klinik biar lebih dekat karena ia yakin Wafa tidak akan sempat untuk mengunjunginya di rumah karena kesibukannya di dua tempat, puskesmas dan klinik.


"Lihat bunda bawa sesuatu buatmu." Rianti membuka kresek dan membuka rantang yang berisi makanan yang dimasak oleh tangannya sendiri.


"Ini bunda masakin spesial buat kamu"


"Masya Allah bunda kenapa jadi repot begini. Lain kali ga usah repot begini bunda, aku jadi ngga enak."


"Ngga repot kok. Ini spesial buat kamu calon menantu bunda" Wafa kaget. Dia bergeming. Benarkah apa yang tadi bunda Rianti katakan? Mana bisa? Alhan selalu bersikap dingin padanya, pertemuan tadi pun ga berarti apa-apa walaupun Alhan tadi seolah menunggunya pulang duluan tapi ia tidak mengharapkan untuk mendapatkan perhatian lebih dari Alhan. Anggap saja perhatian tadi sebagai bentuk perhatian seorang atasan pada bawahannya.


"Kok melamun sih? Sini ayo kita makan! Bunda sejak tadi nungguin kamu buat makan bareng" Wafa terharu tidak hanya ini Wafa mendapat perlakuan yang spesial dari seorang ibu yang menganggap dirinya sebagai calon menantu. Sungguh ia tidak pernah memimpikan hal ini. Terlebih Alhan sepertinya tidak pernah menyukainya walaupun ia tahu Alhan baru saja putus dengan Nurmala.


"Bun. Makasih untuk semuanya. Sebenarnya bunda tidak perlu melakukan ini semua. Walaupun saya hanya sebatas calon di mata bunda saya tetap sayang bunda"


"Bunda tahu itu. Pokoknya Bunda mau kalian secepatnya menikah karena bunda pengen cepet-cepet nimang cucu" Wafa terhenyak.


"Tapi bunda selama ini kami tidak punya hubungan apa-apa, kami tidak pacaran"


"Oh bagus itu. Ga perlu pacaran. Pacarannya setelah nikah saja lebih enak, halal mau melakukan apapun"


"Tapi bunda....."


"Apalagi? Masalah Cinta? Cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Alhan itu ganteng lo, pekerja keras, walaupun dia hanya seorang guru dan dosen bunda yakin dia bisa mensejahterakan kamu"


" Bukan itu Bun. Saya belum berpikir sejauh itu. Yang saya tahu bukankah mas Alhan sudah mau bertunangan dengan orang lain?"


"Tidak.....tidak bunda tidak setuju. Bunda sudah menyelidiki calonnya Alhan itu, dan bunda tidak mau anak bunda menderita hidup dengannya"

__ADS_1


"Memangnya bunda tahu apa?"


"Ah sudahlah ngga usah ghibah." Walaupun sebenarnya Wafa sudah mengetahui kebenarannya dari Alhan dan mereka sudah putus, namun Wafa tidak yakin, Alhan mudah berpaling apalagi mantan kekasihnya itu orang yang sangat ia cintai. Tidak ada percakapan saat keduanya makan, hanya suara sendok yang berdendang. Rianti merasa betah berada di ruangan Wafa sampai pukul 21.00. Rianti lebih ingin tahu tentang kepribadian Wafa. Rianti juga bercerita banyak tentang Alhan agar Wafa lebih menyelami kepribadian calon suaminya. Walaupun bagi Wafa sanksi jika Alhan akan menerimanya sebagai calon istrinya kelak. Hingga ada suara ketukan pintu dari luar.


"Sebentar ya, Bun" Wafa pamit untuk membukakan pintu ruangannya. Di sana sudah berdiri seorang laki-laki gagah rupawan, laki-laki yang sudah terlihat lebih segar dari yang ia lihat tadi siang. Wafa tersenyum.


"Aku mau jemput bunda." Ujarnya datar.


"Oh ya silakan masuk, pak!" Wafa masih berdiri di dekat pintu sementara Alhan memasuki ruang tersebut dengan perasaan yang entah.


Terlihat bundanya sedang membaca majalah


"Alhan? Kamu jemput bunda atau mau ketemuan dengan Wafa?"


"Ish apa sih bunda. Ya jemput bunda lah. Tadi ayah telepon kalo mang Uje ga bisa jemput bunda, ia mendadak izin pulang karena anaknya sakit." Wafa masih tersenyum ia hanya memandang interaksi ibu dan anak itu yang sangat baik.


"Tahu ga, Han. Bunda senang banget. Hari ini bunda sangat bahagia bisa bercengkrama dengan calon mantu" Alhan bahagia bundanya bercerita seperti itu. Sudah lama ia tidak melihat bundanya sebahagia itu. Kalau di rumah bundanya hanya berdua dengan art, itu pun kalau art sudah merampungkan tugasnya langsung pulang jadi ga ada kesempatan untuk mengobrol bahkan bercanda seperti yang sudah dilakukan bersama Wafa saat ini. Rianti bukanlah tipe ibu-ibu sosialita, ia lebih pada mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi dirinya maupun berguna untuk orang lain.


"Ia calon mantu, Wafa itu calon isteri buat kamu. Lihat Wafa begitu cantik, matanya teduh kalau bunda jadi kamu bunda langsung jatuh cinta lihat pesonanya." Wafa tersipu malu diperlakukan seperti itu di hadapan Alhan.


"Ah bunda jangan menilai orang dengan tergesa khawatir kecewa."


"Kamu ini bunda lebih tahu Wafa ketimbang kamu. Lagi pula menilai tergesa lebih baik dari pada mengenal lama bertahun-tahun tapi ujung-ujungnya mengecewakan juga." Alhan hanya diam, apa yang dikatakan bunda benar adanya. Ia mengingat Nurmala yang sudah mengecewakan dan mengkhianatinya, sungguh ia merasa terluka. Bunda berkemas dibantu Wafa, setelah itu bunda pamit pulang sekitar pukul 21.30 wib.Wafa mengantar mereka sampai di luar. Alhan melewati Wafa sambil berbisik


"Besok malam aku akan ke ruanganmu"


Deg


Deg

__ADS_1


Alhan melenggang menyusul bundanya. Wafa bergeming, bingung. Ngapain? laporan keuangan klinik harusnya awal bulan tiap bulannya sedangkan ini baru Minggu ke dua, masa harus laporan lagi, kerajinan. Wafa melambaikan tangannya seiring kepergian mobil yang membawa ibu dan anak itu.


Alhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Perasaannya yang sulit digambarkan setelah pertemuannya dengan seorang Wafa yang sudah dianggap calon mantu oleh orang tuanya itu


"Han...." Rianti memecah keheningan yang sejak tadi tidak ada percakapan diantara keduanya .


"Iya Bun, ada apa?"


"Maukah kamu mengabulkan permintaan bunda sekali ini saja" Alhan mengerutkan keningnya, Seingatnya permintaan apapun yang diminta bundanya selalu ia turuti demi bunda yang sangat ia sayangi, namun dia juga menyadari ada permintaan sang bunda yang pernah tidak bisa ia ikuti yaitu saat diminta bundanya untuk berpisah dengan Nurmala, karena saat itu cintanya begitu besar pada gadis yang berprofesi sebagai guru tersebut. Dengan harapan jika memiliki istri yang berprofesi sebagai guru ia yakin istrinya kelak akan mendidik anak-anak hebat yang bisa membanggakan kedua orang tuanya. Alhan menarik nafasnya dengan dalam.


"Bunda mau minta apa? Setahu Alhan apapun yang diminta bunda selalu dipenuhi, yang penting bunda bahagia"


"Menikahlah dengan Wafa Minggu depan!"


Ciiiiiiit


Mobil yang dikendarai Alhan berhenti mendadak. Dia benar-benar kaget. Matanya masih menatap depan.


"Mengapa harus secepat itu bunda? Kenapa tidak memberi ruang untuk kami mengenal lebih jauh karakter kami masing-masing" Masih menatap depan.


"Maksud kamu pacaran?" Alhan mengangguk.


"No...no....no Wafa itu gadis baik-baik. Dia tidak pernah pacaran cukup bunda yang tahu karakter dia. Kamu hanya tinggal menjalani kehidupan bersama, untuk rasa cinta nanti akan tumbuh dengan sendirinya ga usah khawatir. Kamu harus nurut sama bunda. Pokoknya Minggu depan tetap akan dilaksanakan akad nikah, untuk resepsi bisa menyusul"


"Tapi Bun......"


"Kenapa? Kamu masih mengharapkan si Nurmala itu. Apa hebatnya dia? Dengar ya Nak, Wafa itu berlian tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Sulit mendapatkan gadis seperti Wafa. Jangan sampai kamu menyesal karena menolak permintaan bunda." Apalagi bunda tahu ada seorang dokter yang sedang mendekati Wafa.


Alhan masih bingung. Sejak mengenal Wafa ia tidak pernah tahu kehidupan Wafa sesungguhnya, tanpa sepengetahuannya ternyata bundanya lebih dulu menelusuri siapa orang yang akan menjadi calon mantunya itu. Apakah ini pertanda kalau cincin yang tertinggal di jari Wafa benar-benar menjadi pemilik terakhir untuk Masa depannya. Memang jodoh itu sangat unik tanpa dicari pun jodoh akan datang dengan sendirinya.

__ADS_1


"Gimana mau ngga?" Rianti masih berharap Alhan bisa menjawab "Ya".


__ADS_2