
Keesokan harinya Wafa merasa ada beban berat ditubuhnya. Tangan kekar Alhan melingkar di perut Wafa. Wajah Alhan dibenamkan di ceruk lehernya. Ia kaget luar biasa. Rasa yang sulit digambarkan. Yang jelas saat ini jantungnya berpacu berdetak tak beraturan seperti ada sengatan listrik yang menjalar dalam tubuhnya.
Dengan perlahan Wafa menyingkirkan tangan kekar Alhan yang begitu lelap. Ia perlahan bangun dari tidurnya. Ia biasa bangun disepertiga malam untuk menjalankan sholat malamnya. Dia tidak tega kalau harus membangunkan suaminya yang tengah tidur dengan pulas. Suaminya terlihat lelah. Suaminya memang berwajah tampan wajar kalau masih ada orang yang sangat menginginkan suaminya.
Entah nanti ujiannya seperti apa memiliki suami yang modelnya seperti Alhan yang pasti Wafa harus menyiapkan benteng yang kuat agar tidak runtuh pertahanan hatinya. Dua rakaat sudah ia kerjakan dengan khusyuk setelah itu ia membaca Qur'an dengan suara pelan agar tidak mengganggu tidur suaminya.
Rutinitas sehari-hari Wafa memang seperti ini selesai beribadah ia langsung ke dapur menyiapkan menu sarapan pagi.
Bunda Rianti yang sudah bangun memperhatikan dari depan kamarnya yang berada di bawah. Ia menatap Wafa dari kejauhan ada rasa syukur memiliki menantu yang mandiri. Setelah menjalankan dua rakaatnya bunda bergabung ke dapur.
"Bunda istirahat saja. Biar Wafa yang mengerjakannya."
"Alhan sudah bangun?"
"Belum Bun."
"Aih kok belum bangun sih....biasanya sebelum subuh ia sudah bangun. Segera bangunkan suamimu! Biar ini bunda yang lanjutkan." Titah Bunda Rianti.
Wafa mencuci tangannya di wastafel kemudian mengelapnya menggunakan lap yang tergantung di atas wastafel tersebut. Sambil membawa teh manis hangat dan cake coklat sebagai pemanis rasa pagi ini.
Dilihatnya Alhan masih tertidur pulas. Wafa menggoyangkan punggung suaminya dengan pelan. Namun Alhan malah mengeratkan pelukannya pada bantal guling. Wafa terkikik. Pelukan seperti itu Alhan terlihat nyaman sekali.
"Mas....mas ayo bangun. Sudah subuh."
"Emmmh" Alhan hanya bergumam
"Mas ayo dong bangun keburu telat subuhnya!"
"Bentar lagi Bun, Han masih ngantuk ini" Matanya masih merem, dia masih mengeratkan pelukannya pada bantal guling.
Wafa hanya geleng-geleng kepala. Ia mencoba cara lain untuk membangunkan suaminya. Ditatapnya wajah suaminya yang tampan.
Dengan perasaan jedag-jedug ia memberanikan diri untuk memberi kecupan pagi di kening suaminya. Berhasil, suaminya langsung membuka matanya dan langsung menangkap pelakunya.
__ADS_1
"Hayooo mau kemana? Tanggung jawab sudah mencuri keningku yang masih suci."
"Ih apaan sih mas. Aku ga ada maksud apa-apa aku hanya membangunkanmu saja. Makanya dibangunin tuh cepetan bangun. Jangan susah jadinya aku cari jalan lain deh." Wafa berusaha melepaskan diri dari kedua tangan Alhan yang menangkap tubuhnya. Senyum Alhan mengembang.
"Ayo bangun mas bentar lagi matahari terbit Lo..." Wafa beranjak dari tempat tidurnya.
"Ga mau. Aku pengen lebih di sini" Alhan menunjuk bibirnya sambil merem. Wafa gemas sekali. Seraya menggelengkan kepalanya dengan tingkah suaminya pagi ini.
Cup
Kecupan singkat membuat Alhan tergelak. Wafa langsung kabur. Menahan malu. Alhan memegang bibirnya yang sudah dikecup sang isteri. Bisa jadi candu kalau seperti ini cara Wafa membangunkan suami.
Alhan tertawa tanpa henti setelah mengetahui strategi sang isteri saat membangunkan suami. Walaupun masih malu-malu melakukannya tapi Alhan sangat suka. Alhan langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung mengambil air wudhu.
Selesai menjalankan sholat fardhu Alhan menyeruput teh yang hampir dingin kemudian menyantap cake coklat bawaan isterinya.
"Sudah mandi mas?" Wafa muncul dari balik pintu. Dengan membawa cemilan lainnya.
"Sudah. Kamu lama amat di bawah?" Tanya Alhan sambil membalas chatan temannya.
"Ya bentar lagi ya, cake nya enak, ini kamu yang buat?"
"Bukan. Aku ga bisa bikin cake."
Lama mereka saling diam. Ada keinginan Wafa menanyakan perihal peristiwa yang dilihatnya kemarin.
"Maaas"
"Emmmh" Alhan hanya bergumam. Ia masih disibukkan dengan chat yang masuk pagi ini dari beberapa mahasiswa yang mengumpulkan tugasnya secara online selama Alhan mengajukan cuti.
Melihat hal itu Wafa mengurungkan niatnya untuk menanyakan semuanya tentang peristiwa kemarin. Walaupun Bunda Rianti mengatakan bahwa suaminya termasuk laki-laki yang setia namun ketika melihat kejadian kemarin ia ragu. Apalagi di atas meja itu masih tersimpan foto suami dan mantannya. Wafa terdiam matanya berkaca-kaca. Nyesek sekali rasanya.
-
__ADS_1
-
Kini mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan. Nasi goreng spesial buatan Wafa terasa sangat enak. Alhan sampai nambah dua kali. Kalau isteri pandai memasak seperti ini biasanya suami betah berlama-lama di rumah. Sedang bekerja pun ingin segera pulang karena kangen dengan masakan isteri.
"Han, kamu engga kemana-mana kan hari ini?" Dr. Ibrahim menanyakan kegiatan hari ini pada anaknya.
"Engga Yah. Tadinya aku punya rencana mau mengajak Wafa untuk ke rumah impian yang sudah aku siapkan sebelum menikah dengan Wafa." Alhan memegang jari tangan Wafa. Sambil tersenyum.
Sementara Wafa menjadi kikuk mendapatkan perlakuan Alhan yang begitu manis. Apakah semua ini hanya kamuflase Alhan saja untuk menutupi kesalahan yang Alhan perbuat kemarin? Kalau memang benar perlakuan Alhan hanya untuk dirinya tanpa memikirkan wanita lain di hatinya sungguh kebahagian Wafa sangat luar biasa namun jika Alhan masih memikirkan wanita lain sungguh hal yang pertama kalinya ia merasa dikhianati. Berarti Wafa harus benar-benar bersabar untuk mendapatkan cinta suaminya secara utuh.
"Oh ya kalau begitu pergilah. Kalau kalian mau pindahan pun kami tidak melarangnya, bukan begitu Bun?"
"Sebenarnya bunda ingin kalian di sini dulu beberapa hari ke depan. Tapi kalau kalian ingin secepatnya pindah bunda ga bisa maksa." Bunda Rianti tersenyum.
-
-
Selesai sarapan Alhan dan Wafa kembali ke atas. Orang tuanya pun sangat memahami pasangan pengantin baru tersebut.
Dreeert
Dreeert
Dreeert
Ponsel Alhan memekik berulang-ulang. Saat itu Alhan berada di kamar mandi. Wafa melirik ponsel yang masih memekik ingin diangkat. Terlihat sebuah nama sedang memanggil " My love " Mulut Wafa menganga menatap tak percaya. Telapak tangannya membungkam mulutnya. Dadanya mendadak sesak tak kuasa ia menahan tangis.
Namun ia langsung menyadari suaminya masih ada di kamar mandi sebentar lagi pasti akan keluar. Ia tidak ingin Alhan menangkap basah dirinya yang sedang menangis.
Ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan dan dilakukan berulang-ulang sampai hatinya merasa tenang.
Wafa menyilangkan tangannya menatap keluar jendela. Tatapannya kosong. Sampai tidak mengindahkan panggilan suaminya yang sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Alhan merengkuh istrinya dari belakang. Badannya membungkuk mengimbangi tinggi badan Wafa. Dagunya di atas pundak Wafa sambil menghirup aroma feminim sang isteri. Namun Wafa tidak ada respon sedikitpun. Yang membuat Alhan merasa bingung dan heran.