CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 59 Salah Paham


__ADS_3

Resa melipat mukenanya setelah ia gunakan. Pikirannya sudah lumayan tenang. Dia beranjak menuju keluar kamar. Baru saja memegang gagang pintu Rasya memanggilnya.


"Resa mau kemana? Bajuku sudah kau siapkan?"


"Baju kakak di atas kasur. Aku ke bawah dulu." Resa masih sedikit kesal, ia langsung membuka pintu kamar kemudian menutupnya kembali. Rasya hanya menghela nafasnya dengan menggelengkan kepalanya. Ternyata istrinya sedang mode ngambek.


Resa menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Ia menuju dapur. Resa tahu diri dengan keberadaannya sekarang. Maka nalurinya sebagai istri muncul untuk mengawali pagi dengan memasak. Ternyata di dapur sudah ada seseorang yang ia lihat di dalam kamar Rasya. Terus terang ia hanya ingin tahu siapa sebenarnya gadis cantik yang tengah memasak itu.


"Ehhem..."Resa mendehem untuk mengalihkan perhatiannya. Benar saja gadis itu menoleh. Ia mematikan kompor, karena masakan sudah selesai dieksekusi.


"Kau?"


"Ternyata kamu asisten rumah tangga di sini? Berani sekali kau menggoda kak Rasya pagi-pagi. Dasar perempuan engga tau malu datang dini hari kayak maling paginya masuk kamar majikan hanya untuk menggodanya....ck...ck...ck kalau jadi perempuan harus bisa menahan diri agar harga dirimu tetap terjaga!"


"Oooh jadi kamu yang memukulku pake sapu? berani sekali kamu menuduhku maling dan asisten rumah tangga".


"Kalau iya kenapa? Makanya kalau masuk rumah ucapkan salam bukan nyelonong dengan jalan mengendap-endap siapa yang ga curiga kalau kayak gitu?"


" Kalau kamu tahu siapa aku, aku pastikan kamu akan merasa bersalah, sudah memukulku pake sapu dan menuduhku maling. Kamu engga tahu siapa aku sebenarnya?"


"Engga penting siapa kamu. Minggir aku mau bikin kopi buat kak Rasya."


"Kau berani sekali mengambil perhatian kakakku?"


"Kakak? Berarti gadis ini? Oh my good. Dia adik Kak Rasya..." Gumam Resa dalam hati. Resa membeku di tempat. Ia menoleh ke arah gadis yang mengaku sebagai adik suaminya itu.


"Apa kamu bilang, kakak? Jadi kamu adiknya kak Rasya? Astagfirullah maaf ya yang tadi dini hari hanya salah paham." Lalu Resa mencari sesuatu di sudut tembok dapur, kemudian ia meraih sebuah sapu lantai.


"Ini lakukan seperti yang sudah aku lakukan dini hari tadi." Resa meraih tangannya memaksanya memegang sapu.


"Ih apaan sih kamu. Kamu menyuruhku balas dendam? Perlu kamu tahu aku tidak pernah diajarkan balas dendam oleh siapapun jadi hal itu tidak ada dalam kamusku. Paham!" Tegas adik Rasya yang bernama Lisa.

__ADS_1


Lisa menata meja makan dengan cekatan. Sementara Resa masih memegang sapu.


"Aih anak sama menantu mama kelihatan kompak. Sudah Resa biarin kalau nyapu tugasnya mbok Minah. Kecuali memasak. Kalau memasak harus tuan rumah secara bergantian, biar puas hasilnya." Mama tersenyum.


Memang benar walaupun ada asisten rumah tangga kalau urusan memasak hanya majikan yang buat. Lebih terjamin dan higienis. Kepuasan menikmati masakan mama membuat nagih akan cita rasa yang khas. Khusus pagi ini Lisa yang bertugas untuk memasak. Jadi keluarga Rasya memang piawai dalam memasak makanya untuk calon mantu pun keinginan mama adalah memiliki mantu yang bisa memasak.


"Menantu? Maksud mama apa dengan menantu."


"Sayang A Rasya sudah menikah dengan kak Resa." Jelas mama singkat.


Lisa menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tidak percaya dengan kenyataan kalau kakaknya menikahi perempuan model Resa. Ia menelisik tubuh Resa yang berbalut hijab. Ia akui Resa memang cantik tidak kalah dengan Wafa tapi kemungkinan Wafa yang lebih unggul apalagi menurut cerita Rasya, Wafa seorang wanita idaman laki-laki karena tidak hanya cantik namun ia juga memiliki akhlak yang baik dan potensial di bidangnya. Tapi kenapa Rasya lebih memilih Resa?


"Ah ga mungkin ini pasti bohongkan mam, A Rasya belum menikah?"


"Memang benar kata mama De, Resa istri Aa." Rasya menjawab dari kejauhan sambil berjalan menghampiri Resa yang masih berdiri dengan bergeming. Rasya merangkul bahunya. Ada rasa nyeeees dalam hati Resa diperlakukan manis di hadapan keluarganya. Resa tersenyum menatap Rasya. Ini yang disukai Rasya, istrinya bisa tersenyum manis pagi ini.


"Sekarang kamu boleh manggil Resa dengan teteh atau kakak, karena sekarang Resa kakak iparmu. Semoga kalian rukun ya! Lupakan salah paham yang sudah terjadi. Oiya mana teh buatku sayang?" Seolah Rasya tahu kemelut yang terjadi di dapur pagi ini. Resa terkesiap ia sampai lupa dengan tujuannya ke dapur.


"Belum dibuat." Resa cengengesan, ia langsung melepas rangkulan tangan Rasya.


Sebelum duduk tangan Rasya sudah ditarik Lisa keluar menuju taman belakang.


"Kita bicara kak!"


-


-


Rasya menghempaskan tangan Lisa.


"Kenapa sih, De?"

__ADS_1


"Maksud Aa apa nikah ga ngasih tau Lisa? Terus kenapa nikahnya sama si bar-bar bukan dengan ka Wafa?"


"Bar-bar? Siapa yang kau maksud bar-bar?"


"Ya itu siapa lagi kalau bukan istri Aa yang bar-bar , si Resa." Rasya ngakak. Lisa bersungut.


"De...dia kakak iparmu panggil dia teteh atau kakak, paham!" Lisa masih mode cemberut.


Rasya sampai mengeleng-gelengkan kepalanya menghadapi dua orang perempuan yang sangat ia sayangi selain mamanya. Luaaaar biasa pagi ini.


Langkah Rasya mendekati Lisa yang sedang kesal dan kecewa, lalu ia berbisik;


"Jawabannya nanti kamu akan tahu adikku sayang. Hayu ke dalam nanti ada kejutan buatmu!"


-


-


Alhan menggandeng Wafa menuruni tangga. Senyumnya mengembang di setiap langkahnya. Mereka melangkah menuju ruang makan sesuai instruksi dari mbok Minah, karena anggota keluarga Rasya sudah menunggu mereka di sana.


"Nak Alhan dan wafa sudah rapih nih. Sini kita sarapan bersama." Ajak papanya Rasya. Bahagia rasanya di rumahnya kedatangan tamu apalagi sampai menginap, rumah yang sepi menjadi ramai.


"Han jadi pulang hari ini?"


"In syaa Allah tapi kami mau bersilaturahmi dulu ke rumah kakeknya Wafa."


"Oh ya, orang sini juga?"


"Iya pak kakek di Rancabali."


Papa mengangguk paham.

__ADS_1


"Kak Alhan...Ya Allah apa kabar! Ih kakak tambah ganteng aja nih. Lihat nih kak, Lisa sudah besar kuliah saja semester 5. Sekarang Lisa bukan anak kecil lagi, biarpun Lisa masih kuliah Lisa siap kok kalau kakak mau menikahi Lisa. Banyak kok mahasiswa yang sudah berumah tangga, gimana kak?" Semua orang yang ada di ruang makan melongo dibuatnya.


Alhan memang cinta kedua bagi Lisa setelah papanya. Ia mencintai Alhan sejak Lisa masih SMA. Waktu itu Alhan senang bercanda tertawa bersama saat bermain ke rumahnya. Lisa memang berubah. Dia semakin cantik namun Alhan tidak pernah mengira kalau ternyata adik dari sahabatnya itu menaruh hati padanya yang jelas tak mungkin untuk digapai karena sekarang Wafa yang sudah menjadi pemilik hati satu-satunya yang tak pernah terpisahkan oleh ruang dan waktu .


__ADS_2