
" Ya ada apa?" Alhan menerima telepon dari Rasya, ia melirik istrinya yang sedang menatap kaca jendela mobil. Sungguh ia tidak tega melihatnya menangis terisak, ingin rasanya ia memeluknya saat ini juga.
"Han tadi bapak yang di rumah sakit bilang terima kasih karena istrimu sudah banyak membantunya, Kayaknya istrimu juga yang sudah membayar semua biaya rumah sakit sampai lunas. Ternyata istrimu tidak pernah berubah ya! Dia masih seperti dulu. Sifat dermawannya yang membuat keberkahan pada klinikmu juga. Aku benar-benar salut pada istrimu. Tapi sayang dia hanya memilihmu padahal aku sangat mengharapkannya waktu itu. Tolong Han jangan pernah menyakitinya, jadikan istrimu orang yang spesial dihatimu. Kalau kamu mengenalnya lebih dekat kamu pasti akan menyesal sudah pernah berbuat kasar padanya." Alhan menurunkan hapenya. Bulir bening keluar dari pelupuk matanya.
Memang benar sesungguhnya Alhan belum mengenal Wafa lebih dalam. Ia masih mementingkan egonya. Wanita yang ada di sampingnya terlihat begitu rapuh. Seharusnya liburannya diisi dengan keceriaan dan kebahagiaan setelah berhasil meluluhkan keluarga Rasya untuk menerima Resa sebagai bagian dari keluarganya. Namun mengapa yang terjadi justru tangisan yang ia ciptakan sendiri? Alhan merasa bersalah.
Rasya memberitahukan segalanya yang ia tidak tahu, sungguh Rasya seperti sedang memantau kehidupannya sehingga Rasya tahu apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Wafa. Rasya rela dan ikhlas melepas berliannya hanya untuk sahabatnya. Ini dilakukan Rasya hanya karena ingin melihat kebahagiaan Wafa.
Perlu diingat bahwa rasa sayangnya pada Wafa begitu dalam sehingga Rasya menyetujui dengan senang hati ketika Wafa mau menganggap Rasya sebagai kakak angkatnya. Rasa yang masih tertinggal di hati sudah mulai tergilas sejak kehadiran Resa yang selalu memberi warna tersendiri dalam hidupnya. Hanya sekelumit rasa sayang pada adik angkatnya yang menyebabkan Rasya tidak akan tinggal diam kalau ternyata Alhan menyakiti Wafa baik jiwa maupun raga.
Alhan menarik nafas begitu dalam lalu ia hembuskan pelan untuk menetralkan suasana hati yang tidak menentu. Ia hanya memandang kaca depan yang memperlihatkan aktivitas masyarakat yang berbeda-beda.
"Maafkan aku Wafa ternyata aku belum mengenalmu lebih dalam. Dan ironisnya orang lain lebih tahu segalanya tentangmu. Aku malu pada diriku sendiri, Diri yang masih arogan dalam menghadapi masalah, diri yang selalu mengikuti ego. Diri ini jauh dari kata sempurna." Alhan menoleh ke samping kirinya terlihat Wafa tertidur dengan lelehan air mata di pipinya. Hidungnya memerah.
Alhan mengusap air mata itu dengan jempolnya. Ia semakin merasa bersalah.
Ia menatap intens istri tercintanya yang sedang tidur. Entah apakah permohonan maaf yang ia lontarkan barusan didengar istrinya atau tidak? Setidaknya ia lega telah mengungkapkannya walaupun istrinya dalam keadaan tidur, ya hitung-hitung masa percobaan sebelum mengatakan langsung berhadapan dengan orangnya. Yang tentunya butuh nyali dan harapan agar istrinya bisa memaafkannya.
Alhan melajukan mobilnya tanpa berniat untuk membangunkannya. Biarlah istrinya itu tertidur dengan damai hanya suara musik yang meramaikan keheningan malam dalam perjalanan.
Tidak terasa perjalanan yang ditempuh selama 5 jam akhirnya sampai juga.
Alhan turun dari mobilnya untuk membuka pintu pagar. Setelah itu kembali menuju mobilnya untuk memarkirkan mobil di halaman rumah. Tidak ada satpam atau asisten di rumahnya, sehingga malam itu Alhan melakukannya sendiri mulai membuka pintu pagar, pintu rumah sampai menutupnya kembali.
Rumah yang telah ditinggalkan selama 2 hari terlihat masih rapih. Alhan yang menggendong istrinya membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kaki kanannya, dengan pelan ia membaringkan istrinya yang tertidur pulas tanpa terganggu di tempat tidur ukuran king size.
__ADS_1
Tidak ada aktivitas lain yang yang dilakukan setelah membersihkan diri di kamar mandi. Ia ikut berbaring di samping istrinya. Tak menunggu waktu lama matanya pun ikut terpejam.
-
-
Azan subuh samar-samar terdengar mengalun begitu merdu memaksakan kedua mata manusia harus terbuka walaupun dalam keadaan lelah dan ngantuk.
Dengan mata terpejam tangan itu meraba-raba tempat tidurnya ternyata orang yang menemaninya tidur sudah tidak ada di sampingnya. Mata itu terpaksa ia buka perlahan.
Raganya harus dipaksakan untuk beranjak dari tempat yang membuat dirinya hanyut ke alam mimpi.
Ia membuka pintu kamar mandi ternyata nihil, istrinya tidak ada di sana. Lantas kemana? Alhan mau tidak mau harus mencari istrinya di bawah, ia tidak ingin permasalahan kemarin berbuntut panjang sampai harus membuat Wafa pergi dari rumah.
Lega ternyata istrinya berkutat di dapur.
Alhan sudah rapi memakai baju koko dengan kopeah di kepalanya.
"Iya mas." Wafa melihat sepintas suaminya yang sudah siap pergi ke masjid terdekat.
Memasak dengan menu seadanya sesuai dengan bahan yang ada di kulkas terciptalah masakan sederhana yang menggugah selera. Pagi ini Wafa memasak omelet dan sayur bayam. Diusahakan setiap hari harus ada sayur sebagai salah satu menu wajib. Sarapan harus diisi dengan makanan sehat dan bergizi karena ini baik untuk kesehatan tubuh.
"Emmmmh istriku masak apa sih? Pagi-pagi sudah menyibukkan diri di dapur."
"Eh mas sudah datang. Ini makan seadanya ya mas. Hanya menu ini yang ada di kulkas. Oiya aku mandi dulu!" Setelah mencium tangan suaminya ia langsung beranjak dari dapur untuk mandi di kamar mandi utama. Alhan mengekor.
__ADS_1
"Mas kok ngikutin? Duluan aja makannya!"
"Engga mau. Aku maunya makan sama kamu.
"Hadeuh mas aku tuh mau mandi dulu. Khawatir mas lapar, duluan aja."
"Engga bisa aku mau kita makan bersama. Aku tunggu di kamar saja." Alhan sedikit ngeyel. Namun sebenarnya Alhan ingin menuntaskan masalah yang yang terjadi kemarin.
Wafa keluar kamar mandi sudah berpakaian lengkap. Alhan mematikan laptopnya begitu istrinya sedang bercermin. Ia beranjak menghampiri istrinya yang duduk berhias di depan cermin.
"Istriku walaupun tidak dandan tetap cantik." Wafa hanya tersenyum. Alhan berjongkok mengimbangi duduknya Wafa. Matanya menatap istrinya dengan sayu. Wafa sedikit risih dibuatnya.
"Kenapa?" Tanya Wafa heran.
"Sayang aku mau minta maaf." Suara itu akhirnya keluar juga.
"Maaf. Untuk kesalahan yang mana ya?"
Deg
"Mungkin kesalahanku sangat banyak. Untuk itu aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu." Alhan berdiri meraih tangan Wafa mengajaknya duduk di sofa.
"Maafkan aku jika aku belum bisa mengenalmu lebih dalam. Ternyata kamu seorang dermawan yang patut dibanggakan. Terus terang aku baru tahu itu. Ternyata istriku sosok penolong bagi kaum lemah. Aku sangat mengapresiasi."
Alhan menghela nafasnya dalam.
__ADS_1
"Aku berpikir selama ini aku terlalu bangga pada pekerjaanku sehingga melupakan perasaan istriku. Sampai aku tega meninggalkan istriku pada malam pertama demi pekerjaan. Sejujurnya pertemuanku dengan masa laluku hanya kebetulan. Perlu kamu ketahui semenjak aku mengucapkan ijab kabul saat itu hanya kamu yang ada di hatiku. Aku tak pernah sedikitpun berpikiran untuk kembali ke masa lalu. Masa depanku adalah kamu. Kalau memang hal ini membuat kamu merasa sakit hati tolong maafkan aku!"