
Alhan masih bergeming. Bagaimana ia akan menghadapi orang tuanya Rasya terutama ibunya yang memiliki kriteria untuk pasangan hidup anaknya.
Kalau saat itu Wafa yang menjadi kandidatnya orang tua Rasya pasti akan menyetujuinya karena banyak kriterianya ada pada diri Wafa yakni calon menantu harus dari tenaga kesehatan selain itu Wafa juga cantik dan komunikatif, pengertian, bisa masak dan yang lain-lain. Pokoknya calon menantu harus klop dengan calon mertua.
Apakah kriteria tersebut ada pada Resa? Sementara Resa saja masih kuliah. Kalau masak? Resa memang sudah teruji masakannya di kampusnya karena hampir tiap hari Resa selalu membawa bekal ke kampus untuk makan bareng teman-temannya yang asiknya lagi dosennya ikut nimbrung bancakan bersama.
Mereka yang menyicipi hasil masakannya semua bilang enak berarti lidah mereka cocok dengan rasa masakan yang ia buat. Tapi kalau lidah mertua apa iya nantinya bisa cocok dengan masakan yang ia buat. Entahlah. Yang pasti restu orang tua Rasya sangat diharapkan. Mengingat Resa sekarang benar-benar menjadi istri seutuhnya.
"Gimana Han bisa, kan?" Rasya harap-harap cemas, khawatir Alhan dan Wafa tidak bersedia untuk menolongnya.
"Baiklah biar besok aku izin ga ke kampus. Kalau kamu sayang bisa izin tidak? Sebisa mungkin izin satu hari saja demi sahabatku ini" Titah Alhan ia ingin perjalanannya ke Bandung ditemani istri tercinta.
"Insyaa Allah mas. Aku izinnya hari ini saja." Wafa dengan cepat menekan nomor ponsel dokter yang ada di puskesmas.
Dua mobil keluar dari pintu pagar rumah AW menuju rumah orang tua Rasya yang berada di Bandung.
Di dalam mobil yang ditumpangi Rasya dan Resa tidak ada yang mau memulai percakapan selama perjalanan mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Resa lebih pada mempersiapkan hati dan mental untuk bisa bertemu dengan mertuanya sedangkan Rasya memikirkan bagaimana mengatakan hal yang sebenarnya tentang pernikahan mereka agar orang tuanya tidak tersinggung karena pernikahan dadakannya.
Resa menggigit bibir bawah resah dan gelisah menjadi satu. Entahlah perasaan itu berkecamuk dalam hatinya. Masih ada rasa kekhawatiran mertuanya tidak menerimanya sebagai menantu.
"Sa....kamu kenapa sayang?" Tanya Rasya lembut.
"Aku takut kak. Aku takut bertemu mertuaku sendiri." Rasya menggenggam telapak tangan Resa yang begitu dingin.
"Kamu tenang ya! Coba ubah pikiran negatifmu menjadi pikiran yang positif menilai kedua orang tuaku. Katakan pada dirimu mertuaku baik dan sayang padaku katakan kalimat itu berulang-ulang sampai tersugesti dengan sendirinya. Insya Allah apa yang kamu katakan tadi Allah kabulkan karena apa yang kita ucapkan adalah doa, ingat itu." Rasya mengingatkan istrinya tentang ilmu psikologi. Resa mengangguk paham.
"Mertuaku baik dan sayang padaku."
"Bagus. Lakukan berulang-ulang ya!" Rasya tersenyum. Setidaknya pengalamannya bisa dijadikan pembelajaran untuk menenangkan istrinya.
"Mertuaku baik dan sayang padaku." Kalimat tersebut Resa ucapkan dalam hati untuk menetralkan pikirannya.
"Ya Allah tenangkan pikiranku. Mertuaku baik dan sayang padaku." Terus dan terus sampai Resa tertidur.
__ADS_1
Rasya melirik Resa lantas tersenyum.
"Kasihan kamu sayang. Maafkan aku seharusnya aku menikahimu dengan semestinya dengan dihadiri orang tua kita. Sehingga hal ini tidak akan terjadi. Apa pun yang terjadi aku selalu ada di sampingmu.'
-
-
Perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Rasya dan Alhan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang berada di perumahan elit kota Bandung.
Rumah yang berlantai dua memiliki taman yang begitu luas. Asri dan meneduhkan mata. Kesan awal siapapun pasti akan betah tinggal di rumah ini.
Di halaman sudah ada motor matic yang terparkir. Rasya sudah bisa menebak siapa yang ada di dalam rumahnya. Teman masa kecilnya selalu datang ke rumah menemani mama Azka Mamanya Rasya.
"Assalamualaikum...."Mereka serempak mengucapkan salam. Belum dipersilakan masuk mereka masuk sesuai perintah Rasya. Rasya langsung menemui mamanya ke dapur sementara Alhan, wafa dan Resa menunggu di ruang tamu.
"Walaikumussalam....Rasya! Tumben kamu pulang?"
"Dih mama engga asik. Anaknya pulang dibilang tumben." Rasya menepuk keningnya. Itulah mama dan anak selalu santai dalam bercengkrama dan sering bercanda.
"Rasya panggil dia dokter Mela. Dia sudah dokter loh!"
"Panggilan dokter itu kalau di luar rumah kalau di dalam rumah ga usahlah sebut-sebut nama gelar segala. Geli dengernya." Rasya ngakak. Mama Azka melotot.
"Rasya!"
"Iya mama. Mel....eh dokter Mela ngapain di sini?"
"Dokter Mela tadi bantuin mama masak. Ayo kita makan dulu. Oiya tadi kamu bawa siapa ke sini?"
"Eh iya lupa. Tadi Rasya ke sini bareng teman dan istri." Bisa-bisanya Rasya lupa kalau ia pulang bawa orang lain. Mereka bertiga berada di ruang tamu.
"Suruh masuk Sya. Kita makan bareng." Perintah mama Azka. Rasya langsung menuju ruang tamu.
"Assalamualaikum apa kabar Mama!" Alhan mencium tangan mama Azka dengan santun. Begitu mereka berada di ruang makan.
__ADS_1
"Walaikumussalam kamu.....kamu Alhan kan? Ya ampun Han lama sekali ga main ke sini. Duh maaf ya waktu kalian nikah mama ga bisa datang. Saat itu papa Rasya sedang sakit.'
"Engga apa-apa Ma. Yang penting sekarang kita semua sehat. Oiya Mama kenalkan ini istri saya dan ini adik sepupu istri saya." Wafa dan Resa tersenyum, mereka mencium tangan mama dua orang anak ini.
"Wah cantik-cantik ya! Ayo sini semua duduk kita makan siang bersama.
Rasya menarik kursi untuk Resa sedangkan Alhan menarik kursi untuk Wafa.
Rasya duduk di sebelah Resa. Hal itu tidak luput dari perhatian teman masa kecilnya itu. Mela memperhatikan perlakuan Rasya terhadap gadis cantik berhijab berwarna dusty. Perhatian Rasya pada Resa sangat berbeda bukan seperti pada teman tapi lebih dari sekedar teman.
Tidak ada yang bersuara ketika mereka makan. Hanya dentingan suara sendok dan garpu yang sedang berdansa di atas piring mereka.
Rasya makan sampai nambah dua kali. Kalau masakannya enak pasti Rasya akan menambah porsi dua sampai tiga kali.
" Mama tumben masakan ini beda siapa yang masak ma?" Tanya Rasya sambil mengunyah makanannya yang hampir habis.
Mama menunjuk Mela dengan dagunya.
"Dokter Mela yang masak? Wah banyak kemajuan sekarang selain sudah jadi dokter sekarang kamu sudah bisa masak. Beneran ini enak, masakanmu ala-ala restoran." Puji Rasya yang mendapat tatapan horor dari Alhan dan Wafa. Bisa - bisanya ia memuji hasil masakan perempuan lain di hadapan istrinya sendiri.
Manyadari hal itu Rasya mengusap tengkuknya dengan muka yang memerah. Lantas ia melirik istrinya yang berada di samping kanannya. Istrinya menunduk sedang menekan sabar.
"Ya iyalah Sya. Namanya juga calon mantu harus bisa masak. Dokter Mela ini calon menantu ideal bagi mama. Selain dokter ia bisa masak juga, keren kan?" Mama Azka begitu bahagia.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Resa tersedak mendengar penuturan mertuanya.
"Sayang kamu kenapa? Makannya pelan-pelan dong...ini diminum dulu." Reflek Rasya bilang sayang di hadapan semua orang. Jelas semua kaget.
"Sayang? Apa maksudnya dengan sayang?" Mama Azka meminta penjelasan Rasya.
__ADS_1