CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 85 Surprise buat Mama


__ADS_3

"Sayang duduklah kita makan siang dulu ya!" Titah Mama Meilan.


"Herdi duduklah tamu kita sudah menunggumu sejak tadi. Mereka akan menjadi bagian keluarga kita." Sambung Papa Lukas.


Herdi duduk tepat berhadapan dengan Siska yang sedang duduk manis. Matanya masih menatap nanar mereka secara bergantian.


Terlihat Siska merapikan rambutnya sambil tersenyum. Ia sangat senang dengan acara ini. Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pertunangan dirinya dengan Herdi, orang yang sangat ia cintai. Ia tidak peduli dengan informasi di lingkungan tempat tinggalnya. Yang penting mamanya tidak tahu kalau Herdi yang di maksud adalah calon tunangannya.


Kalau saja Nurmala langsung ikut ke dalam bersamanya tentu pertemuan dengan orang tuanya pun bisa segera dilakukan sekaligus mengumumkan bahwa Nurmala adalah istrinya yang sudah melahirkan keturunan Lukas.


Namun karena Dede Panji buang air jadi Nurmala harus menggantikan popok Dede Panji terlebih dahulu di dalam mobilnya, agar Dede Panji tidak rewel. Itu kemauan Nurmala agar acara makan siang di rumah orang tua Herdi tidak terganggu karena kehadiran mereka apalagi kalau sampai Dede Panji menangis.


Mbok Ijah mendapatkan pesan dari Herdi agar mengantar Nurmala masuk ke dalam rumahnya. Kalau Nurmala selesai menggantikan popok Dede Panji.


Nurmala duduk di ruang tamu setelah mendengar perdebatan mereka di ruang makan. Ingin rasanya ia segera pergi saja dari rumah itu. Apalagi ketika ia mendengar bahwa suaminya akan ditunangkan dengan anak sahabat mamanya Herdi. Perih rasanya.


Bulir bening lolos juga dari mata indah Nurmala. Ia menatap Dede Panji yang masih bayi, kemudian membuainya dengan kasih sayang. Diciumnya kening sang anak, terenyuh mengingat keberadaannya yang membutuhkan pengorbanan dengan keikhlasan. Mengandung dan melahirkan tanpa didampingi seorang suami.


Nurmala masih belum berani bergabung bersama mereka di ruang makan. Ia tidak ingin merusak moment mereka, di sisi lain ia pun tidak ingin acara tersebut terlaksana dengan lancar.


"Jadi bagaimana? Kapan acara pertunangan kalian akan dilaksanakan?" Papa Lukas menanyakan hal tersebut pada keduanya, Herdi dan Siska.


Deg


Deg


Kalimat itu mampu menjatuhkan air bening di mata Nurmala. Benarkah Herdi akan menerima perjodohan itu dengan menerima wanita tersebut sebagai calon tunangannya? Lantas bagaimana dengan nasib Nurmala dan juga anaknya?

__ADS_1


Herdi bergeming. Sementara Siska tampak sumringah, wajahnya berbinar. Siapa yang tidak mau dijodohkan dengan pengusaha sukses seperti Herdi? Wajah yang tampan, karir sangat menjanjikan. Apalagi Herdi anak tunggal dalam keluarganya sudah otomatis kekayaan orang tuanya tidak akan habis tujuh turunan.


"Herdi.....Herdi!" Papa Lukas memanggil Herdi yang sedang melamun. Tangan mama Meilan mengusap punggung Herdi sehingga Herdi terhenyak.


Herdi menoleh, mama Meilan menunjuk papa Lukas dengan dagunya. Kemudian berbisik.


"Papa tadi tanya kapan kalian akan bertunangan?"


"Tidak akan ada pertunangan di antara kami!" Jawab Herdi lantang.


Jawaban Herdi membuat mereka kaget. Wajah Siska berubah menjadi pucat. Begitu pun orang tua Siska. Ia tidak menyangka Herdi menolak pertunangan dengan anaknya, sungguh keterlaluan. Apa kurangnya Siska? Dia cantik, menarik, karir juga bagus banyak nilai plus dari Siska di mata orang tuanya.


"Sayang kamu bercanda bukan?" Mama Meilan jadi tidak enak hati dengan jawaban anaknya yang di luar dugaan. Papa Lukas menahan marah.


"Herdi tidak bercanda mam. Pertama Herdi tidak pernah tahu ternyata acara ini untuk membicarakan hari pertunangan. Kedua Herdi....."


"Karena Herdi...." Tenggorokan Herdi tercekat. Sulit untuk mengatakan kebenarannya. Ia ternyata belum siap mengutarakannya apalagi melihat sorot mata papa Lukas yang siap menerkam hidup-hidup dirinya karena sudah lancang dalam berbicara.


"Apa-apaan ini? Katamu Herdi sudah siap dengan perjodohan ini. Kenapa endingnya seperti ini?" Tanya mama Siska tidak terima.


"Maaf bu saya tidak tahu mengapa Herdi jadi berubah pikiran begitu. Saya akan bicarakan ini pada Herdi bu. Saya akan paksa Herdi untuk segera menikah dengan Siska tanpa harus bertunangan dulu."


"Baik selesaikan dulu masalah anakmu itu. Saya tidak mau menanggung malu. Kalau memang tidak bersedia katakan dari awal dari pada membuat harapan yang tidak pasti pada anakku. Permisi!"


"Bu tunggu dulu ....bu kita bisa bicarakan ini sekarang. Kita makan siang dulu...bu, pak, Siska.....saya mohon makan siang dulu!" Bujuk mama Meilan.


"Tidak perlu kami jadi tidak berselera, kami makan di luar saja. Ayo pap, Sis kita pergi!" Mama Siska menarik anaknya yang diam terpaku.

__ADS_1


Mereka berpapasan dengan Nurmala yang berdiri sambil menggendong bayi.


Mama Siska menghentikan langkahnya.


"Kamu siapa? Dan siapa anak yang kamu gendong itu?" Mama Siska ingin kejelasan. Ia tidak ingin anaknya menikah dengan orang yang salah.


"Saya..." Tenggorokan Nurmala tercekat ia tidak melanjutkan kata-katanya begitu melihat sorotan tajam dari mama Meilan. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Dia istri dan anak Herdi tante. Itulah sebabnya mengapa Herdi tidak mau bertunangan apalagi menikah dengan Siska."


"Apa kalian sudah menikah? Bu Meilan ini sungguh keterlaluan, ini penghinaan buat anak kami. Detik ini juga kami putuskan tidak ada lagi perjodohan pada anak-anak kita. Kami kecewa dengan kalian. Permisi!" Mereka pergi dengan kekecewaan yang mendalam. Mereka tidak pernah menduga endingnya akan seperti ini.


"Bu pak maaf ini semua di luar dugaan, kami sendiri tidak tahu kalau mereka sudah menikah. Ini diluar sepengetahuan kami. Tolong bu jangan putuskan perjodohan mereka. Biar mereka bercerai setelah ini." Mama Siska mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menanggapi omongan Meilan sahabatnya.


Bisa-bisanya anak yang sudah menikah disuruh bercerai demi menikah lagi dengan anaknya. Kalau suatu saat anaknya bernasib seperti itu bagaimana nasib anaknya kelak? Mama Siska tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.


Mama Meilan hendak mengejar tamunya sampai ke parkiran namun papa Lukas menghentikan langkahnya dengan menarik pergelangan tangannya.


"Jangan kau mempermalukan dirimu pada sahabatmu. Kau dengar tadi anak kita sudah menikah. Siapa yang mau dengan anak kita kalau statusnya sudah menikah? Ayo masuk!"


"Tapi pa...." Mama Meilan menahan marah. Ia geram dengan sikap Herdi.


Tatapan tajam papa dan mama Herdi menyorot pada kedua insan yang sedang berdiri di ruang tamu. Nurmala menunduk begitu tahu mereka menatapnya dengan horor. Apalagi melihat tatapan mama Meilan sungguh mengerikan.


Tamparan keras mendarat di pipi Herdi. Mama Meilan kecewa dengan sikap anaknya.


"Kamu sudah mengecewakan mama dan papa. Apa hebatnya perempuan ini hah? Sampai kamu rela meninggalkan keyakinanmu juga untuk menikah dengan perempuan miskin ini. Kamu tahu sampai kapanpun juga mama tidak akan merestui kalian. Sampai kapan pun, ingat itu!" Nafas mama Meilan terengah-engah. Papa Lukas memberikan segelas air putih untuk menetralkan hati istrinya. Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Mama tenangkan pikiran mama jangan emosi. Istirahatlah biar masalah ini papa yang atasi." Papa Lukas membimbing mamanya yang masih syok dengan surprise yang diberikan anaknya.


__ADS_2