CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 32 Hukuman


__ADS_3

Kalau saja ayah Danu tidak masuk rumah sakit saat itu kemungkinan besar peristiwa tersebut tidak akan pernah terjadi. Karena ayah Danu pasti akan berusaha selalu mengawasi kemana pun anak- anaknya pergi. Kalaupun Nurmala pergi keluar dengan Herdi ada orang ketiga yang selalu menemani kebersamaan mereka.


Hanya Alhan saja yang tidak pernah Nurmala ajak ke rumah. Selama berhubungan dengan Alhan, Nurmala enggan mengajaknya untuk singgah ke rumah dengan berbagai alasan sehingga orang tuanya tidak mengetahui jika putrinya memiliki 2 cinta.


Herdi memang sangat baik, ia termasuk dekat dengan kedua orang tua Nurmala namun siapa sangka kebaikannya itu harus ditebus dengan kehormatan putrinya. Danu begitu kecewa karena orang yang selama ini sudah berbuat baik kepada keluarganya justru menghancurkan masa depan putrinya.


Rasa kekecewaan yang mendalam pada Herdi begitu membuncah. Kalau Danu mampu untuk mengembalikan sesuatu yang pernah diberikan Herdi pada keluarganya ia akan kembalikan saat ini juga. Tetapi karena banyaknya pengeluaran akhir-akhir ini Danu tidak bisa membayarnya. Rahangnya mengeras giginya bergemeletuk mau tidak mau suka tidak suka ia harus membuat suatu keputusan agar putrinya jera dan mau bertaubat.


Bu Danu menyerahkan segelas air putih kepada suaminya untuk meredam kemarahan. Pak Danu meneguknya sampai tuntas, kemarahan membuat tenggorokannya menjadi kering. Nurmala masih menunduk tak kuasa menatap ayah ibunya. Air matanya masih meleleh.


"Setelah ini tidak ada lagi pertemuan kau dengan si Herdi itu." Nurmala mendongakkan kepalanya.


"Tapi Yah, Herdi mau bertanggung jawab menikahiku sebelum anak ini lahir."

__ADS_1


"Tidak ada pernikahan sebelum anak itu lahir!" Tegas Ayah Danu.


"Tapi Yah, apa kata orang kalau aku belum menikah sementara perutku semakin membesar? Aku malu yah."


"Malu katamu? Saat kamu melakukannya bersama Herdi di mana rasa malu kamu itu, sembunyi? Hah!" Ayah Danu tertawa sinis.


"Dan saat kamu melakukannya kamu tidak pernah berpikir dampak negatif setelah melakukan hubungan haram itu. Tidak ada pertemuan selama kamu hamil. Dan juga tidak ada pernikahan. Kamu boleh menikah setelah 40hari melahirkan. Terserah kamu mau menerima atau tidak, ini sebuah hukuman buat kamu. Ayah tidak ingin masyarakat mengikuti jejakmu terutama adikmu."


"Mana hape?"


"Buat apa , yah?"


"Berikan pada ayah CEPAT!" Nurmala memberikan hp dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Ingat ini Nur, tidak ada komunikasi dengan Herdi dalam bentuk apa pun, ini hukuman yang harus kamu dan Herdi jalani agar kalian bertaubat, pikirkan dan sesali perbuatanmu!" Kedua orang tua Nurmala segera masuk kamar setelah berbicara dengan anak sulungnya.


Runtuh sudah harapan yang akan ia bina bersama Herdi dalam waktu dekat. Ia harus lebih bersabar menunggu 8 bulan untuk bisa hidup bersama Herdi. Ternyata apa yang diharapkan seseorang belum tentu Allah kabulkan.


Nurmala mematung mencerna perkataan ayahnya yang begitu menohok. Bisakah ia hidup tanpa bayang-bayang Herdi. Tanpa menatapnya tanpa komunikasi. Semua terasa hampa. Kamu pasti bisa Nur, hanya menunggu waktu 8 bulan saja itu waktu yang sebentar. Ya sebentar karena waktu akan begitu cepat berlalu.


Nurmala mengusap air matanya dengan kasar sambil membereskan barang cemilan yang masih berserakan di lantai kemudian ia berjalan sambil membawa kantong plastik yang berisi susu ibu hamil dan cemilan dengan mata kosong.


-


-


Sejak mengetahui Nurmala berbadan dua Herdi selalu menyempatkan diri untuk selalu menghubunginya. Ia tidak ingin melewati kesempatan untuk memberikan perhatian pada ibu dari anaknya kelak. Namun berkali-kali menghubunginya ternyata hapenya tidak aktif. Herdi khawatir terjadi sesuatu pada calon istrinya itu. Sepulang kerja ia bertolak ke rumah Nurmala untuk menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2