CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 49 Terjebak dalam Lift


__ADS_3

Resa menatap baju yang bergantung di dalam lemari. Entah mengapa dia begitu kepikiran dengan pemilik baju itu. Ia teringat ketika awal bertemu dengan dr. Rasya di tempat neneknya saat acara lamaran kakak sepupunya, Wafa. Tidak sengaja ia menyiram batik yang dikenakan Rasya dengan semangkok sop.


Pertemuan keduanya di tempat resepsi pernikahan Alhan dan Wafa, Resa dengan sengaja menumpahkan segelas jus ke baju yang dikenakan Rasya. Mulut Resa tertarik ke atas. Entah apakah nanti ada pertemuan ketiga, keempat , kelima atau bahkan nanti sering bertemu. Yang pasti ia terus berharap akan ada pertemuan kembali dengan dr. Rasya.


Namun ia teringat akan janjinya pada dr. Rasya bahwa ia akan mengembalikan baju tersebut di mana pun Rasya berada akan dicari untuk memenuhi janjinya. Ia pun teringat pesan terakhir dokter muda tersebut kalau baju-bajunya tidak perlu dikembalikan hanya karena ingin dijadikan sebagai obat rindu kalau Resa rindu padanya, maksudnya apa? Resa jadi bingung dibuatnya.


Dr. Rasya memang cinta pertama bagi Resa. Peraturan dalam keluarganya yang tidak memperbolehkan berpacaran memiliki nilai positip bagi Resa. Keluarganya sangat menghargai sebuah kehormatan wanita dan menjunjung tinggi harga diri wanita maka hal itu membuat Resa harus lebih hati-hati dalam bergaul agar tidak terperosok dalam kenistaan.


"Sudah siap-siap mau pergi, Sa?" Kak Ramlan tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Iya kak. Aku di sana untuk beberapa hari ke depan, mumpung libur."


"Sudah kau hubungi ?Khawatir kehadiranmu mengganggu mereka."


"Katanya sih engga. Malah Kak Wafa senang banget karena mau ada yang bantuin beberes rumah. Rese kan dia?"


"Bagus itu tidak apa-apa yang penting bernilai positip untuk kebaikan masa depanmu. Jadi belajar menjadi ibu rumah tangga yang dibanggakan suami dan keluarganya tidak akan sia-sia, mau diantar? Mumpung kakak juga mau ada perlu."


"Mau.....mau sebentar lagi berangkat ya kak!" Resa langsung mengemas perlengkapannya.


Resa berangkat ke rumah Wafa dengan diantar kakak satu-satunya, Ramlan.


-


-

__ADS_1


Wafa sudah mulai tugas hari ini. Setelah menikah Wafa harus bisa membagi waktunya untuk suami. Biasanya Wafa memulai kegiatan pada pagi hari di puskesmas, sorenya ia harus ke klinik karena banyak pasien yang hanya ingin ditangani oleh bidan Wafa yang terkenal baik, murah senyum dan dermawan. Capek? Tentu saja.


Sebenarnya sejak menikah kehidupan Wafa sudah terjamin namun karena ia sangat dibutuhkan masyarakat maka dalam keadaan apa pun seorang bidan harus siap melayani masyarakat. Kesibukan yang luar biasa. Terkadang suaminya tidak langsung pulang ke rumah, Alhan menghabiskan waktunya di klinik bersama sang istri.


Ramlan menghentikan mobilnya di parkiran klinik, karena ia belum tahu rumah Wafa yang baru. Jadi ia hanya mengantarkan Resa sampai klinik. Suasana Klinik saat ini begitu ramai. Resa menghampiri resepsionis untuk menanyakan keberadaan Wafa karena ini kali pertama Resa ke klinik.


"Maaf Anda siapa?" Tanya Renata sebagai resepsionis.


"Saya Resa adik sepupu bidan Wafa. Bidan Wafanya ada, mbak?"


"Oh ya bidan wafa belum datang tapi tadi beliau memberitahu lewat hape, anda disuruh langsung ke ruangannya saja. Ini kunci cadangannya. Ruangannya ada di lantai 2." Renata menyerahkan kunci ruangan pada Resa.


Tanpa menunggu lama Resa langsung menuju ruangan Wafa di lantai 2.


Sampai di depan ruangan ia membuka pintu dengan kunci cadangan. Sepi dan sunyi. Ia meletakkan tas ranselnya di atas sofa. Ia mengedar di sekitar ruangan. Di atas meja terdapat foto pernikahan AW (Alhan & Wafa) tampak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Ia meletakkan kembali foto tersebut di tempat semula. Kemudian Ia duduk di sofa sambil membaca buku novel yang terletak di atas meja.


Suara perut Resa menendang-nendang. Ia melihat waktu di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 14.00 pantas saja sudah saatnya perut harus diisi karena waktunya makan siang. Ia pun turun hendak membeli makanan. Ia mengunci kembali ruangan tersebut. Ia menuju lantai bawah, sengaja ingin membeli langsung ayam geprek kesukaannya sekaligus menghilangkan penat, dari pada menunggu Wafa lebih baik ia jalan-jalan keluar sambil membeli menu makan siang yang akan dibungkus biar bisa makan bareng sepupunya itu.


Tidak lama kemudian Resa kembali dengan dua porsi ayam geprek plus nasi dan air mineral.


Setengah berlari ia menghampiri lift yang akan segera tertutup ia langsung masuk begitu saja tanpa memperhatikan sekelilingnya. Di dalam tersebut ternyata hanya ada dua orang, dia dan laki-laki bermasker. Laki-laki berjas putih itu tampaknya seorang dokter. Ia sedang menelpon seseorang.


"Sebentar saya ke ruangan dulu, ada berkas yang harus diambil jadi tolong tangani saja dulu pasien yang ada sekarang."


Resa seperti tidak asing dengan suara tersebut sangat familiar. Tapi siapa dia? Sebagian mukanya saja ditutup pake masker. Ia mendengus kesal. Bagaimana tidak dalam keadaan perut lapar ia masih berada di dalam lift.

__ADS_1


Lift mendadak berhenti di tengah jalan, pintunya tidak bisa dibuka.


"Ah sial kenapa pake macet segala sih!" Laki-laki itu memukul pintu lift berkali-kali berharap di luar sana ada yang mendengarnya. Nihil.


"Ya Tuhan kenapa orang cantik seperti aku harus terjebak di dalam lift dengan laki-laki aneh seperti dia?" Laki-laki itu menyorot tajam pada gadis yang ada di depannya. Ia baru menyadari kalau dirinya tidak sendiri. Dan ia begitu kaget kalau dihadapannya adalah gadis yang ia kenal beberapa bulan yang lalu.


"Apa kamu bilang aku aneh?"


"Ya siapa lagi kalau bukan kamu? Sudah tahu di sini hanya kita berdua masih aja bermasker. Buka tuh maskernya engga engap apa, Huh!" Modus Resa hanya ingin tahu siapa laki-laki yang bermasker itu karena suaranya begitu familiar. Laki-laki itu langsung membuka maskernya dengan kasar.


Deg


Resa bergeming ternyata pangeran impiannya ada di hadapannya. Laki-laki yang ia rindukan selama ini dengan gaya yang sama masih menunjukkan sikap arogannya.


"Kenapa sih kalau aku bertemu sama kamu bawaannya sial mulu." Rasya tidak percaya kalau hari ini ia bakal bertemu dengan gadis ceroboh yang beberapa bulan lalu sudah membuat masalah dengannya.


"Ngapain kamu ke sini hah!'


Rasya kesal.


"Idih harusnya aku yang nanya ngapain dokter di sini? Bukannya dokter Rasya tugasnya di rumah sakit bukan di klinik. Ini klinik punya kak Alhan suami dari sepupuku jadi aku bebas dong kapanpun aku mau aku bisa datang kesini." Resa membela diri.


"Ya Allah kenapa aku harus terjebak di lift dengan perempuan ceroboh ini. Apa salah dan dosaku sampai aku harus bertemu dengan dia lagi."


"Hei dokter jutek, dengar ya! Siapa sih yang mau bertemu dengan dokter jutek sepertimu aku rasa hanya orang bod*h saja yang mau sama kamu. Jadi jangan pernah menganggapku gadis pembawa sial. Yang ada aku ini gadis pembawa rizki. Nih lihat aku bawa makanan, di situasi seperti ini perut dokter juga pasti sedang lapar, iyakan? Karena perutku juga lapar. Kalau dokter mau bergabung, simpan kejutekan dokter sampai perut kenyang, kalau ga mau ya ga apa-apa aku makan sendiri saja" Resa membuka makanannya, ia duduk bersila. Menu yang menggugah selera.

__ADS_1


Beruntung ia pun membeli air mineral.


Rasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan gadis yang di depannya itu, di situasi yang rumit ia masih bisa setenang itu. Tanpa memikirkan bagaimana ia harus menghubungi orang di luar sana untuk bisa membuka lift tersebut.


__ADS_2