
"Walaikumussalam." Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Kasdun menenteng rantang yang berisi makanan 4 sehat 5 sempurna.
"Kasdun?"
"Kamu?"
Mereka serempak memanggil Kasdun yang sedang tersenyum manis.
"Selamat pagi bu Nurmala. Selamat pagi Notik!" Kasdun menyapa dua wanita beda generasi tersebut dengan senyuman yang selalu terukir di wajahnya. Kasdun sangat senang bisa bertemu kembali dengan wanita yang semalam sempat bertemu di depan ruang bersalin.
"Notik?" Nurmala bingung.
"Eh iya maaf maksudku Nona cantik. Karena saya belum sempat berkenalan bu jadi ga tau namanya." Kasdun nyengir mata kanannya mengedip nakal ke arah Tiara yang sedang bergidik ngeri. Ia lalu menyimpan rantang di atas meja dan menyalami Nurmala.
"Bagaimana kabar ibu?"
"Alhamdulillah baik." Nurmala masih mengerutkan dahi, ia masih bingung dengan kedatangan Kasdun yang tidak biasa. Apalagi Kasdun terkenal dengan kenakalannya saat masih sekolah, sangat tidak mungkin Kasdun bisa berubah drastis menjadi orang yang sangat berbeda sekarang. Terlihat lebih tampan, lebih dewasa, lebih tenang, lebih perhatian. Sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang dulu.
" Ini ada sedikit makanan spesial buat guruku yang spesial. Kalau berkenan notik juga boleh makan bersama. Semoga kalian suka."
"Ogaaah, dasar laki-laki aneh. Jangan-jangan tuh makanan ada racunnya lagi ih kakak kok bisa mengenalnya? Ni cowok sok kenal sok dekat lagi."
"Oooh tentu saja kakak mengenalnya Ra, ini Kasdun alumni sekolah tempat kakak mengajar."
"Kasdun ini adik ibu, Tiara namanya." Nurmala mengenalkan adiknya yang mendadak jutek pada laki-laki yang menurutnya hal yang tidak biasa ia lakukan.
"Dih kakak ngapain sih pake ngasih tau namaku segala sama orang aneh ini? Namanya aja aneh apalagi orangnya."
__ADS_1
"Hust ga boleh gitu."
"Orang tampan begini dibilang aneh. Mata Notik harus diperiksa tuh ke dokter mata!" Tutur Kasdun tidak terima dibilang aneh apalagi Kasdun yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Ia memang tampan hanya kehidupannya saja tergolong orang yang kurang beruntung. Dilahirkan di keluarga yang sederhana pekerjaannya pun hanya seorang supir angkot. Kehidupan yang sederhana ini lah yang menjadikannya sebagai laki-laki baik yang kuat, dewasa, bersahaja, bertanggung jawab dan berempati pada sesama manusia.
"Maaf bu Kasdun baru sempat menjenguk ibu, semalam Kasdun tidak sempat mengurus pemindahan ibu ke ruang perawatan. Kasdun tidak bisa membawa apa-apa selain makanan yang mungkin rasanya tidak sesuai selera karena ini masakan Kasdun sendiri."
"Kasdun bisa masak?" Nurmala menatap Kasdun tak percaya. Kasdun benar-benar sudah berubah. Ia langsung meminta Kasdun membuka rantang yang dibawanya untuk ia cicipi.
"Wah.....ini sih enak banget, Dun. Calon istri kamu pasti sangat beruntung kalau bisa memiliki kamu." Puji Nurmala.
"Kebetulan aku belum punya calon istri bu. Kalau ibu berkenan, aku mau sama adik ibu." Tandas Kasdun to the point, dagunya menunjuk Tiara yang sedang mengamati dede bayi yang ada di tempat tidur bayi. Entahlah sejak bertemu Tiara perasaan Kasdun langsung klik dan kebetulan sekali bisa bertemu lagi di tempat yang sama dan lebih senang lagi ketika tahu kalau Tiara adalah adik Nurmala. Namun agak mengganjal di hatinya mengenai status sosialnya yang belum tentu bisa diterima oleh keluarga Nurmala apalagi melihat Tiara yang selalu jutek padanya.
"Ih apaan sih, engga jelas banget sih kamu. Baru juga kenal udah ngarep. Jangan harap aku bisa nerima kamu!" Ujar Tiara galak. Dia beranjak menyambar tas yang berada di atas meja.
"Tiara kamu mau kemana?" Tanya Nurmala melihat adiknya pergi keluar dengan memendam kekesalan.
"Kemana saja yang penting tidak ada orang aneh!" Jawab Tiara kesal. Nurmala hanya mengeleng-gelengkan kepala. Adiknya memang belum berubah. Masih kekanak-kanakan dalam bersikap. Sementara Kasdun tertawa melihat tingkah adik gurunya itu.
"Dia yang menolongmu semalam." Ujar seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk karena pintu kamar tersebut yang memang terbuka.
"Pak Alhan?" Nurmala sangat surprise dengan kedatangan Alhan di kamarnya. Alhan tersenyum.
"Semalam Kasdun menolongmu ketika dia melihat kau tergeletak di pinggir jalan saat hujan deras. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Alhamdulillah sudah membaik, pak."
"Jadi ini anakmu? Tampan juga pasti seperti ayahnya. Semoga ia menjadi anak yang sholeh, berbakti pada kedua orang tuanya dan kelak menjadi manusia yang berakhlak baik." Nurmala terdiam. Dalam hatinya mengamini doa yang diberikan Alhan. Hanya senyuman tipis yang ia berikan sebagai respon atas doa yang diberikan untuk anaknya.
"Kasdun makasih ya sudah menolong ibu. Kalau tidak ada orang sebaik kamu entah apa yang terjadi pada nasib kami. Sekali lagi ibu hanya bisa bilang makasih."
__ADS_1
"Sama-sama bu. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Kalau Kasdun tidak menolong ibu semalam, Kasdun tidak bisa bertemu dengan notik, adik ibu. Emmmh....Pak Alhan mencariku?" Tanya Kasdun sambil tersenyum.
"Iya Dun...dari tadi saya mencarimu tapi ternyata kamu di sini. Oiya nanti kita ngobrol di luar ya!"
"Siaap, pak!"
Nurmala tiba-tiba baranjak dari tempat tidurnya.
"Bu Nurmala mau ke mana?" Tanya Kasdun.
"Ibu mau ke kamar mandi, Dun" Jawab Nurmala, kakinya menjuntai ke bawah hampir ke lantai.
"Tunggu...tunggu. Bukankah kau habis melahirkan, dan tidak diperbolehkan untuk berjalan apalagi hendak ke kamar mandi. Kamu masih butuh pemulihan. Lagi pula ini belum 24 jam. Akan sangat beresiko." Cegah Alhan.
"Tapi pak saya sudah kebelet. Ini aku sudah tidak nyaman pak, Lagi pula aku kuat kok, jadi bapak ga usah khawatir ya!" Nurmala ngeyel. Ia senang Alhan masih perhatian.
"Kamu yakin?" Alhan masih meragukan keputusan Nurmala.
"Benar pak Alhan bu, sebaiknya ibu tunggu di sini, nanti Kasdun yang memanggil perawat untuk membantu ibu membuang air seni tanpa harus ke kamar mandi." Kasdun langsung keluar.
"Aku yakin pak. Tidak akan terjadi apa pun." Nurmala berdiri. Ia melangkah pelan sambil memegang perutnya yang terasa mau jatuh dari tempatnya. Mau tidak mau Alhan menuntunnya untuk sampai ke kamar mandi.
"Bu jangan dipaksakan." Alhan mencoba mencegah kembali keinginan Nurmala untuk ke kamar mandi. Namun perkataan Alhan dianggap angin lalu. Terdengar suara bayi menangis.
"Pak maaf tolong gendong dulu anak saya, sebentar saja! Saya bisa sendiri." Pinta Nurmala sudah sampai depan pintu kamar mandi. Alhan melepas bahu dan tangan Nurmala. Ia menghampiri bayi yang sedang menangis kemudian menggendongnya.
Di dalam kamar mandi Nurmala mengeluarkan air seni sambil berdiri karena jongkok pun terasa sakit sekali. Setelah selesai buang air kecil ia membersihkannya dengan air akan tetapi darah terus saja mengalir tidak berhenti dari jalan lahir. Kepalanya mulai terasa berputar. Dengan sekuat tenaga ia membuka hendel pintu untuk keluar dari kamar mandi. Berhasil. Dan akhirnya....
"Pak Alhan......"
__ADS_1
Bruuuk