
"Rasya kamu langsung ke rumah aja ya! Atau mau ikut kami ke butik?" Bunda Rianti menyerahkan kunci kepada Rasya. Namun Rasya tidak mengambilnya. Rasya menatap tajam Alhan yang ada di samping bunda Rianti.
"Aku ikut saja bunda. Sebelum bertolak ke Bandung, aku ada keperluan dengan Alhan ada hal yang harus kami selesaikan" Berbicara sambil menatap Alhan dengan senyum miring. Ya masih ada yang belum tuntas dengan apa yang sudah terjadi. Rombongan pengiring keluarga Alhan sudah keluar area rumah neneknya Wafa. Wafa ikut rombongan bunda Rianti sengaja tidak semobil dengan Alhan karena memang belum saatnya mereka bersama.Sementara Alhan duduk di samping pengemudi mobil yang dikendarai Rasya. Tidak ada obrolan yang mereka bicarakan di dalam mobil. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kekhawatiran Rasya yang akan meluapkan kekesalannya setelah ini semakin mendera. Ia sesekali melirik orang yang berada di sampingnya. Terlihat Rasya begitu kalem tidak ada raut kekesalan di sana. Rasya mengikuti mobil yang ada di depannya memasuki sebuah toko butik ternama.
Setelah fitting baju pengantin Alhan dan Rasya tidak langsung pulang, mereka langsung ke sebuah danau yang sering Alhan kunjungi untuk menikmati senja sore itu. Sedangkan Wafa akan diantar kedua calon mertuanya untuk pulang ke kontrakannya.
"Apa yang akan kau katakan? Bicaralah!" Alhan tidak ingin berbasa-basi. Rasya melempar kerikil dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Kau tahu aku kesal denganmu. Kau telah merebut orang yang aku cintai"
"Aku tidak merasa merebutnya. Justru aku juga baru tahu kemarin kalau ternyata Wafa lebih memilihku dan mencintaiku" Alhan mengelak.
"Dan aku rasa Wafa tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku karena dia seorang yatim piatu. Dia hanya ingin punya orang tua yang lengkap dan orang tuaku sangat sayang padanya. Mereka sudah menganggap Wafa seperti anaknya sendiri. Aku bisa apa walaupun sebenarnya sampai saat ini pun aku belum bisa mencintainya" Rasya menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran Alhan.
"Iiish kamu itu kalau bertanya satu-satu biar aku jelaskan dan kamu paham" Sejenak mereka diam.
__ADS_1
"Aku terpaksa menerima keinginan bunda yang begitu bahagia begitu aku setuju untuk menikahi Wafa. Kamu sendiri tahu bukan aku baru saja diputusin sama Nurmala. Dan aku tidak bisa mengelak. Dan aku sudah bicarakan sebelumnya dengan Wafa kalau sebaiknya Wafa saja yang menolak lamaranku dihadapan bunda tapi ternyata dia menerimaku. Karena ia pun tidak ingin mengecewakan bunda. Dan aku belum yakin kalau aku bisa secepatnya berlabuh ke hatinya." Lanjutnya benar adanya.
"Jadi Wafa sebagai pelarian saja?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Sya. Wafa orang baik dan harus mendapatkan yang terbaik. Dan aku ingin dia menikah denganmu. Makanya sebelum pertemuan hari ini aku meminta padanya untuk menyelesaikan masalah hatinya denganmu dengan harapan kalian berjodoh. Dan aku terus terang tidak ingin menyakiti hati sahabatku sendiri. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Kamu Sya kamu sahabatku satu -satunya yang mengerti aku. Kalau kamu ingin kami membatalkan rencana pernikahan akan aku batalkan. Dan aku harap setelah dibatalkan Wafa menerimamu kembali." Rasya mengusap wajahnya dengan kasar.
Itu tidak mungkin bisa terjadi mengingat penolakan Wafa yang sering ia dapatkan. Wafa hanya ingin menganggap Rasya sebagai kakaknya saja tidak lebih. Rasya mendekati Alhan yang sedang duduk dengan kedua kakinya ditekuk sambil melempar kerikil. Ia pun duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Kalau ia mau sudah kunikahi dia sejak lama. Tapi ternyata hatinya bukan untukku. Memang sakit rasanya mencintai sendirian. Namun aku lebih ingin melihatnya bahagia. Sepertinya ia bahagia kalau menikah denganmu. Bukankah mencintai tidak harus memiliki? Tapi ingat satu hal kalau kamu menyakiti perasaan Wafa aku tidak akan segan-segan mengambil paksa dia agar mau menjadi istriku, ingat itu! Jangan membuatnya menangis! Aku relakan dia untukmu. Aku ikhlas." Rasya sedikit lebih tenang dan berusaha untuk bisa ikhlas dengan takdirnya.