CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 24 Sebuah Kejutan


__ADS_3

Kenangan akan selamanya tersimpan bukan berarti harus dibiarkan kokoh dalam hati. Alhan mencoba untuk bisa melupakan Nurmala dengan segenap sakit hati yang ia rasakan. Kalau saja Nurmala memintanya untuk kembali menata cintanya kemungkinan besar Alhan akan berbesar hati menerimanya dengan harapan Nurmala menyesali keputusannya karena salah memilih pasangan hidupnya. Namun pada kenyataannya Nurmala hanya sekedar khawatir terhadap kehidupan Alhan setelah resign dari sekolah itu. Di sisi lain Alhan merasa Nurmala masih sangat mencintainya walaupun kenyataannya Nurmala lebih mencintai orang lain. Lantas apa arti dari deraian air mata Nurmala?


Sepanjang perjalanan Alhan hanya tersenyum miris.


"Kamu tidak tahu detil tentangku Nurmala. Kamu hanya tahu aku sebagai seorang guru saja yang gajinya sangat memprihatinkan. Pantas saja kamu memilih dia ketimbang aku. Aku ga ada artinya di matamu Nurmala." Alhan memejamkan matanya. Air matanya perlahan jatuh. Terasa sakit ketika orang yang ia cintai memilih orang lain karena kekayaan. Sampai detik ini pun Alhan tidak mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. Biarlah Nurmala tahu dengan sendirinya tanpa ia kasih tahu.


Sepulang dari sekolah Alhan singgah ke kampus, ada perkuliahan hari ini. Dia harus mengisi materi perkuliahan jam kedua. Perlahan ia menyeka sisa air mata dengan tisu.


"Jadi laki-laki itu harus kuat. Jangan cengeng karena patah hati. Semangat Alhan!" Menyemangati diri sendiri. Dia melepaskan sealbelt kemudian turun dari mobilnya menuju kelas.


Kepergian Alhan membuat Nurmala terpukul. Ada rasa bersalah yang mendalam. Seandainya ia tidak jujur tentang perasaannya tentu perpisahan itu tidak akan pernah ada.


"Ck....itu pak Alhan hebat euy. Ke sini bawa mobil segala. Tadi sempat nervous dibuatnya pasalnya tadi saya pikir itu para pengawas yang datang, tapi ga taunya pak Alhan yang datang. Ga ada hujan ga ada angin tau-tau resign aja dari sekolah ini." keluh Bu Yuni.


"Kalau dia resign juga ga masalah kali Bu. Kehidupannya sudah terjamin. Sebagai seorang dosen lebih mumpuni ketimbang gaji honor. Rumah sudah ada. Pewaris tunggal pula, pokoknya orang yang dapat menggaet hatinya pak Alhan sungguh sangat beruntung." Timpal Bu Ane. Ya hanya Bu Ane yang tahu kalau Alhan adalah seorang dosen. Karena Bu Ane pernah bertemu dengan Alhan di kampus saat Bu Ane sedang melegalisasi ijazah. Bu Ane juga tahu tentang Alhan dari ibunya yang bersahabat dengan bundanya Alhan. Kalau saja Bu Ane belum menikah dan punya anak tentu dia mau kalau dijodohkan dengan Alhan karena saat itu bunda Rianti sangat ingin memiliki menantu.


Deg


Deg


Deg


"Benarkah yang mereka katakan, mengapa aku sama sekali tidak tahu semua itu ?" Nurmala menggeleng pelan tak percaya.

__ADS_1


"Oh pantas saja tadi Alhan menjawab dengan tenang tanpa beban. Bodoh sekali aku. Dekat dengannya tapi aku ga tahu kehidupan Alhan yang sebenarnya." Tadi Nurmala memang sempat melihat Alhan masuk mobil tapi yang ada dalam pikiran Nurmala mobil itu adalah grab. Mengapa selama ini Alhan hanya memakai motor bututnya, mengapa ia tidak menampakkan kekayaannya? Bukankah Nurmala kekasihnya saat itu. Nurmala hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Merasa dibodohi. Karena selama ini setiap kencan pun Alhan hanya membawanya ke tempat lesehan, rumah makan biasa atau emperan. Atau kalau belanja Alhan hanya membawanya ke pasar tradisional . Benar-benar terlihat orang yang sederhana. Dan Nurmala tidak menuntut perlakuan Alhan yang seperti itu karena Nurmala sangat mengerti kemampuan Alhan yang hanya bisa sebatas itu karena gaji honor yang di bawah standar. Tapi untuk apa Alhan lakukan semua itu? sekarang tidak penting untuk dijawab karena semuanya sudah berakhir, Nurmala lebih memilih orang yang lebih spesial. Lebih tajir dan memiliki segalanya. Namun mengapa Nurmala masih memikirkan Alhan?


"Lupakan .....lupakan ....lupakan walau itu sakit" Gumamnya seraya beranjak dari tempat duduknya. ia merasa tercubit dengan kebenaran yang ia ketahui dari orang lain.


Malam ini Alhan berjanji untuk menemui Wafa di klinik. Ia mengambil sebuah cincin Wafa yang pernah dititipkan sebagai jaminan atas cincin tunangan yang hilang saat itu. Alhan tersenyum getir, ia menggenggam cincin itu. Tanggung jawab Wafa luar biasa sampai mengorbankan cincin peninggalan ibunya untuk diserahkan pada orang yang baru ia kenal saat itu demi menebus kesalahannya atas hilangnya cincin milik Alhan. Malam ini tekad Alhan sudah bulat untuk menyerahkan cincin jaminan tersebut dan memohon maaf karena selama ini perlakuannya sangat buruk. Hatinya yang keras kini melunak seiring keinginan bunda Rianti untuk menjadikan Wafa sebagai menantu dan Alhan tidak bisa menolaknya. Alhan mulai malam ini bertekad untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Begitu pun dengan Wafa. Ia ingin langsung menikah saja. Cukup hanya bundanya yang mengetahui seluk beluk Wafa. Dan Alhan percaya pilihan bundanya adalah yang terbaik untuk masa depannya.


Alhan memarkir mobilnya di depan klinik. Dari kejauhan tampak pasangan yang perempuannya sangat ia kenal sedang mengantri di poli kandungan. Alhan bergeming sejenak memikirkan untuk apa mereka berada di sana. Cukup ramai situasi klinik malam ini. Alhan memasuki klinik dengan langkah pasti dengan keingintahuan yang tinggi perihal perempuan yang selalu menyenderkan kepalanya di bahu lelaki itu. Padahal yang ia tahu mereka belum resmi menikah. Alhan melewatinya.


Perempuan itu tergagap langsung memperbaiki duduknya setelah melihat Alhan melewati begitu saja, hatinya tidak karuan. Sedangkan Alhan pura-pura tidak melihatnya.


"Ada apa sayang?" Herdi kaget dengan perubahan mendadak kekasihnya yang tadinya bergelayut manja sekarang berubah posisi yang biasa saja.


"Tidak apa-apa" Ia bergeming


Alhan menuju ruangan Bidan Wafa ternyata Wafa sedang tidak berada di ruangannya.


"Pak Alhan mencari bidan Wafa?" Tanya salah seorang perawat yang melewati ruangan itu.


"Oh iya di mana dia?"


"Bidan Wafa ada di ruang bersalin pak. Beliau sedang menangani pasien melahirkan"


"Ada berapa pasien yang akan melahirkan malam ini?"

__ADS_1


"Kira-kira dua pasien lagi pak"


"Bidan yang lain hadir tidak malam ini?"


"Tidak pak. Malam ini hanya ada bidan Wafa. Yang lain sedang izin cuti"


"Cuti?"


"Iya pak. Bidan Dian cuti menikah dan bidan Hera sedang pelatihan."


'Oooh begitu. Oiya kalau dokter kandungan yang sekarang siapa?


"Kalau tidak salah dr. Rasya pak."


"Oh iya terima kasih infonya kalau bidan Wafa sudah selesai tolong suruh ke ruangan saya"


"Baik bapak"


Alhan melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


"Dokter Rasya. Ga mungkin Rasya sahabatku. Ia bertugas di Bandung. Ah pasaran sekali namamu Sya." Alhan geleng-geleng kepala. Alhan ingin sekali mengetahui jumlah karyawan yang ada di klinik tersebut. Ia mencari beberapa dokumen data karyawan. Di atas meja terdapat sebuah map hijau tentang lamaran pekerjaan seorang dokter yang memang baru saja diterima oleh dr. Ibrahim untuk membantu di klinik tersebut. Alhan membuka map itu, matanya berbinar.


"Jadi benar kamu dr. Rasya?" Alhan tidak percaya sahabatnya bisa diterima bekerja di klinik ini. Bukankah dr. Rasya bertugas di rumah sakit Bandung? Untuk apa Rasya bekerja di klinik ini, apa gajinya ga cukup?" Alhan hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum ia tidak menyangka akan bekerja sama dengan sahabatnya di lingkungan tempatnya berada.

__ADS_1


,


__ADS_2