CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 60 Kejutan


__ADS_3

Semua orang yang berada di ruang makan terdiam hanya terpaku pada tingkah polah Lisa. Lisa mengambil piring kemudian menuangkan nasi dan lauk pauk untuk Alhan.


"Nih cobain kak, ini semua masakan Lisa. Kalau aku tahu kakak mau ke sini, aku buatkan gulai ikan patin kesukaan kakak. Gimana, enak?" Lisa sangat berharap pujian dilontarkan padanya dari mulut Alhan.


Alhan mengangguk-angguk setelah sesuap nasi disantapnya.


"Emmmh luar biasa enak loh, Sa. Ternyata kamu sekarang pintar masak ya!" Alhan tersenyum pada Lisa, mulutnya terus mengunyah makanannya. Sikap Alhan sebenarnya masih sama seperti dulu. Ia menganggap Lisa sebagai adiknya karena memang Alhan tidak memiliki adik, ia putra tunggal di keluarganya.


Sikap Alhan yang ramah mendapat sorotan tajam dari semua orang. Orang tua Lisa termasuk Rasya merasa tidak enak terhadap Wafa dengan perilaku Lisa yang agresif.


"Iya dong kak. Ingat ga dulu waktu pertama kali masak untuk kakak....rasanya asin banget, tapi kakak tetap aja bilang enak. Tapi kalau sekarang Lisa harap penilaian kakak jujur dari hati."


Wafa tercengang melihat adegan mereka yang memperlihatkan keakraban satu sama lain. Apalagi dengan santainya Alhan memuji masakan wanita lain di hadapannya. Alhan menganggap hal itu sesuatu yang biasa-biasa saja namun dengan sikap Alhan yang seperti itu bisa memberikan harapan pada Lisa untuk melanjutkan hubungan mereka yang belum dimulai.


"Oiya kak Alhan dan kak wafa kakak beradik ya?" Tanya Lisa ketika ia melihat wajah keduanya agak mirip. Semua orang yang hadir saling memandang.


"Emmm Lisa sayang mereka itu...." Mama berniat untuk memberitahukan kebenaran hubungan mereka.


"Iya mama pasti mereka kakak beradik lihat aja mukanya agak mirip gitu. Untung Si Aa nikahnya sama Kak Resa. Maaf ya kak Wafa ga jodoh sama si Aa, eeeeh malah Aa nikahnya sama si bar-bar." Lisa memotong perkataan mamanya. Lisa mendapat tatapan tajam dari Rasya. Tatapan itu Lisa abaikan.


"Lisaaaaa hentikan ucapanmu itu! Tolong jangan ngatain kakak iparmu dengan kata bar-bar, Aa engga suka." Rasya terlihat begitu melindungi istrinya. Siapapun tidak boleh ada yang menyakitinya.


Entahlah awalnya Rasya tidak menyukai Resa namun setelah berjalannya waktu cinta itu hadir dengan sendirinya setelah mereka saling memiliki dengan sepenuhnya.


"Iyaaaa ih Aa jadi bucin." Lisa tertawa senang.


"Sudah- sudah hentikan senda gurau kalian. Sekarang makan semua tidak ada yang berbicara dan bercanda lagi. Lisa duduk dekat Aa mu. Engga boleh dekat Alhan!"

__ADS_1


"Iya papa...." Lisa cemberut. Dengan terpaksa ìa duduk agak jauh dengan Alhan. Tapi dengan begitu Lisa jadi punya kesempatan untuk menatapnya dari jauh dengan senyuman yang tidak jelas.


Wafa memperhatikan Lisa. Terlihat ada rasa cemburu terlukis di matanya. Sehingga moodnya jadi rusak gegara kelakuan Lisa pagi ini. Ia terus menekan sabar sampai kegiatan sarapan bersama selesai.


Rasya jelas masih merasa tidak enak hati pada Wafa atas kelakuan adiknya. Dia pun sama sekali tidak mengetahui ternyata adiknya begitu mencintai sahabatnya sejak dulu. Kalau saja mengetahui hal itu sejak awal tentu Rasya akan membuat adiknya tidak berharap sampai sekarang.


Setelah selesai makan papa mengawali pembicaraan untuk menjawab salah paham yang terjadi pada Lisa. Tatapan mereka tertuju padanya. Sosok papa yang begitu bijaksana dalam mengatasi suatu permasalahan.


"Lisa umurmu masih muda, selesaikan kuliahmu sampai lulus. Kejarlah cita-citamu sampai berhasil. Jangan memikirkan untuk menikah terlebih dahulu agar kamu fokus pada studi. Dan papa yakin jodoh pasti akan menjemputmu kelak kalau sudah waktunya namun bukan dengan Alhan."


Deg


"Kenapa tidak boleh menikah dengan kak Alhan? " Namun pertanyaan itu hanya ada dalam hatinya. Ia tidak berani memotong pembicaraan papanya.


"Tidak Perlu mengejar cinta yang tidak bisa digapai contohnya kakakmu Rasya. Ia mengejar seorang wanita tanpa kenal lelah sampai ia menyempatkan bisa bekerja di tempat yang sama namun ternyata takdir berkata lain cinta sejatinya ada pada Resa. Yang sekarang menjadi menantu papa. Itu artinya kita tidak perlu berharap terlalu dalam pada seseorang kalau ternyata itu akan menyakitkan." Setelah mengatakan itu papanya bersiap untuk pergi ke kantor pagi ini.


Deg


Rasya mengambil alih pembicaraan papanya.


"Dek...Alhan dan Wafa bukan kakak beradik seperti yang kau duga" Rasya menghela nafasnya dalam. Ia sebenarnya tidak tega kalau adiknya harus patah hati setelah beberapa tahun lamanya berharap tanpa ada kepastian. Alis Lisa berkerut.


"Mereka adalah......"


"Kami suami istri. Kami sudah menikah lima bulan yang lalu. Kakak minta maaf kalau Lisa pernah mempunyai rasa cinta yang lebih pada kakak sungguh kakak tidak pernah tahu itu. Selama ini kakak hanya menganggap Lisa sebagai adik tidak lebih dari itu." Alhan menjawab dengan tegas.


Terlihat mata Lisa yang mengembun. Ia tidak pernah menyangka cinta yang ia pendam dulu harus berakhir di meja makan. Jadi inikah kejutan yang dikatakan kakaknya tadi saat pembicaraannya di taman belakang? Sungguh kejutan yang sangat menyakitkan. Lebih dari itu ia merasa sudah mempermalukan diri sendiri. Mama Azka langsung memeluk putrinya dengan sayang.

__ADS_1


-


-


Alhan dan Wafa saat itu juga berpamitan untuk segera meninggalkan rumah tersebut. Mereka tidak lansung pulang namun ada tempat yang harus ia singgahi.


Selama perjalanan Wafa memilih diam. Begitupun dengan Alhan. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian Alhan melirik istrinya yang masih diam wajahnya memandang keluar jendela.


"Kenapa kok sejak tadi diam saja? Kamu marah ya!" Alhan tidak sanggup kalau istrinya mendiamkannya. Wafa hanya melirik. Tangan kiri Alhan meraih tangan Wafa sedangkan tangan kanannya tetap memegang setir kemudi.


"Maaf jika aku menyakitimu tadi. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Kumohon bicaralah! Aku tak sanggup jika tak mendengar suaramu walau sebentar saja."


"GOMBAL!" Wafa tersenyum tipis.


"Nah gitu dong. Suaramu membuat aku nyaman."


Wafa menarik tangannya,


"Kalau sedang nyetir gunakan dua tangan. Demi keselamatan kita." Wafa mengingatkan suaminya.


-


-


Jalanan kota tampak sepi seiring datangnya hujan lebat yang disertai petir mengguyur kota kembang saat ini. Semakin lama semakin deras hujan melanda sehingga membuat kaca mobil menjadi buram sehingga pandangan menjadi kabur.


"Kita berhenti dulu ya sayang, perjalanan jadi terganggu. Kaca depan buram aku engga mau terjadi sesuatu nantinya." Wafa menganggukan kepalanya. Mobil pun berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah.Alhan memarkirkan mobilnya di tempat itu. Mereka hanya duduk di dalam mobil. pandangannya menatap lurus ke depan. Terlihat seorang bapak berpayung berdiri seperti sedang menunggu mobil yang lewat, ia menyetop beberapa mobil dan tidak ada satu pun yang mau berhenti. Sepertinya bapak tersebut sedang membutuhkan tumpangan. Ini jelas mengusik hati seorang Wafa.

__ADS_1


"Mas lihat bapak itu sepertinya ia sedang membutuhkan pertolongan. Dia terlihat panik dan gelisah kita coba tolong dia ya mas!" Alhan menatap seorang bapak yang pakaiannya hampir kuyup. Walaupun berlindung di bawah payung tetap saja angin membawa hujan membanjiri tubuh bapak tersebut.


__ADS_2