
"Hei apa-apaan ini, hentikan.....hentikan sakit tahu!" Gadis itu berusaha berontak menepis sapu yang mendarat di tubuhnya.
"Enak aja minta dihentikan maling harus ditangkap!"
Gadis yang disangka maling berlari mengitari meja makan. Ruangan tersebut agak gelap karena lampu dimatikan. Ada cahaya dari kamar mandi. Gadis itu berlari langsung ke lantai dua, langsung masuk kamar. Resa mengejar sampai depan pintu kamar. Ia setengah berteriak.
"Hei buka pintunya, Maling!"
"Resa ada apa?" Wafa yang merasa terusik tidurnya bangun menghampiri sumber suara. Kamar tamu yang ditempati Wafa berada di lantai dua.Tepat di samping kamar yang maling itu masuki.
"Ada maling masuk kamar, kak!" Resa masih memegang sapu. Ia terlihat panik.
"Masa sih Sa? Mana suamimu?" Tanya Wafa. Karena merasa aneh kalau ada maling beneran ga mungkin sampai masuk kamar lantas menguncinya di dalam. Ini pasti ada yang tidak beres.
"Bangunkan suamimu, sekarang!" Titah Wafa. Dia berharap kejadian ini tidak sampai membangunkan tuan rumah yang lain. Resa menurut, ia pun masuk ke kamarnya lebih tepatnya kamar Rasya.
Terlihat suaminya masih memeluk bantal guling. Ia mengoyang-goyangkan punggung suaminya pelan.
"Kak....kakak ....kakak bangun!"
"Emmmh" Hanya gumaman sebagai jawaban sedangkan matanya masih terpejam.
"Ck...ck...ck. Kakak....kakak ada maliiiiing!" Ulang Resa dengan suara cukup tinggi sehingga Rasya benar-benar bangun. Rasya menguap, badan rasanya begitu pegal baru terasa setelah perjalanan kemarin.
Dia melihat jam dinding waktu menunjukkan pukul 02.30 Wib.
"Maling, di mana? Ga mungkin di sini ada maling. Di depan ada satpam, rumah ini ada cctvnya juga." Rasya bangkit dari tempat tidurnya dengan langkah gontai, tak bersemangat.
"Beneran kak, tuh masuk kamar yang itu." Resa mendorong Rasya menuju pintu depan kamar yang dimasuki maling. Rasya menghentikan langkahnya ketika melihat Wafa ada di sana.
"Beneran ada maling, Fa?"
"Aku ga tahu pasti tapi tadi Resa bawa-bawa sapu ngejar orang yang masuk kamar ini, terus kamarnya dikunci dari dalam. Aku juga ga lihat orangnya." Penjelasan Wafa membuat Rasya menghela nafasnya. Terus balik lagi ke kamar.
"Loh kak kenapa balik lagi, kan malingnya belum ketangkap?" Resa protes, hampir ia akan menjadi penyelamat keluarga kalau maling itu bisa tertangkap. Tapi ternyata suaminya tidak mendukung aksinya, setidaknya ada yang bisa dibanggakan di hadapan mertuanya nanti.
__ADS_1
"Ga perlu ditangkap Sa. Karena itu kamarnya. Sudah ya kakak mau tidur masih ngantuk. Besok saja dibahas lagi." Rasya masuk kamarnya. Resa masih berdiri kepalanya menoleh ke arah Wafa yang juga memperhatikannya. Wafa tersenyum sambil mengendikkan bahu lalu masuk kamar juga. Resa cemberut dengan langkah gontai ia masuk kamar menyusul suaminya.
-
Suara azan mengalun merdu membangunkan insan manusia yang masih terlelap di alam mimpinya.
Seperti biasa Wafa membuka matanya, ia menoleh ke sampingnya ternyata suaminya masih nyaman dengan tidurnya. Ia tidak langsung membangunkan Alhan, ia langsung mengambil handuk dan perlengkapan mandi dari dalam tasnya. Ia pun segera keluar menuju kamar mandi yang terletak di luar kamar ujung dekat dengan sebuah kamar yang dimasuki maling dini hari tadi.
Seorang gadis cantik keluar dari kamar mandi. Rambutnya terlilit handuk, ia memakai piyama pink sepertinya ia selesai mandi.
Wafa tersenyum. Gadis itu menyapa.
"Kakak.....emmm kak Wafa iya kan?" Dia senang karena sudah berhasil mengingatnya. Ia langsung meraih telapak tangan Wafa dan menciumnya. Wafa hanya diam memperhatikan gadis cantik itu.
"Kamu....?"
"Aku Lisa kak. Relysa Mayesha adik satu-satunya A Rasya." Wafa mengangguk kaku, mulutnya membentuk huruf o. sambil tersenyum bingung. Pasalnya ia tidak mengenal gadis yang mengaku sebagai adik dari kakak angkatnya itu.
"Kakak pasti bingung ya...kenapa aku tahu nama kakak? Karena A Rasya menunjukkan foto kakak dari hapenya. Kata A Rasya kakak adalah wanita yang sedang ia perjuangkan sampai ia rela kerja di klinik sehat medika."
Senang itulah yang dirasakan Lisa saat itu bisa bertemu dengan orang yang dicintai kakaknya. Kakaknya pasti bahagia apalagi wafa sampai menginap di rumahnya.
"Ah berarti A Rasya sudah berhasil menaklukkan hatinya sampai mau menginap ke rumah segala." Senyumnya selalu mengembang.
Setelah selesai sholat Lisa keluar kamar hendak membangunkan kakak semata wayangnya. Seminggu ia meninggalkan rumah karena ada kegiatan KKN di Ujung Berung. Rasa rindu pada kakaknya begitu dalam.
Lisa sering membangunkan Rasya setiap subuh.
"Kebiasaan deh....ga mau ngunci pintu kamar." Lisa menggelengkan kepalanya begitu melihat kakaknya masih berselimut tebal.
Ia menggerak-gerakkan badan Rasya.
"A....A.....A Rasya bangun dong. Lihat adik cantikmu sudah pulang. Aa ayo dong bangun lihat adik cantikmu ini."
"Eemmmh" Rasya menjawab dengan gumaman.
__ADS_1
"Aa tumben nih sulit dibangunin? ck...ck....ck bangun dulu dong, entar subuhnya keburu pergi loh!"
"Sebentar sayang lima menit lagi." Rasya tidur lagi.
Lisa merasa heran kakaknya bilang sayang. Kepalanya menoleh ketika ada suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Resa membeku ketika melihat ada seorang wanita duduk di samping suaminya. Apalagi ketika suaminya bilang sayang pada wanita itu.
"Kamu siapa ada di kamar A Rasya? Kamu tidur di kamar ini?" Lisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya ketika melihat penampilan Resa.
"Haduh sayang kenapa berisik sekali sih? Aku ini masih ngantuk loh!" Kata Rasya dengan mata terpejam.
"A cepat bangun.....sudahi tidurmu!" Rasya kaget bukan main ternyata yang ada di sampingnya Lisa, adiknya.
"Kamu Lis....." Detik berikutnya matanya melihat Resa yang sedang menatap horor suaminya.
"Lisa harap Aa memberikan penjelasan tentang wanita yang ada di kamar ini."
Lisa memandang Resa dengan tatapan yang tidak suka. Apalagi dengan rambut Resa yang terlihat basah.
Resa masih bergeming ketika Lisa melewatinya. Kejadian dini hari seolah-olah sudah menghipnotis mereka agar lupa dengan kejadian tersebut.
"Sayang kamu sudah mandi....wangi sekali istriku ini." Sambil mencium rambut istrinya.
"Siapa dia?" Resa tidak mau berbasa-basi.
"Aih di kamar ini seperti ada aroma kecemburuan....istriku cemburu ya?" Goda Rasya.
"Kak aku serius dia siapa?"
"Dia yang kamu bilang maling dini hari tadi."
"Maling? Hoooo berarti dia juga tengah mencuri hati suamiku? Katakan kenapa dia sampai masuk kamar ini?!" Resa jelas marah.
"Pending dulu marahnya. Kamu sholat biar adem pikiranmu itu. Biar ga suudzon mulu gegara cembokur, kakak mau mandi biar kelihatan lebih ganteng di mata istriku." Rasya menoel hidung istrinya.
__ADS_1
"Kenapa harus dipending segala sih, tinggal ngomong aja siapa dia.....awas aja kalau dia main di belakangku, akan aku dendeng kalian." Hanya dalam hati.