CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 77 Ternyata Dia.....


__ADS_3

Laki-laki itu menyeret kursi yang berada di serambi supermarket untuk diduduki Tiara.


"Silakan duduk Tiara!" Laki-laki itu mempersilakan Tiara untuk duduk. Tiara terhenyak karena laki-laki itu mengetahui namanya.


"Siapa sebenarnya kamu?" Tanya Tiara sudah tidak sabar ingin tahu siapa laki-laki misterius yang ada di hadapannya. Laki-laki itu diam sampai ia duduk di hadapannya.


"Minum dulu engga usah tergesa-gesa ingin mengetahui siapa saya." Ucapnya santai.


"Gimana saya mau minum minuman dari kamu? Saya saja tidak tahu siapa kamu. Saya pantang minum dari orang asing. kalau minuman itu ada racunnya gimana?"


"Ish kamu itu masih sama seperti yang dulu penuh kehati-hatian."Tiara terhenyak lagi.


"Jangan sok kenal kamu."


"Jadi kamu ga kenal saya?"


"Bagaimana saya bisa mengenalmu, wajahmu saja ditutup masker, aneh suraneh." Tiara geram sendiri. Laki-laki itu pun mau tidak mau akhirnya membuka masker juga.


"Blu.....? Kamu Blu anak pak Yusup?" Raut wajah Tiara mendadak berubah jadi ceria. Tiara bukan main senangnya ketika bertemu kembali dengan orang yang sempat menjadi orang spesial di hatinya tanpa ikatan. Ya Tiara hanya mencintai dalam diam sejak dulu. Tanpa diketahui oleh Blu orang yang pernah singgah dalam kehidupannya. Tiara tidak punya nyali untuk sekedar berkata cinta apalagi kalau diingat mantan blu itu sahabatnya sendiri Keinaya dan Jindana. Mereka bukan orang sembarangan, keduanya cantik dan berprestasi.


"Ck kau itu selalu saja begitu kalau kita bertemu pasti yang kau tanya kamu Blu anak pak Yusup? Ga usahlah bawa nama bapakku." Protes Blu. Tiara terkikik.


"Kamu masih lucu seperti dulu, Blu. Oiya gimana sekarang kamu sudah punya pacar berapa?"


"Hemmm sudah lama saya berhenti pacaran."


"Loh kenapa? Ceritanya insyaf jadi playboy?" Blu yang ia kenal adalah seorang playboy yang memiliki kekasih lebih dari 3. Hanya Tiara saja yang tidak pernah kena tembakan dari seorang Blu. Sepertinya Blu lebih nyaman kalau Tiara hanya sebatas sahabat tidak lebih dari itu. Dan Tiara pun tidak menuntut lebih dari sekedar persahabatan sejak masih duduk di bangku SMP.


"Ternyata pacaran tidak membuatku nyaman."


"Oh ya, masa sih? Itu karena kamu punya lebih dari satu. Makanya kamu tuh setia sama satu cewek pasti aksn ada kenyamanan."


"Tetap ga bisa." Sargah Blu karena kenyamanan itu hanya ada pada Tiara. Entahlah kalau ia dekat Tiara hatinya merasa lebih nyaman. Seperti saat ini ia merasa bahagia akhirnya bisa bertemu kembali dengan wanita yang ia rindukan selama ini. Blu menatap wanita yang ada di hadapannya. Ditatap seperti itu, Tiara jadi risih.


"Eeeh Blu jangan menatapku seperti itu." Blu tertawa renyah.


"Kamu masih seperti dulu. Masih malu-malu kalau kutatap. Oiya kamu sendiri gimana, sudah punya pasangan?"

__ADS_1


"Ayahku melarangku berpacaran."


Blu tertawa, ia bersorak girang. Ternyata wanita yang ia rindukan masih lajang.


"Kenapa tertawa? Seneng ya sahabatmu ini ga pernah merasakan punya cowok?" Blu tertawa lagi. Tiara cemberut.


"Ayahmu pasti punya alasan. Dan saya rasa itu keputusan yang tepat."


"Memang benar. Ayahku ga mau masa depanku hancur. Tidak sedikit orang yang berpacaran sampai tekdung duluan, bikin malu keluarga, dan akhirnya tersisih." Ujar Tiara miris terhadap kisah kakak satu-satunya yang pernah terperosok sampai menghasilkan seorang anak.


"Sebenarnya tidak semua berakhir seperti itu. Makanya lebih aman kalau langsung menikah saja." Pendapat Blu langsung mengenai sasaran.


"Sepertinya begitu. Sehingga kalau sudah menikah pergaulan bebas terhadap pasangan akan lebih halal, iya kan?" Tiara tertawa.


"Betul. Kenapa engga kita coba?" Blu keceplosan.


"Maksudmu?"


"Ah lupakan. Lagi pula kamu masih kuliah kan?"


"Bohong."


"Kok bohong sih?"


"Ya iya kamu dari tadi bersamaku. Mana ada nyusun skripsi?"


"Haduuh salah ngomong ya? Susah juga ya ngomong sama orang ahli bahasa. Kamu masih jadi penulis Blu?" Tanya Tiara serius. Ia tahu saat ini selain penulis Blu juga tercatat sebagai pegawai negeri di kantor bahasa. Dan tidak diragukan lagi potensinya mencuat ketika ia berhasil mendirikan sebuah sanggar Cakrawala Dunia, di sanggar tersebut mencetak banyak cerpenis, novelis dan juga penyair, sungguh itu prestasi yang luar biasa. Apalagi saat itu sanggarnya masuk dalam berita tabloid.


"Kadang-kadang. Saya sedang mencari teman yang bersedia menemaniku menulis tengah malam. Yang ngasih kopi dan cemilan saat menulis."


"Oh ya? Makanya buruan cari istri. Kalau ada yang disukai cepat halalkan jangan sampai kecolongan lagi. Masa dua kali ditinggal nikah jadi ngenes deh." Tiara terkikik sendiri seolah sedang meledek laki-laki yang ada di hadapannya. Blu bergeming. Dia hanya berani menatap wanita berhijab yang sedang tertawa lepas. Menyadari ditatap seperti itu dalam diam, tawanya terhenti.


"Maaf .....maaaf bukan maksud saya untuk.....Ah ya saya lupa saya harus pulang sekarang. Duh Blu maaf ya ucapan saya tadi mohon abaikan saja. Saya balik ya, sampai jumpa. Assalamualaikum..." Tiara mendadak ingat pesan tantenya, ia tergesa menuju pangkalan becak yang ada di ujung jalan utama.


Blu dengan cekatan menyusul Tiara. Ia menghentikan motornya tepat di samping Tiara.


"Tiara naik! Saya antar sampai rumah."

__ADS_1


"Tapi...."


"Saya mohon jangan menolak." Blu sangat berharap ada pertemuan lagi setelah ini. Satu-satunya cara yaitu dengan mengantar Tiara pulang sehingga ke depannya ia akan rutin menemui sahabatnya itu setiap hari.


××××××


Kasdun dengan motor bututnya membelah jalan raya. Ia ingin sekali bertemu tambatan hatinya. Orang yang selalu menghindar jika ia dekati, namun dari sikapnya yang seperti itu Kasdun ingin memperjuangkannya, ingin meraih cintanya.


Motor yang selalu menemaninya dalam suka dan duka itu ia hentikan manakala melihat pemandangan yang membuat hatinya terluka. Tiara bersama laki-laki lain siapa dia? Katanya Tiara masih jomblo tapi kenapa ia bersama laki-laki lain, apa mungkin Tiara baru jadian? Kasdun rifak akan tahu jika ia hanya duduk manis di atas motor. Ia berniat untuk mendekati mereka. Langkahnya terhenti.


"Blu masuk dulu yuk! Di dalam ada tanteku." Ajak Tiara begitu antusias.


Blu melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


"Boleh tapi sebentar saja ya! Kamu tinggal di sini, Ra?"


"Tidak. Saya di sini hanya sebentar besok pulang kok."


"Yah.... jadi kita tidak bisa sering bertemu dong. Padahal rumahku tidak jauh dari sini, hanya beda gang saja."


Tiara hanya tersenyum ada kekecewaan di raut wajah Blu. Tiara memasuki rumah lewat pintu dapur.


Tantenya sudah berada di hadapannya.


"Dari mana saja kamu."


"Ya Allah tante bikin kaget saja. Ini dari supermarket kan barusan beli susu buat dede Panji, masa tante lupa sih."


"Tiaraaaaa kamu pergi dua jam yang lalu. Tante pikir kamu ada yang nyulik. Di sini tuh perumahannya masih asing, tante jadi khawatir kalau kamu pergi lama begitu."


"Maafkan Tiara tante. Oiya tadi Tiara ga sengaja bertemu dengan tetangga lama yang dulu ngontrak di kontrakkan tante, masih ingat? Dia yang mengantar Tiara pulang."


"Siapa? Yang ngontrak di kontrakkan tante kan ga cuma satu"


"Blu tante Blu anaknya pak Yusup." Dengan mata berbinar.


"Oh ya? Mana orangnya?" Tantenya Tiara penasaran dengan Blu yang sekarang. Ia keluar untuk menemuinya sedangkan Tiara membuatkan minuman spesial buat tamu dadakannya itu. Dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya yang ayu.

__ADS_1


__ADS_2