
Wafa mengusap air matanya dengan kasar. Bodoh rasanya air mata itu lolos hanya karena cemburu. Wafa mematikan laptopnya, merapikan berkas-berkas yang sempat tertunda. Kondisi seperti ini ia tidak bisa konsentrasi, ambyar semuanya hanya karena kesalahpahaman.
"Sayang lihat ini sudah kublokir nomornya bahkan aku sudah menghapusnya. Tolong jangan seperti ini. Aku akui aku salah tolong maafkan aku." Alhan menunjukkan ponselnya ke arah Wafa. Wafa tidak perduli, ia keluar ruangan bergegas pulang. Baginya masalah yang dihadapi begitu rumit entahlah akhir-akhir ini hatinya sulit sekali berdamai dengan kesalahpahaman. Baginya apa yang dilihatnya sesuatu yang fatal membuat hatinya terluka. Suaminya berada dalam ruang perawatan hanya bertiga saja seperti layaknya keluarga kecil bahagia.
Ia menyadari selama ini kehamilan belum berpihak padanya, wajar saja Alhan sangat merindukan dan menginginkan kehadiran seorang anak. Sementara dirinya belum juga mengandung buah cintanya. Wafa terus menghapus air mata yang meleleh tanpa kompromi. Benci sangat benci mengapa air matanya lolos begitu saja. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya yang pemaaf, tegar dan bersikap tenang dalam menghadapi masalah.
Dreet...
Dreet...
Suara ponsel dari Mila membuatnya terhenyak. Ia menghela nafasnya dengan pelan, mengaturnya agar tak terdengar seperti orang yang baru menangis.
"Ya Mil?"
"Fa kau baik-baik saja?"
"Iya aku baik, Mil. Ada apa?" bohongnya.
"Fa pasien yang bernama bu Nurmala ingin bertemu denganmu."
Wafa bergeming. Buat apa Nurmala mencarinya?
"Katakan padanya saya sibuk. Kalau keadaannya sudah membaik ia diperbolehkan pulang. Mil....Dokter Rasya sudah datang?"
"Sepertinya dokter Rasya tidak datang hari ini, karena memang tidak ada jadwal." Jelas Mila. Ada raut kekecewaan setelah mendengar kakak angkatnya tidak datang hari ini. Entahlah Wafa merasa ingin sekali sharring tentang masalahnya, solusi yang Rasya berikan selalu tepat sehingga ketika curhat padanya tidak ada yang sia-sia.
"Ya sudah. Mil kalau ada yang menanyakan saya bilang saja saya sedang sibuk. Saya sedang tidak mau diganggu oleh siapa pun."
"Siap. Oke bidanku idolaku. Apa pun kesibukanmu semoga diberi kemudahan dan lancar semuanya." Di seberang sana Mila tertawa.
Sementara Wafa melanjutkan langkahnya menuju sebuah warung yang menyajikan ayam geprek. Ia membelinya 1 porsi.
"Hanya seporsi bu bidan?"
"Iya satu porsi saja." Wafa tersenyum. Ia benar-benar kesal dengan suaminya.
"Biarkan saja kalau suami mau bisa beli sendiri." Gumamnya dalam hati, sambil tersenyum miring. Hatinya masih dongkol.
Sesampainya di rumah ia tidak menyangka kalau suaminya sudah sampai duluan. Terlihat suaminya duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Alhamdulillah De kau sudah datang. Kamu bawa sesuatu buat makan siang hari ini?" Wafa hanya diam. Alhan memperhatikan tentengan yang dibawa Wafa yang diletakkan di atas meja makan. Perut Alhan sudah meronta ingin diberi jatah energi siang ini.
"Kamu beli apa sayang?" Alhan hendak membuka makanan yang masih terbungkus plastik putih. Sementara Wafa mengambil nasi dari magic com, yang tak jauh dari meja makan. Setelah mengambil satu piring nasi ia pun bergegas ke meja makan.
"Eit jangan sentuh makanan itu. Enak aja mau tinggal makan. Kalau kau mau beli sendiri, sana" Sargah Wafa galak. Alhan kaget ternyata istrinya bisa galak juga. Ia hanya bisa memandang istrinya yang sedang makan sendiri tanpa mengajaknya untuk makan. Berkali-kali Alhan menelan air liur melihat suapan demi suapan masuk ke mulut istrinya, emmmh pasti enak. Begitu cetar di mulut, Apalagi melihat peluh yang mendarat di kening Wafa. Ayam geprek yang ia makan menggoda sekali. Alhan menghela nafasnya dalam, sudah lama menunggu sampai perut terasa lapar namun istrinya dengan teganya tidak mau berbagi.
Alhan bangkit dari tempatnya duduk, ia membuka kulkas. Diambilnya satu butir telur, daun bawang, cabe merah, rawit, tomat. Ia iris tipis. Campur jadi satu, dikocok sampai tercampur rata. Kemudian ia tuang ke dalam wajan yang sudah diisi minyak goreng...tarrra jadilah telor omelet topping tomat .
Tahap selanjutnya Alhan menyiapkan bumbu nasi goreng. Tetiba ia ingin makan nasi goreng spesial. Sepiring nasi goreng sangat menggugah selera tersaji di atas sebuah piring ceper.
Wangi nasi goreng buatan Alhan sangat menggugah selera Wafa untuk mencicipinya. Ia memandang menu buatan suaminya dengan wajah sendu. Sengaja Alhan duduk tepat di depan Wafa. Menyadari aktivitasnya terus dilihat istrinya, Alhan menghentikan suapannya yang ketiga. Tl
"Kenapa, adek mau?" Alhan tidak tega walaupun baru saja istrinya menghabiskan sepiring nasi ayam gerprek sepertinya ia masih lapar.
"Memang boleh?" Ucapnya ragu. Alhan tersenyum.
"Boleh dong. Kita engga boleh pelit dek....sini mas suapi." Ucapan Alhan sedikit menyentil istrinya untuk tidak pelit sama suami. Alhan menyuapi istrinya dengan penuh cinta dan sayang seolah tidak ada beban yang menyelimuti jiwa mereka. Tanpa terasa makanan mereka tandas tak bersisa.
" Alhamdulillah istriku banyak makan siang ini. Biarin mas aja yang nyuci piring. Istirahat saja kamu pasti capek seharian menangani pasien melahirkan."
"Emmm baiklah terima kasih. Tapi ingat saya tidak bisa memaafkan kejadian tadi pagi." Wafa beranjak dari tempat duduknya menuju lantai atas.
"Ya Allah de, sudah kusuapi juga masa masih ga dimaafin sih?"
Alhan mengikuti istrinya menapaki tangga. Karena terburu-buru kaki Wafa keseleo hampir saja jatuh kalau Alhan tidak menangkapnya.
"Masya Allah, De untung saja." Alhan langsung membopong istrinya.
"Turunkan mas."
"Engga. Nanti kamu jatuh lagi."
"Turun mas."
"Engga. Diam De....tubuhmu lumayan berat."
"Ooh....Jadi menurutmu aku gendut? Turunkan aku sekarang!"
"Engga. Diamlah De!"
__ADS_1
"Atau jangan-jangan kamu mau ngebanting aku, karena kamu kesal."
"Duh De kamu tuh suuzhon terus. Mana bisa aku ngebanting kamu. Kamu itu spesial di hati aku."
"Bohong."
"Beneran."
"Apa buktinya?"
"Oooh jadi istriku ini ingin bukti?"
"Wanita butuh bukti bukan janji."
"Baik akan kubuktikan siang ini." Sambil membaringkan istrinya ke kasur king size.
"Sekarang bukalah!" Titah Alhan serius. Lalu ia mendekati pintu untuk menguncinya.
"Buka, buka apa? Jangan macam-macam kamu mas ini masih siang. Aku ga mau... " Wafa langsung beranjak berusaha kabur.
"Hei mau kemana?" Alhan mengejar.
"Aku ga mau mas."
"Menolak keinginan suami dosa loh. Ayo buka!"
"Buka pintunya mas, mana kuncinya aku mau turun saja. Auw...."Tetiba kaki kiri Wafa terasa nyeri. Alhan memapah istrinya menuju sofa. Wafa duduk sambil menahan nyeri sementara Alhan mengurut telapak kaki yang keseleo.
"Aaaaaaau....." Teriak Wafa merasa sangat sakit, namun setelahnya rasa nyeri itu hilang.
"Gimana masih sakit." Tanya Alhan lembut. Wafa menggerak-gerakkan kakinya.
"Alhamdulillah ga sakit lagi."
"Lagian ngapain kabur sih?"
"Habisnya kamu maksa buat buka baju segala seolah aku tuh mau diperkaos oleh suamiku sendiri." Ujar Wafa masih kesal. Alham tertawa renyah.
" Mana ada suami perkaos istri. Lagian siapa juga yang nyuruh kamu buka baju?"
__ADS_1
"Lah tadikan mas nyuruh aku buka. Buka apa coba kalau bukan buka baju?"
Alhan tertawa lagi. Alhan geleng-geleng kepala. Ga nyangka pikiran istrinya ternyata mengarah ke arah sana.