CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 48 Komitmen A.W


__ADS_3

Sudah cukup lama mereka berada di kasur yang sama. Ternyata malam pertama yang mereka lalui dilakukan di rumahnya sendiri tanpa ada drama di dalamnya.


Wafa bangun lebih dulu. Serasa badannya remuk setelah olahraga semalam. Benar - benar ia tidak bisa menolak keinginan Alhan yang terus menerus mengajaknya beribadah. Bagaimana tidak sosok Wafa yang begitu mempesona dan cantik luar dalam membuatnya begitu candu.


Wafa mengambil memakai pakaian yang kemarin ia kenakan. Karena memang di rumah itu belum tersedia pakaian ganti. Ia membuka pintu lemari berharap ada handuk di sana. Dan benar handuk yang terlihat masih baru tersimpan rapih. ia pun mengambil salah satunya dan dibawanya ke kamar mandi sambil berjalan seperti siput. Mulutnya mendesis karena rasa perih di area sensitifnya.


Cukup lama Wafa berada di kamar mandi sampai Alhan terbangun dengan sendirinya karena merasakan ada yang hilang. Ia meraba-raba kasur sambil matanya terpejam.


"Dek....dek....jangan jauh-jauh." Tapi ternyata Alhan tidak merasakan ada pergerakan dari yang lain. Matanya menyipit dilihatnya jam dinding tepat di depan kasur. Pukul 05.30 Wib.


Dia berusaha untuk melebarkan matanya yang terasa sepet.


Matanya tambah melebar ketika melihat istrinya yang hanya memakai handuk dengan rambut yang basah.


Namun itu tidak berlangsung lama karena Wafa cepat menyadarinya, ia langsung masuk ke kamar mandi lagi memakai baju yang kemarin. Tidak nyaman? Ya jelas tak nyaman memakai baju kotor tapi mau bagaimana lagi. Itu baju satu - satu nya yang bisa ia pakai.


"Sudah rapih, mau kemana?" Tanya Alhan masih di tempat tidur. Rasanya malas untuk beranjak, namun harus dipaksakan kalau tidak akan semakin ketinggalan untuk menjalankan subuhnya.


"Selepas shalat aku mau ke kontrakanku yang dulu mas. Di sana masih banyak baju yang belum diambil. Sekalian mau beli uduk buat sarapan."


"Tunggu mas kalau mau ke sana. Mas ga mau ditinggal sendirian di sini" Alhan langsung ke kamar mandi.


-


Sambil menunggu suaminya selesai menunaikan ritualnya, Wafa duduk di sofa sambil memainkan ponselnya karena sejak semalam belum sempat ia sentuh.


-


Di kontrakan ternyata ada Mila seorang perawat di klinik sekaligus sahabatnya sejak masa SMA. Selama ini mereka ngontrak di tempat yang sama. Saat itu Mila hendak mengunci pintu depan karena dia akan berangkat ke klinik.

__ADS_1


Begitu membalikkan badan Mila dikagetkan dengan dua orang yang berada di hadapannya.


"Wafa? Ya ampun baru kelihatan yang pengantin baru." Mila langsung menghamburkan tubuhnya pada Wafa, memeluknya dengan erat karena kangen.


"Ehem....Jangan lama - lama pelukannya. Emang enak jadi nyamuk di sini, huh." Alhan dengan muka datarnya mengintrupsi sahabat istrinya itu.


"Eh iya maaf ternyata ada pak Alhan. Silakan masuk pak, he...he...tambah galak aja bapak. Jangan galak-galak pak nanti Wafa malah ninggalin bapak, Wafa ga suka cowok galak loh pak!" Goda Mila sambil membukakan pintu buat atasannya itu.


Alhan melirik ke arah Wafa.


"Beneran dek? Yang ada Sahabatmu ini tambah bucin sama suaminya" Wafa tertawa renyah tidak mengindahkan keduanya.


"Mil aku numpang sarapan di sini ya! Sekalian mau ambil baju-bajuku tapi kemungkinan semua yang punyaku aku bawa sekarang saja deh, mumpung ada yang bantuin"


"Dih buru-buru amat. Sebagian bajunya simpan aja di sini dulu Fa, siapa tau kalau kalian lagi berantem kamu bisa nginep sini lagi" Alhan menyorot tajam Mila. Dia berani bercanda kalau ada di luar klinik. Aman saja karena di luar pekerjaan. Kalau di klinik tentunya Mila harus jaga sikap apalagi tutur katanya harus benar-benar dijaga. Tapi untuk kali ini Mila menunjukkan siapa Mila yang sebenarnya. Orang yang apa adanya, bikin kesal tapi sebenarnya orangnya baik banget makanya Wafa memperbolehkan Mila melanjutkan tinggal dikontrakkan itu sampai bosan.


"Iya Wafa sayang aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Buktinya kamu berjodoh dengan pak Alhan itu karena doaku sepanjang waktu"


"Aamiin terima kasih doanya Milaku sayang" Wafa mencubit pipi tembem Mila dengan gemas.


"Beneran kamu doain kita yang terbaik?"


"Ya iya lah pak ga mungkin banget sahabat sendiri mendoakan yang jelek buat sahabatnya sendiri."


"Bagus itu. Bulan depan aku tambah....."


"Tambah gaji pak?" Tanya Mila penuh harapan.


"Enak aja. Yang ada tambah kerjaan!" Kembali ke muka datar.

__ADS_1


"Ish itu pak Alhan masih jutek aja Fa? Kasihan kamu Fa, yang sabar ya!" Wafa hanya tersenyum.


"Sebenarnya pak Alhan sudah berubah Mil. Dia begitu karena perutnya sedang meronta , lapar pengen makan." Ujar Wafa setengah berbisik. Mila ngakak.


"Kok kamu masih di sini? Sudah sana berangkat! Bulan depan aku pastikan ada pemecatan bagi karyawan yang tidak disiplin sepertimu."


"Iya bapak Alhan yang ganteng. Ini mau berangkat, ini telat karena ada tamu yang tidak diundang di kontrakanku. Mau numpang makan lagi." Sindir Mila langsung kabuur. Wafa hanya geleng-geleng kepala.


Ia menyiapkan dua piring sebagai alas nasi uduk. Disodorkannya piring tersebut di atas meja tepat di depan Alhan.


"Makasih sayang." Siap Alhan begitu manis. Namun hati Wafa masih terusik dengan foto yang ada di atas meja kerja Alhan dan juga nomor kontak Nurmala yang masih tersimpan dengan nama My Love. Sungguh ingin ia mengungkapkan keresahannya, kegundahannya namun ia tidak ingin momen kebersamaannya pagi ini terusik gegara hal yang mungkin dianggap sepele.


Alhan tahu Wafa tidak fokus saat makan.


"Kamu kenapa, say kok diam saja."


"Kan lagi makan sebaiknya saat makan tidak berbicara" Wafa mengingatkan dengan senyuman.


Tidak lama Alhan menghabiskan makanannya. Piringnya bersih tanpa sisa. Ia pun langsung menuju dapur untuk mencuci piring.


"ngapain mas, biar aku saja yang nyuci." Wafa jadi tidak enak hati.


"Biasakan selesai makan cuci piring sendiri. Itu yang diterapkan bunda di rumah. Kami tidak mengandalkan asisten rumah tangga."


"Oh ya. Ck....ck....ck... Jadi aku menikahi laki-laki yang mandiri?"


"Ya kau beruntung menikah denganku begitupun sebaliknya aku sangat beruntung memilikimu selamanya. Selamanya kita akan terus bersama sampai maut memisahkan. Berikan aku anak-anak dari rahimmu Wafa Zahira. Kebahagiaan seorang suami jika ia sudah berhasil membuat istrinya hamil. Kamu maukan hidup selamanya denganku?"


"Aku hanya menikahi satu orang lelaki dalam hidupku. Dan itu kamu, mas. Aku harap kamu tidak mengecewakan aku. Kesetiaan dan kejujuran itu faktor utama demi keutuhan rumah tangga walaupun terkadang kejujuran di salah gunakan oleh kaum pria untuk berselingkuh. Aku harap suamiku selalu memegang amanah untuk menyelamatkan istri dan anaknya menuju jannah-Nya." Tegas Wafa.

__ADS_1


__ADS_2