
Resa adalah adik sepupu Wafa. Umurnya 23 tahun, ia masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri Bandung semester 7. Selama di Bandung ia tinggal bersama kakek Malik dan Nenek Maryam di sebuah pondok pesantren. Sementara orang tuanya tinggal bersama nenek Meliana di Rangkas.
"Kapan kamu berangkat ke Bandung?" Tanya Wafa
"Kemungkinan besok pagi kak. Sekaligus nunggu Kak Ramlan mau mengadakan syukuran ulang tahunnya. Kenapa gitu kak?"
"Ga apa-apa. Sudah selesai? Ayo turun ke bawah. Kita makan!" Dijawab Resa dengan anggukan.
Mereka langsung menuju prasmanan untuk mengambil menu masakan yang tentunya menggugah selera.
Setelah mengambil makanan yang diinginkan, keduanya mencari tempat duduk yang kosong. Dan ternyata tempat duduk tersebut letaknya tidak jauh dengan tempat duduk Alhanan juga Rasya.
Selesai menghabiskan makanannya mereka berempat bercengkrama.
"Oiya kak Rasya ini kenalkan adik sepupuku dia masih kuliah, setahun lagi lulus. Kuliah di kota kembang." Wafa memulai aksinya. Ada bumbu-bumbu promosi di dalam perkenalan itu. Ya untuk menggantikan dan menebus rasa bersalahnya pada Rasya karena sudah menolak lamarannya hanya karena lebih memilih Alhan sahabatnya, Wafa memperkenalkan Resa siapa tahu berjodoh.
__ADS_1
Rasya menatap tajam gadis di depannya. Resa yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah.
Sambil nyengir kuda Resa menjelaskan jika mereka sudah saling kenal karena kejadian tadi.
"Oooh jadi kalian sudah saling kenal. Jadi baju yang dipakai kak Rasya?" Wafa manggut-manggut sambil menahan senyum. Alhan lalu menonjok bahu Rasya dengan cukup keras.
"Aduh, ih apaan sih!"
"Oh jadi ini jawabannya. Lantas baju Rasya dikemanakan?"
" Jadi kalau kisahku tuh Cincin yang Tertinggal yang benar-benar mengantarkan ku pada jalan yang benar otw menikah. Dan semoga kisahmu ini Sya BAJU YANG DITINGGAL akan membawamu pada pernikahan juga ha....ha...ha..." Alhan sungguh merasa geli.
Wajah Rasya berubah menahan malu. Ia geram Alhan sudah meledeknya. Rasya menatap Alhan dengan tajam. Langsung pergi menuju dalam rumah. Alhan menghentikan tawanya. Ia baru menyadari kalau mereka memang sedang marahan gegara Alhan tidak terbuka tentang calon yang ia lamar.
Sekarang semuanya sudah terkuak. Alhan harus menyelesaikan semuanya, ia tidak ingin kehilangan sahabat terbaiknya.
__ADS_1
"Sebentar aku ke sana dulu!" Wafa mengangguk paham, ia tersenyum. Alhan menyusul Rasya dengan tergesa.
"Sya tunggu dong aku mau bicara. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Sya kamu mau kemana?"Jalan Rasya semakin cepat tanpa menghentikan langkahnya ia berseru.
"Ke kamar mandi mau ikut?!" Alhan mengerem langkahnya. Ia terdiam lalu tersenyum.
Olala ia pikir Rasya mau pulang duluan tidak tahunya Rasya hanya ingin ke kamar mandi saja. Alhan hanya geleng-geleng kepala.
"Han....ternyata kamu di sini."
"Iya Bun, ada apa?"
"Kita pulang sekarang saja. Dari sini kita ke butik langganan bunda sekalian ajak Wafa. Kita pesan baju pengantin."
"Iya Bun " Walaupun sebenarnya Alhan sangat ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Rasya terlebih dahulu namun karena waktu sudah mepet sebelum hari pernikahan maka Alhan mengikuti arahan dari bundanya.
__ADS_1
Rombongan tamu keluarga Alhan berpamitan untuk pulang dan membawa serta Wafa.