CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 79 Penolakan Tiara


__ADS_3

"Kenapa kamu mengikutiku terus? Aku tuh sudah punya calon jadi berhenti untuk berharap!" Ujar Tiara sengit. Ia buru-buru beranjak pergi. Sebelum masuk ke dalam rumah Tiara menoleh dan mengatakan sesuatu pada Kasdun.


"Lebih baik kamu pulang saja. Percuma kamu ada di sini!


Kasdun menatap nanar wanita yang ia cintai. Dilihatnya Tiara menutup pintu rumah, sangat tidak sopan. Tiara benar-benar tidak mau menemani Kasdun mengobrol. Kasdun hanya menghela nafas pelan, sungguh sulit sekali menaklukan hati seorang Tiara. Bagi Kasdun Tiara adalah cinta pertama dan berharap menjadi cinta yang terakhir. Entahlah diantara wanita yang sering ia jumpai hanya Tiaralah yang bisa mencuri hatinya. Padahal di luar sana banyak wanita yang sangat ingin menjadi wanitanya. Namun Kasdun hanya menganggap mereka sebagai teman tidak bisa lebih dari itu.


Kasdun beranjak dari tempat duduknya dengan hati yang sakit. Baru kali ini hatinya terluka karena cinta. Mungkin memang benar lebih baik dicintai dari pada mencintai, apa yang dirasakan Kasdun saat ini begitu menyakitkan. Sabar....sabar....sabar Kasdun masih banyak orang yang mendukung kegigihanmu mendapatkan cintanya Tiara. Ia menoleh sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.


Kasdun menaiki motor fulsar bututnya. Ia turun kembali ketika seseorang memanggil namanya. Orang tersebut baru saja turun dari mobil.


"Kasdun kamu di sini? Hayu masuk!"


"Makasih bu Nurmala. Kasdun mau pulang saja. Cukup lama Kasdun berada di sini. Barusan Tiara menemani Kasdun ngobrol. Ternyata dia sangat baik bu. Eh pak....." Kasdun menganggukkan kepalanya menatap sopan pada Herdi kemudian menjabat tangannya.


"Oh iya kalau begitu hati-hati kamu di jalan!"


"Iya ibu.....bapak permisi Assalamulaikum!"


"Walaikumussalam" Ucap keduanya serempak. Nurmala memandang sesuatu yang ganjil dari sikap Kasdun yang melangkah gontai tak bersemangat, pasti ada sesuatu yang terjadi.


Nurmala langsung masuk ke rumah tersebut untuk menemui buah hatinya sementara Herdi mengambil koper dan barang bawaan lainnya dari dalam mobil.


"Bagaimana Panji Tante?"


"Alhamdulillah Panji aman tapi tante minta maaf karena stok ASI di kulkas habis, Panji minum susu formula barusan. Baru sekali sih." Tante Rima memberikan Panji pada ibunya. Terlihat Panji sudah mulai tertidur setelah minum susu formula.


"Ooh ya...tidak apa-apa tante. Panji maafin mama ya sayang. Tidak seharusnya kamu ditinggalkan." Nurmala membuai anaknya lalu menciumnya penuh kasih sayang. Panji nyaman di dekat ibunya. Ia tertidur pulas. Nurmala menyimpan Panji di kasurnya dengan hati-hati. Nurmala bersyukur memiliki Panji walaupun jalannya tidak sesuai dengan harapan namun dengan pengorbanannya untuk tetap mempertahankan kandungannya sampai Panji lahir itu sangat luar biasa.

__ADS_1


Setelah menemui anaknya Nurmala bergegas ke kamar Tiara di lantai atas. Tiara sedang asik memainkan hapenya sambil rebahan di spring bad, sesekali ia tersenyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran. Ya obrolan Tiara dan Blu berlanjut lewat chat. Karena asik chatingan Tiara tidak sadar kalau kakaknya sudah berada di sampingnya. Duduk di sisi tempat tidur. Tiara tertawa lepas lalu berhenti mendadak begitu tahu kakaknya sedang menatapnya dengan tajam.


"Eeh kakak sudah pulang." Tiara bangkit kemudian duduk di samping kakaknya, lalu mencium tangannya.


Sempat-sempatnya Tiara mengetik balasan buat Blu.


"Sorry Blu kak Nurmala sudah datang nih. Nanti lanjut lagi ya, bye Blu.....!"


"Ada yang mau kakak bicarakan..."


"Mau bicara apa? Tumben. Biasanya juga cuek. Oiya kak besok saya mau pulang. Mau lanjut garap Skripsi ."


Nurmala bergeming, matanya masih menatap tajam adiknya.


"Kak...haloo, kakak kenapa?"


"Kasdun? Oh ya....tadi Kasdun ke sini cari kakak... ya cari kakak, terus ia langsung pulang karena kelamaan nunggu kakak yang belum datang. Emang kenapa?" Ujar Tiara sambil cengengesan.


"Kamu yakin, hanya itu? Berarti Kasdun bohong dong, katanya kamu menemaninya ngobrol lama"


"Heleh kak masih aja percaya sama Kasdun maridun." Ucap Tiara ngasal. Tiara beranjak dari tempat tidurnya menuju meja rias.


"Jelas kakak engga percaya sama ucapanmu. Tiara tolong jawab dengan jujur!"


"Iish apa sih kak perasaan nanya-nanya mulu kayak wartawan."


"Kamu menolak Kasdun? Jawab dengan jujur!"

__ADS_1


Deg


"Kakak tahu dari mana kalau Kasdun nembak Tiara?"


" Kakak tahu dari aura Kasdun yang tidak semangat setelah bertemu denganmu."


"Ya iyalah kak Tiara tolak. Apalagi hidup Tiara tuh sudah diatur sama ayah. Ga boleh pacaran apalagi sudah ada kasus di keluarga kita. Miris."


Terlihat muka Nurmala memerah. Ia tahu adiknya tengah menyinggung dirinya, namun Nurmala menekan sabar menghadapi adiknya itu. Ia tidak ingin adiknya melukai perasaan laki-laki yang begitu tulus mencintainya dan begitu tulus menolongnya saat detik-detik kelahiran Panji. Nurmala tidak ingin perbuatannya yang sudah menyakiti Alhan terulang lagi lewat Tiara yang menyakiti hati Kasdun.


"Ya kamu benar Tiara. Kakak pernah punya kesalahan dan ayah sudah menghukum kakak. Dan kakak harap kamu tidak mengikuti jejak kakak."


"ya iyalah kak. Kita itu berbeda walaupun kau kakakku, untuk urusan cinta ku harap kakak tidak usah ikut-ikutan mengaturnya. Tiara punya pilihan sendiri. Dan kami punya komitmen akan menikah setelah aku lulus tanpa PACARAN. Kakak mengerti!"


"Oh ya? Siapa dia, apa dia lebih baik dari pada Kasdun?"


"Ooooh jelas berbeda. Dia Blu Prasetya anak dari pak Yusup tetangga kita dulu. Dia sudah mapan bekerja di kantor bahasa. Sementara Kasdun? Hanya sopir angkot yang belum pasti masa depannya. oooh kak ayolah kita realistis saja. Bukankah kakak juga memilih kak Herdi karena ia Ceo? Jadi tolong kakak mengerti." Tiara memohon pengertian Nurmala.


"Memang dulu kakak berpikir seperti itu. Harta dan jabatan adalah segalanya. Tapi ternyata kakak salah. Harta dan jabatan tidak menjamin hidup menjadi bahagia. Kamu akan merasakan ketika kamu dicampakkan, ingat itu Tiara!"


"Loh kok kakak ngomong begitu? Mendoakan adik itu yang benar kak. Doakan agar adiknya bahagia dunia dan akherat!"


Nurmala hanya memandang adiknya kemudian ia memeluk adiknya dengan sayang.


"Kakak hanya kecewa kamu menolak Kasdun. Karena kakak merasa Kasdun sudah menyelamatkan kakak saat kakak mau melahirkan di tengah hujan lebat. Ia yang berusaha menyelamatkan kakak. Dan hanya sedikit orang seperti Kasdun. Ia tulus menolong kakak. Ia tidak pernah meminta kamu sebagai imbalan. Cintanya tulus, ia ingin membahagiakanmu. Kalau kemapanan berpihak pada Kasdun apakah kamu mau menerimanya?"Nurmala melerai pelukannya.


"Kak hatiku dan cintaku sudah terpaut pada Blu."

__ADS_1


"Ya memang cinta tidak bisa dipaksakan dengan siapa hati berpaut. Kakak berharap keputusanmu memilih Blu tidak salah." Nurmala beranjak pergi meninggalkan Tiara yang hanya bergeming.


__ADS_2