CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 44 Kesedihan Wafa


__ADS_3

Wafa menuruni tangga dengan langkah gontai. Semburat kekecewaan terpancar jelas di wajahnya. Mungkin karena masih baru mengarungi kehidupan rumah tangga bumbu-bumbu cinta itu pasti dirasakan semua orang yang baru menyicipinya.


Rasa pahit yang dirasakan Wafa mampu membuatnya gundah. Memang Alhan pernah mengatakan kalau dia tidak bisa menjamin setelah menikah hatinya sudah bisa move on dari mantannya namun Wafa menerima itu semua ia berharap tidak sampai sesakit ini.


Dengan tatapan kosong ia duduk di kursi meja makan. Dagunya ia topang dengan telapak tangannya matanya nanar menatap lurus ke depan.


"Sayaaang kamu kenapa kok murung begitu, Alhan mana sudah pulang kan dia?"


"Belum Bun...Mas Alhan ga jadi pulang sore ini. Katanya dia masih sibuk." Bunda Rianti tersenyum, ia mengerti ada kesedihan dan kekecewaan terpancar di raut wajah menantunya itu.


"Sayang pekerjaan Alhan memang tidak sepenuhnya on time. Terkadang ia juga harus menginap seminggu karena jadwalnya memang padat. Tapi kamu engga usah khawatir Alhan itu termasuk setia pada pasangannya. Ia sama persis seperti ayahnya. Alhamdulillah pernikahan kami awet karena saling percaya satu sama lain."


"Tapi Bun....Mas Alhan begitu mencintai mantannya aku belum yakin kalau dia bisa move on dari mantannya itu. Dan aku juga belum yakin mas Alhan bisa mencintaiku dengan cepat"


"Untuk kembali dengan mantan bunda rasa Alhan tidak akan pernah melakukannya. Karena ia tahu bagaimana kelakuan mantannya itu, tapi kalau kenangan bersamanya mungkin sulit untuk dilupakan. Tapi perlu diingat orang yang sudah pernah disakiti semanis apapun kenangan itu lama kelamaan akan pupus juga karena ada cinta yang tulus yang selalu menjaganya. Kamu jangan khawatir ya nak, kamu pasti bisa menghilangkan kenangan manis itu dari hati suamimu!" Bunda Rianti mengusap punggung Wafa dengan lembut.


"Keutuhan rumah tangga itu akan awet jika kedua pasangan mampu membangun komunikasi yang aktif tidak ada yang ditutupi. Intinya harus jujur terhadap pasangan. Kalau pasangan kita pendiam maka kita yang harus pro aktif untuk mendahului sebuah komunikasi sehingga ke depannya tidak ada perselisihan dalam rumah tangga." Bunda Rianti tersenyum pada menantunya walaupun profesinya sebagai bidan tetapi untuk pengetahuan tentang rumah tangga perlu ada bimbingan dari orang yang lebih berpengalaman karena hal ini tidak ada sekolah khusus tentang rumah tangga maka pembekalan menjadi ibu rumah tangga yang baik harus disampaikan sebelum menikah agar setelah menikah semua pasangan siap terhadap ujian dan cobaan saat mengarungi bahtera kehidupan untuk selamanya.


-

__ADS_1


-


Sebenarnya tidak hanya Wafa yang harus menelan kekecewaan saat suaminya tidak bisa pulang sore hari, Alhan pun sangat kecewa saat ia tidak dapat memenuhi janji pada isterinya. Rapat dadakan ternyata selesai sampai malam.


Sudah dapat dibayangkan pasangan pengantin baru yang harusnya berada di kamar berdua saja ini masih bergulat dengan pekerjaan kedinasan yang tidak dapat terelakkan.


Seharusnya Alhan sudah mengajukan cuti sebelum menikah namun karena job sebagai pemateri sudah ia terima beberapa bulan yang lalu akhirnya Alhan merasa terjebak oleh keadaan.


Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah yang bercat hijau muda. Alhan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia sampai rumah pukul 23.30 wib. Rasa lelahnya hilang saat ia melihat isterinya yang tengah tidur di sofa sambil memeluk sebuah majalah ayah bunda. Bibirnya tersenyum ternyata isterinya sangat cantik. Ia bersyukur memilikinya dengan apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Tanpa mengusiknya Alhan langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat mengguyur badannya yang lengket karena seharian belum tersentuh air. Segar walaupun secara kesehatan mandi malam tidak dianjurkan mungkin ini pengecualian buat Alhan yang benar-benar tidak nyaman dengan tubuhnya yang begitu lengket dan bau.


Perut Alhan pun bernyanyi tanpa membangunkan sang isteri, Alhan pergi ke dapur untuk mencari makanan yang bisa disantap malam ini. Ia pun memasak nasi goreng plus telor mata sapi.


"Iya Bun. Han lapar makanya Han masak sendiri ini. Yap selesai." Alhan memasukkan nasi gorengnya ke dalam piring ceper kemudian menatanya dengan timun dan tomat.


"Bunda mau? Kita makan bareng ya!" Alhan selalu begitu selesai memasak pasti ingin bundanya ikutan makan juga.


"Enggak ah ini sudah malam engga baik makan tengah malam begini takut gemuk." Alhan tertawa diusianya yang tidak muda lagi bunda sangat memperhatikan idealitas tubuh.


"Menantu bunda kemana?"

__ADS_1


"Ada di kamar Bun. Tidur. Han ga tega membangunkannya." sambil menguyah makanannya yang menurut Alhan sangat enak apalagi dimakan saat lapar begini.


"Kasihan Wafa dia menunggumu sejak tadi sore." Bunda Rianti menghela nafasnya dalam.


"Kamu tahu Han, ia sangat mencemaskan mu. Ia begitu tulus mencintaimu. Seharian ia bersedih sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Saat ia tahu malam itu di Anyer ada banjir tsunami paginya ia bertolak ke sana mencari informasi tentangmu."


"Wafa pergi ke Anyer? Kok ga ketemu ya?"


"Katanya dia lihat kamu di hotel namun ia lihat kamu begitu sibuk. Ditelepon ga aktif. Akhirnya ia balik lagi setelah ada panggilan dari klinik ada pasien yang mau melahirkan. Han bunda mohon jangan kau sia-sia kan Wafa. Dia orang baik dia pantas mendapatkan yang terbaik." Bunda Rianti selesai bicara seiring selesai pula nasi goreng disantap Alhan dari piringnya. Habis tak tersisa.


"Iya Bun. Bunda tenang saja, Alhan tahu mana yang terbaik untuk masa depan Alhan. Dan Alhan sudah mantap terhadap pilihan yang sudah digariskan olehNya. Bukankah orang baik-baik akan berjodoh dengan orang yang baik-baik? Han bangga terhadap pilihan bunda. Terima kasih bunda sudah menghadirkan Wafa untuk Han." Alhan memeluk bundanya dengan penuh sayang.


"Cepatlah kau hampiri isterimu bukankah kamu belum pernah menyentuhnya?" Goda bunda. Alhan hanya mengusap tengkuknya dan tersenyum.


"Sepertinya ga malam ini bunda. Kondisi Han sedang capek, lelah. Kayaknya Han butuh jamu biar badan jadi sehat kayaknya badan Han saat ini terasa remuk, Bun" Bunda tertawa mendengar penuturan Alhan yang cuek di depan bundanya.


"Tenang saja besok pagi bunda siapkan jamu khusus buat laki-laki. Jamu perkasa"


"Eh apaan Bun. Ga usah pake jamu. Alhan sudah perkasa kok. Nih lihat!" Alhan menekukkan lengannya dengan memperlihatkan otot-otot tangannya. Bunda tertawa lagi mendengar candaan Alhan yang menghibur. Selesai mencuci piringnya Alhan kembali ke kamarnya. Wafa masih tidur dengan pulas. Terlihat damai sekali. Dengan hati - hati Alhan memindahkan Wafa ke spring bad ukuran king size. Ia pun membaringkan Wafa tanpa merasa terusik sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2