
"Nah gitu dong kalau berpakaian yang benar. Begini kan rapih terlihat lebih cantik lagi." Puji Blu pada adik sepupu perempuan satu-satunya itu. Blu sengaja menunggu Neneng selesai sholat.
"Beneran kak? Tapi kalau cantik emang udah dari sononya." Neneng tertawa. Wajahnya berseri. Adem rasanya memakai baju gamis. Ditambah lagi ada yang muji seolah disiram air terjun curug cigumawang. Andai saja yang memuji itu Kasdun pasti tidak hanya adem tapi hatinya berbunga-bunga.
"Ayo kakak antar pulang. Anak cewek ga boleh pulang sendirian!" Mulai lagi nih Blu merasa khawatir pada adiknya.
"Tapi kak Keira mau naik angkot saja." Tolak Neneng ia teringat datang ke masjid ini tidak sendiri. Apalagi setelah sholat, ia janji mau makan bareng Kasdun. Jarang terjadi bukan, perempuan cantik anak pejabat bisa makan bersama sopir angkot? Minder? Tentu tidak. Bagi Neneng berteman dengan siapa pun juga pasti akan diterima. Selagi orang tersebut tidak rese, tidak memandang kasta dan tahta.
"Tidak bisa kamu harus pulang sama kakak dengan selamat!" Tegasnya.
"Iiih kak Blu menyebalkan." Neneng menurut juga titah dari kakaknya yang perhatian itu. Dari pada ketahuan ia sedang jalan sama Kasdun bisa panjang urusannya. Pasti serentetan nasehat dari kakaknya itu mendarat di telinganya dan Neneng hanya bisa jawab "Iya kak Blu." Dengan patuh. Selagi nasehat itu baik untuk masa depannya Neneng selalu menurut.
×××××××
Berkali-kali Kasdun melirik arloji yang duduk manis di pergelangan tangan kirinya.
"Ck huft.....kemana ngilangnya tuh bocah, apa jangan-jangan dia masih sholat di dalam?" Gumamnya dalam hati. Ia berlari menuju masjid untuk mencari keberadaan Neneng.
Kekhawatiran mulai menjalar dalam hatinya. Bagaimana tidak khawatir? Neneng berada di tempat ini bersamanya. Dia janji akan mengantarnya pulang dengan selamat. Dan sekarang Neneng tidak ada, di cari di dalam tidak ada bahkan di toilet perempuan pun tidak ada. Hilang seketika. Hatinya mulai was-was kekhawatiran Neneng diculik menyapa hatinya. Tidak dipungkiri Neneng sangat cantik lebih cantik dari pada Tiara. Tubuhnya yang langsing dengan berpakaian kurang bahan membuat lelaki normal seperti dirinya pasti akan merasa tergoda. Namun Kasdun bisa menahan godaan tersebut dan ingin merubah penampilan Neneng yang tidak pantas berpakaian yang bisa mengundang syahwat menjadi perempuan muslim yang bisa menjaga auratnya dengan baik.
"Aaaargh Neneng kamu kemana sih?" Entah mengapa Kasdun merasa khawatir padanya padahal Neneng hanya penumpang angkotnya tidak lebih.
"Siaaal kenapa tadi tidak minta nomor hapenya sih." Kasdun merutuki kebodohannya. Ia memandang dua plastik merah yang ada di bagian belakang angkot.
"Oh iya dia tadi bilang kalau dia tinggal di kontrakan dekat kampus pelangi. Aku harus ke sana siapa tahu ketemu." Gumamnya dalam hati. Kasdun bergegas menuju kontrakan.
Sesampainya di sana ia bingung juga. Di beberapa tempat sekitar kampus begitu banyak kontrakan.
"Mbak maaf mau tanya kalau kontrakan Neneng sebelah mana ya?" Dua orang perempuan berhijab itu saling pandang.
"Neneng yang mana ya?"
"Itu Neneng yang.....oh iya Neneng penjual cilok maksud saya Neneng yang kuliahnya sambil jualan cilok."
"Neneng fakultas ekonomi?" Kasdun reflek mengangguk padahal ia tidak tahu.
__ADS_1
"Setahu saya sih Neneng tidak ngontrak di sini mas, coba kontrakan sebelah sana mas!" Salah satu perempuan itu menyarankan Kasdun untuk mencarinya di tempat lain.
"Oh iya makasih ya!" Kasdun melangkah pergi namun ia hentikan langkahnya setelah mengingat sesuatu,
"Tunggu! kalian punya nomor hapenya, kan?" Kasdun menghentikan langkah kedua perempuan itu. Mereka menelisik Kasdun dengan penuh waspada. Khawatir Kasdun bukan orang baik-baik.
"Please saya mohon kalau kalian punya nomornya saya minta!" Ujar Kasdun penuh harap.
"Maaf kami engga punya, mas. Kami permisi mas...." Pamit kedua perempuan itu namun keduanya menghentikan langkahnya, setelah Kasdun memanggilnya kembali.
"Tunggu mbak! Please mbak kalau memang ga boleeeeh saya mohon mbak tolong hubungi dia. Saya hanya ingin tahu dia pulang dalam keadaan selamat."
Salah satu dari mereka mengangguk tanda setuju. Dia langsung menghubungi Neneng. Ia sengaja meloudspeaker biar Kasdun bisa mendengar langsung.
"Neng kamu di mana?" Kata temannya langsung tanpa basa-basi.
"Di rumah, kenapa?"
"Ya ampun Neng kamu tuh ya! Kalau mau pulang bilang dulu dong jangan main pergi gitu aja. Kamu tahu? Kamu bikin laki-laki di depanku merasa khawatir."
"Siapa namanya mas?" tanya temannya Neneng masih menempelkan hpnya di telinga kanannya.
"Kasdun."
"Coba Mir aku langsung ngomong sama dia." Ujar Neneng begitu mendengar nama Kasdun disebut.
"Halo bang Kasdun....'
"Neng halo ini iya ini bang. Barang yang dari bu bidan saya titipkan ke temanmu ini ya?"
"Oooh iya maaf bang aku lupa. Iya titipkan saja ke temanku. Makasih bang." Neneng merasa tidak enak hati. Kasdun sudah berbaik hati berusaha agar dirinya mau berubah dan tidak tahu mengapa Neneng menuruti nasehat Kasdun yang menurutnya sangat baik untuk dirinya.
××××××××
Nurmala merasa gugup manakala suaminya mengajak bersilaturahmi ke rumah orang tuanya. Penolakan ibunya Herdi masih terngiang saat itu apalagi status sosial menjadi faktor utamanya.
__ADS_1
Herdi yakin kali ini ibunya akan menerima Nurmala apa adanya setelah kehadiran Panji di tengah-tengah keluarga kecilnya. Semoga bayi Panji mampu menyatukan ibu dan anak yang masih berseteru tersebut.
Herdi menghentikan mobilnya di garasi sejajar dengan mobil lainnya.
Herdi melepaskan sealbelt yang dikenakan istrinya.
"Kau terlihat gugup sayang."
"Iya aku gugup sekali mas." Nurmala menghembuskan nafasnya pelan. Sesekali ia gigit bibir bawahnya dan menelan salivanya dengan susah.
"Kamu tenang sayang, ini minumlah agar tenang pikiran dan hatimu!" Herdi menyodorkan sebotol air mineral. Nurmala langsung meneguknya pelan.
"Turun yuk!" Ajak Herdi namun Nurmala menahan lengan Herdi.
"Mas aku di sini saja ya? Lagi pula yang diminta datang kesini kan kamu bukan aku." Herdi menggeleng
"Kalau mereka mengundangku maka secara otomatis mereka juga mengundangmu karena kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama."
Dengan menetralkan hati juga pikiran Nurmala mau juga masuk ke rumah mewah milik orang tua Herdi.
Sambil menggendong seorang bayi mungil yang berumur sudah genap satu bulan. Mereka mantap melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut.
"Selamat siang semua!"
Mereka yang berada di ruang makan menoleh ke sumber suara.
"Sayang kemarilah, di sini ada keluarga Siska."
"Om tante." Herdi mengangguk tersenyum kemudian menjabat tangan keduanya secara bergantian.
"Kamu tahu sayang mereka ke sini tidak hanya makan siang tapi mereka akan membahas hari pertunangan kalian"
"Apa mam, petunangan? Kenapa mama tidak katakan sebelumnya, kalau hari ini mau ada acara seperti ini?"
"Sayang namanya juga surprise masa harus kasih tahu duluan sih."
__ADS_1
"Oooh ya mama sudah berhasil membuat saya terkejut." Ujar Herdi tertawa hambar. Kemudian ia terpaku menatap orang-orang yang berada di sekelilingnya secara bergantian. Mama Meilan menghampiri Herdi yang masih terpaku. Membimbingnya untuk duduk di kursi.