
Kini mereka berada di ruangan yang sama, ruangan Alhan sebagai kepala klinik Sehat Medika. Alhan menatap tajam kedua pasangan yang sudah tertangkap basah melakukan hal yang melanggar etika di klinik miliknya.
Mereka sudah meresahkan banyak orang, kalau hal itu dibiarkan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengulangi sampai melampaui batas. Itu yang dipikirkan Alhan.
"Han apa tidak ada cara lain selain menikahi Resa. Aku tidak mencintainya Han." Bujuk Rasya.
"Apa kamu bilang, tidak mencintainya? Terus apa artinya pelukan tadi?!" Alhan benar-benar marah, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Aku kan sudah bilang itu ngga sengaja. Aku merasa kasihan padanya karena matanya terkena sambal geprek. Harus berapa kali sih aku mengatakan hal ini padamu? Perasaan ga ngerti-ngerti." Rasya sedikit emosi. Sementara Resa dan Wafa hanya diam saja.
"Resa kasih tau yang sebenarnya dong kalau kita ga ngapa-ngapain selain yang mereka lihat! Aaargh kamu jangan diam saja Resa. Biar kita ga jadi nikah, ayo kamu ngomong sekarang!" Titah Rasya gemas sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya
Resa tertegun sedih ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Apa yang sudah dilakukan Rasya terhadapnya hanya sebatas kasihan. Mengapa Resa terlalu kegeeran menerima perlakuan Rasya. Mata Resa mengembun, sekali kedip air mata akan lolos dengan sendirinya.
Terlihat Alhan sedang menghubungi seseorang, dia tidak bisa tinggal diam ketika karyawannya berbuat ulah, ini bisa mempengaruhi pamor kliniknya.
"Iya malam ini, pak. Berapa pun akan saya bayar, yang penting ijab kobul itu terlaksana."
"Ijab kobul? Apa-apaan ini masa harus malam ini juga?" Gumam Rasya dalam hati. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya sahabatnya itu tidak main-main dalam mengambil sebuah keputusan.
Mendadak orang tua Resa pun diminta untuk datang ke klinik terutama ayahnya Resa yang nantinya dijadikan sebagai wali dalam pernikahan Resa dan Rasya.
"Aaaaargh kenapa sih kamu mengambil keputusan ini sepihak? Ini sangat merugikanku. Resa katakan kamu engga menginginkan pernikahan ini kan? Kamu masih kuliah. Wafa tolong jangan biarkan suamimu melakukan hal ini, percayalah aku dan Resa tidak melakukan sesuatu di luar batas." Rasya memohon pada dua perempuan yang ada di hadapannya dengan penuh harap.
Wafa menghela nafasnya dalam.
__ADS_1
"Kak Rasya sebenarnya keputusan ini suatu keberuntungan buat pribadi dan karirmu. Kalau aku tidak mengatakan kalian adalah suami istri sudah dipastikan aib keluarga dan klinik ini menjadi taruhannya. Bahkan pamormu akan menurun. Karena perbuatan kalian tadi disaksikan banyak orang. Kalau aku tidak mengatakan kalian pasangan suami istri, mereka pasti akan mengatakan kalau kalian tengah berbuat mesum. Apa ka Rasya tidak berpikir sejauh itu? Sungguh aku tidak mau kalian malu di hadapan mereka yang melihat." Rasya tertegun apa yang dikatakan Wafa tidak ada yang salah.
Akhirnya Rasya terduduk sambil memijit pelipisnya.
Apa yang dikatakan Wafa benar adanya, ia tidak sampai berpikir sejauh itu di saat panik karena tertangkap basah oleh banyak orang. Wafa yang gercep secara langsung menyelamatkan Rasya dan Resa dari cibiran banyak orang. Hanya mungkin hati Rasya saja yang belum bisa menerima keputusan Alhan yang bersifat mendadak.
Resa hanya menunduk tidak berani untuk menatap Rasya yang sedang marah. Harusnya yang marah adalah Resa bukan Rasya. Kalau saja Rasya tidak iseng maka kejadian tadi di dalam lift tidak akan pernah terjadi.
Namun begitulah takdir. Pernikahan yang akan dilaksanakan malam ini merupakan kehendak-Nya yang harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada.
-
Dengan dalih ada meeting dadakan itulah alasan Alhan pada para staf dan karyawannya agar mereka tidak mengganggu acara yang akan digelar secara tertutup. Hanya pihak keluarga dan kerabat saja yang diundang sebagai saksi itu pun hanya sedikit saja sekedar mewakili.
Orang tua Resa mengangguk paham. Mereka tidak menyangka anak gadisnya akan menikah dengan cara seperti ini. Namun mau bagaimana lagi takdir sudah menyapa tidak ada seorang pun yang bisa melawan kehendak-Nya.
Tidak ada yang spesial dalam persiapan akad nikah malam ini. Kerena semuanya serba dadakan calon pengantin pun hanya didandani secara sederhana. Tidak ada kebaya yang seharusnya dikenakan pada calon pengantin perempuan. Tidak ada jas hitam yang melekat di tubuh pengantin laki-laki, hanya jas putih yang ia kenakan, jas kebanggaan para dokter.
Sebelum ijab kobul itu dimulai Rasya pamit untuk keluar ruangan hendak mengambil sesuatu di dalam mobilnya. Rasya teringat cincin yang yang pernah ia beli untuk mahar wafa seingatnya masih tersimpan di laci mobilnya. Awalnya cincin itu mau dibuang karena penolakan Wafa yang membuatnya patah hati. Namun dipikir lagi, sayang amat cincin yang sudah dibeli kalau harus dibuang begitu saja. Ternyata ada hikmahnya juga.
"Kamu engga ada niatan buat kabur, kan Sya?"
"Sejak kapan kamu engga percaya padaku?"
"Aku khawatir saja kamu lari dari tanggung jawab."
__ADS_1
Sebelum Rasya ke parkiran, Rasya menyempatkan diri ke poli kandungan sebentar. Ia ambil kunci mobil dari dalam tasnya yang terletak di atas meja kerjanya.
"Dokter Rasya tumben nih belum pulang? Mana istri dokter kok ga dikenalin ke kita sih?" Tegur salah satu suster yang tadi sore melihat kejadian di dalam lift.
"Belum pulang. Masih banyak kerjaan." Rasya tersenyum. Benar saja apa yang dikatakan Wafa. Kejadian tadi cepat mencuat. Kalau mereka tahu kebenarannya tidak hanya Rasya yang malu dan jelek di mata masyarakat namun nama klinik pun bisa dipertaruhkan.
Setelah Rasya mengambil cincin yang ia simpan di dalam kotak love berwarna merah. Ia menggigit jarinya. Entah apakah ini keputusan yang benar atau salah yang pasti Rasya hanya ingin bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah ia perbuat.
-
-
Rasya menyodorkan kotak love berwarna merah kepada pak penghulu. Alhan dan Wafa saling pandang. Mereka bingung sekaligus aneh karena tadi Rasya berupaya untuk menolak menikah dengan Resa sementara mahar yang sudah tersedia sepertinya sengaja Rasya siapkan sebelumnya.
"Bagaimana dokter Rasya sudah siap menikah dengan nak Resa?" Tanya pak penghulu sebelum acara akad nikah dimulai.
Rasya melirik Resa yang tengah menundukkan kepalanya. Resa terlihat lebih tenang. Ia pun berusaha untuk bisa ikhlas menerima Resa sebagai pendamping hidupnya.
"Saya siap, pak!" Kata itu pun meluncur dengan sendirinya dari mulut Rasya.
Dengan lantang Rasya mengucapkan ijab kabul tanpa ada kesalahan.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Saaaaah......!"
__ADS_1