CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 75 Nikah Dadakan


__ADS_3

Herdi jelas gelagapan jika ditodong buku nikah. Dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Kalau endingnya akan seperti ini tentunya ia tidak akan bertindak gegabah dengan meminta Nurmala tinggal di rumahnya untuk menghindari cacian masyarakat tempat tinggal Nurmala. Wajah Herdi terlihat pucat seperti orang yang tertangkap basah telah melakukan tindakan asusila. Pikirannya mendadak buntu setelah ditagih buku nikah oleh pak RT setempat.


"Bagaimana mas, mas nya bisa menunjukkan bukti-bukti tersebut pada kami?"


Oeeek


Oeeek


Oeeek


"Ada suara bayi...." Celetuk salah satu warga. Keenam tamu malam itu saling pandang. Herdi terhenyak namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Eeemmm maaf pak RT saya belum bisa menyerahkan administrasi itu sekarang. Karena semua berkasnya ketinggalan di rumah orang tua saya. Itu suara anak saya yang baru lahir kemarin." Ujarnya jujur.


"Oooh jadi mas sudah punya anak berarti sudah berkeluarga dong? Berarti tetangga kita salah katanya mas masih lajang." Salah satu warga menyimpulkan sendiri. Herdi menelan salivanya dengan susah payah tapi tetap tersenyum hambar. Ia lupa tadi pak RT sudah memberitahukan kalau ada warga yang memberi info dia masih lajang.


"Tetangga kita, kalau boleh tahu siapa namanya, pak?"


"Siska....neng Siska. Katanya teman mas."


"Siska? Apa mungkin Siska yang di maksud adalah orang yang akan dijodohkan denganku?" Gumam Herdi dalam hati.


Ooeeek


Ooeeek


Ooeeek


Panji menangis lagi.


"Maaf bapak-bapak anak saya menangis terus mungkin ibunya sedang tidur lelap sampai ga ngeh kalau anaknya bangun. Jadi saya tinggal dulu sebentar ya!" ujar Herdi.


"Tunggu mas! Kalau begitu kami pamit pulang saja. Terima kasih atas waktunya. Maaf sudah diganggu malam-malam begini." Pak RT pamit karena memang sudah jam 11 malam.


"Oh iya pak sama-sama. Terima kasih sudah berkunjung. Secepatnya akan saya serahkan berkas yang diminta." Herdi tersenyum senang, merasa lega akhirnya para tamu itu pulang. Semua itu berkat Panji. Ya Panji sudah menyelamatkan Herdi dari situasi yang rumit.


Herdi membuka pintu kamar Nurmala yang memang tidak terkunci. Dilihatnya Nurmala masih tertidur dengan nyaman tanpa terusik oleh tangisan Panji. Hijab yang masih dikenakan membuat wajahnya semakin terlihat tambah cantik.


Herdi menghampiri box bayi untuk menggendong Panji yang terlihat lapar dan haus. Dengan terpaksa Herdi membangunkan Nurmala dengan pelan. Nurmala memgerjapkan matanya ia kaget melihat Herdi berada di hadapannya sambil menggendong Panji. Herdi tersenyum.


"Maaf aku membangunkanmu. Panji haus dan lapar pingin ASI tolong beri dulu ya!" Herdi menyerahkan Panji pada ibunya.

__ADS_1


"Aku keluar dulu. Kalau ada apa-apa panggil aja, aku di kamar sebelah."


"Iya mas."


Herdi melangkah menuju pintu kamar, ia menoleh ke belakang lalu tersenyum.


"Besok pagi kita harus bicara. Ada sesuatu yang penting yang harus kita rembukkan."


"Kalau itu penting dan sifatnya mendesak lebih baik malam ini saja. Besokkan mas harus masuk kerja." Ujar Nurmala memberi saran.


"Baiklah setelah memberi ASI aku tunggu di ruang keluarga!".


Nurmala menganggukkan kepalanya. Seraya membuai Panji sampai ia tertidur.


×××××××××


Secangkir kopi, teh hangat dan sepiring strundel pisang coklat keju sudah tersedia di atas meja ruang keluarga. Sesekali Herdi menyeruput kopi buatannya. Setidaknya ada waktu sekitar 15 menit untuk berbicara dengan Nurmala. Ia ingin masalahnya mendapatkan solusi malam ini.


Melihat sajian yang menggugah selera Nurmala lengsung mencomot kue strundel yang legit dan bikin nagih.


"Kamu lapar apa doyan?"


Nurmala tersenyum.


"Iya makanlah aku senang lihatnya. Semoga kalian sehat terus. Kalian sangat berarti dalam hidupku."


"Oiya kamu mau ngomong apa mas? Kayaknya serius banget, sepenting apa sih?" Tanya Nurmala sambil mengunyah kue. Herdi memperhatikan sajian yang ada di atas meja hampir habis gegara ada busui semuanya bisa langsung


ludes.


"Nur tadi pak RT dan warga datang kesini. Menanyakan kejelasan status kita."


"Terus mas jawab apa?"


" Aku jawab kalau kita sudah nikah."


"Baguslah terus apa masalahnya?"


"Masalahnya aku diminta KTP, KK dan buku nikah."


Uhuk

__ADS_1


Uhuk


Uhuk


Nurmala tiba-tiba tersedak setelah mendengar buku nikah. Ia langsung minum teh yang ada didepannya.


"Hati-hati dong makannya. Gimana sudah baikan?" Herdi terlihat begitu perhatian. Nurmala mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Lantas apa yang harus kita lakukan, mas?"


"Besok kita ke KUA."


"Ngapaiinnn?"


"Mau beli bolen buat kamu yang doyan ngemil." Jawab Herdi ngasal.


"Serius dong maaas"


"Memangnya kalau kita ke KUA mau ngapain kalau bukan buat menikah?"


"Menikah?"


"Iya menikah. Kita harus menikah besok. Aku tidak ingin rumah ini digrebek warga lagi karena kita tinggal satu rumah dan belum memberikan berkas yang mereka minta sebagai syarat tinggal di perumahan ini."


"Ih ribet amat sih."


"Sebenarnya engga ribet. Memang begitu persyaratan yang diminta. Dimana pun kita akan tinggal berkas itu harus ada."


"Tapi masalahnya kedua orang tuaku masih berada di luar kota. Dan aku ingin ayahku yang jadi wali. Dan kau juga, bukankah orang tuamu juga belum tahu akan hal ini? Kita belum mendapat restu dari mereka mas."


"Untuk restu orang tuaku nanti kalau kita sudah menikah saja. Karena situasinya mendesak, Aku ga mau orang tuaku menjadi penghalang buat penikahan kita. Apalagi mama sudah menyiapkan jodoh untukku. Yang terpenting sekarang kau hubungi Tiara agar ia menghubungi orang tuamu untuk pulang besok dan minta mereka langsung datang ke sini. Besok saya ga masuk kerja dulu, asistenku yang akan urus semuanya besok."


"Mas memang bisa ya, kita daftar langsung nikah? Setahuku kalau kita menikah di tempat orang harus ada surat numpang nikah dan itu prosesnya cukup lama."


"Kamu tenang saja nanti asistenku yang urus. Kamu ga usah mikirin prosesnya yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk acara besok. Nih cepat hubungi Tiara minta kirim nomor telepon orang tuamu!"


Herdi ingin bertindak cepat sebelum sesuatu terjadi karena status mereka yang belum diakui sebagai suami istri oleh masyarakat setempat.


××××××××


Tidak ada perayaan yang istimewa pada pernikahan Nurmala dan Herdi yang digelar di dalam sebuah rumah sederhana bercat warna salem. Hanya beberapa orang saja yang diundang sebagai saksi dalam acara tersebut. Keadaan Nurmala yang masih masa pemulihan pasca melahirkan membuat dirinya harus banyak beristirahat karena hal ini akan berdampak pada kualitas dan kapasitas ASInya.

__ADS_1


Debay Panji sengaja tidak dibawa dalam acara tersebut. Tiara dan tantenya bertugas menjaga Panji. Nurmala sudah mempersiapkan sejak dini hari ASI dengan memompa ASInya yang lumayan banyak. Stok ASI melimpah tersedia di dalam kulkas, sehingga Nurmala tidak perlu merasa khawatir kehabisan stok ASI. Hanya saja karena kelamaan tidak disentuh Panji, dada Nurmala membesar dan ASInya merembes sampai baju bagian depan terlihat basah.


__ADS_2