CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 25 Mengembalikan Cincin Jaminan


__ADS_3

Sudah empat jam Alhan menunggu Wafa di ruangannya, tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Lalu ia keluar menuju ruangan Wafa yang ternyata pintunya tidak terkunci.


Alhan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ternyata di dalam sudah ada dua orang yang sedang tertawa.


"Assalamualaikum, Oh maaf ganggu ya? Emmm Bidan Wafa kalau sudah selesai aku tunggu di ruanganku!"


"Walaikumussalam" Jawabnya serempak.


"Oh iya pak. Mmmm pak maaf sekalian saja. Ini kenalkan dokter kandungan yang baru menggantikan dokter Taufik malam ini." Dr. Rasya membalikkan badannya


"Alhan kau?" wajah Rasya sumringah melihat sahabatnya berada di ruangan yang sama. Suprise.


"Kalian sudah saling kenal?" Wafa bingung.


"Bukan kenal lagi, Fa. Alhan ini sahabatku waktu kuliah di Bandung." dr. Rasya sangat senang bertemu dengan Alhan. Alhan mengusap tengkuknya.


"Kamu di klinik ini....."


"Oh ya pak Alhan ini anak dari dr. Ibrahim. Ia dipercaya untuk memegang dan mengelola klinik ini menggantikan dr. Ibrahim. Walaupun pak Alhan tidak membidangi kesehatan namun untuk urusan manajemen klinik tidak diragukan lagi, dok." sela Wafa. Alhan hanya tersenyum.


"Terus kamu ngapain jauh-jauh datang dan melamar kerja di klinik ini? Bukankah kamu sudah dokter tetap di rumah sakit Bandung?"Alhan heran dengan tindakan Rasya dan penasaran juga dengan alasan yang akan diberikan pada Alhan dr. Rasya mendekat. Dan berbisik,


"Demi memperjuangkan seorang gadis yang spesial di hati."


"Sejauh itu?"


"Tidak jauhlah bro. Yang penting bisa dekat rasa lelah hilang seketika" Rasya tersenyum. Wafa hanya menatap bingung dua sahabat yang ada di depannya.


"Kalian kenapa sih? Serius amat" Jiwa kekepoan nya meronta.


"Ga ada apa-apa kok. Ini dokter Rasya ternyata kerja di sini ada sesuatu yang ia kejar" Wafa menautkan alisnya.

__ADS_1


"Kenalin atuh dok, siapa orang yang beruntung mendapat perhatian kamu. Siapa pun pilihanmu aku akan mendukung dan mendoakan agar nantinya kalian bahagia dunia akhirat." Alhan ingin tahu.


Rasya tertawa "Beneran kamu pengen tahu, Han?"


"Ya iyalah masa sahabat sendiri ga tahu siapa calon pasangannya, ya ga Fa?" Wafa tersenyum canggung.


"Orangnya ada di sini."


"Maksud kamu siapa? Alhan semakin penasaran. Rasya menunjuk Wafa dengan dagunya, ia bahagia sekali walaupun sebenarnya sampai dengan detik ini pun Wafa belum mengiyakan lamaran Rasya. Alhan menghembuskan nafasnya pelan. Ia menatap Wafa dengan tajam. Seolah ingin jawaban atas pengakuan dr. Rasya. Wafa bahkan tidak mengerti arti tatapan Alhan. Karena saat Rasya menunjuk ia sedang mencuci tangan di wastafel. Raut muka Alhan berubah seketika.


"Kau doakan saja biar lamaranku diterima oleh Wafa" bisik Rasya lagi.


"Emmmm kalian pacaran?"


"iya" jawab Rasya


"Tidak" jawab Wafa bersamaan.


Alhan bergeming. Benar-benar banyak kejutan malam ini. Tadi dikejutkan dengan kehadiran Nurmala dengan pasangannya yang sedang mengantri di poli kandungan. Dan sekarang kejutan dari Rasya yang ternyata ada hubungan spesial dengan Wafa calon isterinya. Ya calon isteri karena memang bulan depan rencana pernikahan itu akan dilaksanakan. Namun setelah mengetahui kenyataan ini apakah rencana itu akan terjadi? Alhan bimbang menentukan keputusan. Satu sisi ia tidak ingin meruntuhkan harapan sahabatnya dan sisi lain ia tidak ingin menolak permintaan bunda. Sedangkan hatinya walaupun masih abu-abu namun ia berusaha membukanya untuk sebuah nama Wafa Zahira. Akankah kandas lagi harapannya untuk membina rumah tangga.


"Oh....emmm bo....bo...boleh." Agak terbata sambil tersenyum hambar namun matanya tak lepas menatap Wafa. Satu hal Alhan hanya butuh penjelasan.


"Oke kalau kamu mau nginep tunggu sini aja dulu ya, aku ada urusan dulu dengan Wafa. Tenang saja ini masalah pekerjaan." Alhan menepuk bahu Rasya.


"Ditunggu ke ruanganku, sekarang!" Wafa mengangguk.


"Dok saya tinggal dulu ya!"


"Iya. Saya tunggu di sini ya, calon istri!" Wafa salah tingkah. Dia tidak berpikir sampai sejauh ini.


Mata Alhan menatap tajam pada Wafa yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Sungguh Wafa tidak bisa membalas tatapan horor Alhan yang mungkin ia anggap peristiwa tadi hanya salah paham saja.

__ADS_1


Alhan duduk di sofa berhadapan dengan Wafa. Ia menyodorkan sebuah cincin milik Wafa.


"Ini aku kembalikan." Lirihnya.


"Maaf baru sempat mengembalikan. Maaf atas sikapku selama ini" Lanjutnya.


Wafa mengangguk meraih cincin yang berada di atas meja.


"Fa.....seharusnya kamu jujur pada bunda kalau kamu sudah punya calon suami, apalagi itu sahabatku sendiri. Aku tidak berhak mengambil sesuatu yang sudah jadi milik sahabatku sendiri. Kamu berhak bahagia. Dan aku harap kamu menolak keinginan bunda."


"Pak Han tapi dia....." Suara Wafa tercekat. Baru kali ini mengalami situasi yang cukup rumit. Padahal sebenarnya Wafa tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun hanya sebatas teman, sahabat bahkan hubungannya dengan dr. Rasya hanya sebatas kakak dan adik. Ya Wafa hanya menganggap Rasya sebagai seorang kakak.


"Maaf pak Han. Bapak salah paham kami tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku hanya menganggapnya sebagai kakak karena aku ga punya kakak." ujarnya jujur adanya. Alhan menarik nafas dalam.


" Apakah dia pernah mengajakmu menikah Fa?" Selidik Alhan


"Sering. Tapi aku menolaknya"


"Kenapa?"


"Masalah hati tidak bisa dipaksakan pak"


"Lantas ketika bunda menyuruh mu untuk menikah denganku apakah kamu bersedia?" Wafa terdiam


"Fa aku mohon jika memang kamu tidak berkenan menikah denganku jangan memaksakan kehendak bunda yang sangat menginginkanmu menjadi menantunya, kamu berhak menolaknya. Dan aku tidak ingin kamu terpaksa menikah denganku."


"Justru kalau aku menerima lamaran dari bunda apakah bapak bersedia menikah denganku? Sementara bapak baru saja putus. Aku pun tidak mau menikah dengan orang yang masih berada pada bayang-bayang kekasihnya"


"Kamu berhak menolak, Wafa. Aku tidak menjanjikan kalau aku bisa move on secepat itu dan aku tidak ingin kamu berpikiran kalau menikah denganmu adalah pelarian atas gagalnya cinta kami. Tolong pikirkan semua itu. Terus terang kalau aku memang sudah menerima tawaran bunda untuk menikah denganmu bahkan Minggu depan rencana akan ke rumah nenekmu untuk melamar mu".


"Kalau begitu lakukanlah. Kami akan menunggumu pak. Maaf aku pikir tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Keputusanku menerima atau tidak lamaran bapak Minggu depan akan terjawab" Wafa beranjak dari tempat duduknya. Melangkah menuju pintu namun langkahnya terhenti ketika Alhan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Jangan mengambil keputusan yang salah. Aku ingin kamu bahagia. Walaupun kebahagiaan itu bukan denganku" Wafa hanya tersenyum hambar tanpa membalikkan badannya, kemudian benar-benar keluar dari ruangan Alhan.


Ada rasa penyesalan setelah Alhan mengucapkan kalimat tersebut yang langsung keluar dari mulutnya.


__ADS_2