
Suster Mila memeriksa keadaan Nurmala malam itu. Setelah ditangani bidan Wafa dan dokter Rasya keadaan Nurmala membaik. Untung saja Kasdun membawa Nurmala dengan cepat walaupun sempat ada kericuhan dalam penanganan pasien dengan sigap bidan Wafa membawa Nurmala ke ruang bersalin untuk melakukan pemeriksaan dengan memberinya infusan agar Nurmala memiliki tenaga kembali setelah diguyur hujan di luar sana. Semuanya bisa diatasi setelah mendapat pemeriksaan dokter Rasya sehingga sesuatu yang bisa membahayakan nyawa keduanya dapat teratasi dengan baik.
Keadaan Nurmala yang pucat karena kedinginan membuat ia mendapat penanganan intensif dari sang dokter. Setelah melakukan pemeriksaan ternyata kandungan Nurmala bisa dilahirkan secara normal, inilah sesuatu yang patut disyukuri dan dharapkan oleh Nurmala bisa melahirkan normal untuk meminimalisir pembiayaan.
Wafa memasuki ruangan bersalin untuk mengambil alih pasien sesuai instruksi dokter Rasya.
"Bagaimana Suster Mila apa pembukaannya sudah lengkap?"
"Sudah bu bidan." Sambil mengangguk Mila menyerahkan sepenuhnya penanganan persalinan kepada bidan Wafa. Mila menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk mempermudah penanganan proses persalinan. Ia meletakkannya di atas meja dorong yang berada di samping Wafa.
Wafa dengan telaten, sabar membimbing Nurmala mengeluarkan bayi dari perutnya. Dengan gigih dan semangat Nurmala mendorong bayi untuk keluar dari rahimnya dan akhirnya bayipun lahir dengan selamat dalam keadaan sehat.
"Oeeeek.....oooeeeek.....oooeeeeek..." Suaranya begitu nyaring membahana di dalam ruangan. Rasa lelah, capek, sakit musnah seketika manakala mendengar suara tangis bayi laki-laki. Tak kuasa bulir air mata lolos tak bisa dipertahankan. Rasa haru, bahagia bercampur jadi satu. Akhirnya kebahagiaannya hadir di dunia ini walau pun Herdi belum terlihat batang hidungnya. Namun ia yakin ayah dari anaknya itu pasti akan datang menepati janjinya untuk melengkapi keluarga kecilnya.
"Mau dibawa kemana anakku bu?" Tanya Nurmala pada Wafa.
"Anak ibu tidak dibawa kemana-mana kok, ini mau dibersihkan dulu sebelum diberi ASI oleh ibunya."Wafa tersenyum. Hanya beberapa menit saja, suster meletakkan bayi mungil itu ke dada Nurmala untuk mendapatkan Anisiasi Menyusu Dini yang merupakan proses pengenalan ASI dengan usaha bayi sendiri sejak bayi lahir dengan cara ditengkurapkan di dada atau perut ibu agar bayi mencari sumber kehidupannya sedini mungkin dengan usahanya selama 1 jam.
"Bu Wafa terima kasih ya sudah membantu dan menolongku. "
"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai bidan, bu." Wafa tersenyum lagi.
"Entahlah apa yang akan terjadi jika tidak bertemu denganmu." Nurmala menghela nafasnya dalam.
"Bersyukurlah pada Allah karena sudah mengirimkan seseorang yang tulus menolongmu sampai dibawa ke klinik ini. Jadi yang menolong pertama kali itu bukan saya tapi orang lain yang begitu baik."
"Orang lain? Siapa dia dan ada dimana ia sekarang? Aku mau mengucapkan terima kasih padanya"
-
__ADS_1
-
Kasdun yang masih ada di luar mendengar tangisan seorang bayi. Matanya berbinar ikut merasakan kebahagiaan. Ia harusnya langsung pulang malam itu namun ia urungkan hanya ingin mengetahui kondisi gurunya sampai diketahui kalau gurunya sehat dan selamat.
Dari kejauhan terlihat Tiara berjalan cepat menuju ruang bersalin. Sesampainya di sana ia hanya berdiri di depan pintu ruang bersalin yang tertutup rapat. Perasaannya resah, ingin bertanya namun tak ada perawat yang lewat. Ia melirik laki-laki yang duduk di ruang tunggu tidak jauh dari pintu ruang bersalin. Lalu ia menghampiri laki-laki itu.
"Mas sedang menunggu istri melahirkan?" Tanya Tiara. Kasdun melihat ke kiri dan ke kanan ternyata hanya ada dia yang duduk di sana.
"Aku?" Kasdun menunjuk dirinya sendiri.
"Iya siapa lagi mas, kan hanya mas yang duduk di sini." Kata Tiara kesal. Kasdun nyengir kuda. Ia merasa masih muda dan belum pernah menikah dibilang sedang menunggu istri yang melahirkan?
"Maaf ya bu kupikir ada orang lain di sini karena aku merasa belum menikah. Jadi ya belum punya istri. Aku masih perjaka lihat dong bu wajah tampanku yang masih muda begini."
"Ih apaan sih malah promosi. Lagian aku tuh bukan ibu-ibu jadi jangan panggil bu." Tiara kesal.
"Wow berarti kita sama - sama masih jomblo dong?" Kasdun malah menggoda Tiara.
Kasdun menghampiri dua orang yang keluar dari pintu ruang bersalin. Wafa sudah tersenyum melihat Kasdun yang begitu perhatian pada gurunya sampai ia rela menunggu gurunya itu sampai proses persalinannya selesai.
"Eeeh Kasdun kupikir kamu sudah pulang. Ternyata kamu masih di sini."
"Ia bu bidan saya hanya ingin memastikan keadaan mereka baik-baik saja. Apa bu Nurmala sudah bisa dijenguk?"
"Belum nanti kalau sudah pindah ruangan baru bisa dijenguk. Kasdun bisa mengurusnya? Nanti akan ada perawat yang datang untuk memindahkan pasien ke ruang perawatan."
"Bisa bu bidan." Jawab Kasdun mantap.
Dreet
__ADS_1
Dreet
Kasdun langsung menerima telepon dari pemilik angkot yang ia bawa untuk mencari penghasilan.
"Hey Kasdun kemana aja lu jam segini belum pulang? Itu angkot mau dibawa sekarang juga, engkong mau bawa tetangga ke kampung sebelah karena saudaranya ada yang meninggal. Lu cepetan ke sini. Sekarang !"
"Tapi Kong.....?" Sargah Kasdun namun telepon ditutup sepihak.
"Aarrgh kenapa ditutup duluan sih?" Ujar Kasdun bermonolog. Telepon dari Engkong membuatnya galau tingkat tinggi. Tidak mungkin ia membiarkan angkot Engkong tetap di sini sementara tetangga Engkong lebih membutuhkannya, tapi bagaimana dengan bu Nurmala?
"Ah sudahlah yang penting anak bu Nurmala sudah lahir, itu artinya masih bisa ditinggal sebentar saja, ya hanya sebentar saja." Gumamnya dalam hati. Kasdun setengah berlari keluar menuju parkiran.
-
-
Tiara keluar dari toilet klinik dengan tergesa, terlihat di depan pintu ruang bersalin begitu sepi. Ia tidak melihat laki-laki aneh yang sempat membuatnya kesal. Ia bernafas lega. Beruntung ada seorang perawat yang keluar dengan membawa brankar yang di atasnya seorang wanita yang sangat ia kenal.
"Ka Nurmala? Oh syukurlah. Mau dibawa kemana kakak saya Sus?"
"Ke ruang perawatan." Jawab suster singkat. Tiara mengikuti langkah suster tersebut.
Setelah memindahkan Nurmala, suster tersebut keluar ruangan untuk mengecek pasien yang lainnya.
Tiara tersenyum bahagia melihat kakaknya baik-baik saja.
"Maaf ya kak, aku ga bisa menemani ka Nurmala dari awal."
"Kau dari mana saja, Ra?" Untungnya ada orang baik yang menolong kakak saat hujan deras. Kakak pingsan di jalan. Alhamdulillah kakak sampai di klinik ini dengan selamat. Tapi sayang kakak belum bertemu dengan orang itu."
__ADS_1
Penjelasan Nurmala membuat Tiara tertegun. Selang beberapa menit kemudian terdengar pintu kamar diketuk, seorang laki-laki masuk dengan santainya sambil tersenyum.
"Assalamualaikum.....!"