
Tidak mudah menjadi seorang Nurmala yang melewati masa-masa kehamilan tanpa ada suami di sampingnya. Tidak ada tempat untuk mencurahkan rasa sakit yang sering melanda pagi dan sore hari. Tidak ada perhatian khusus saat ia ingin makan makanan yang ia harapkan. Tidak ada pengalaman yang menyenangkan saat ngidam melanda yang ia rasakan seperti ibu hamil lainnya.
Nurmala membuang nafasnya pelan. Ia duduk di ruang tunggu poli kandungan sambil menunggu namanya dipanggil di tengah antrian yang cukup lumayan panjang.
Umur kehamilan yang tidak bisa ia tutupi lagi membuat dirinya menjadi orang yang bermuka tembok, harus bisa ditelan pil pahit kehidupan dirinya. Setidaknya hukuman dari ayahnya dapat memperingan dosa yang telah ia perbuat. Tanpa mendengar ia pun tahu di luar sana banyak orang yang mencibir, menghina bahkan mencaci dirinya karena perbuatannya. Buat apa disesali buat apa ditangisi, nasi sudah menjadi intip jadi hadapi saja bukan dihindari. Biarkan mereka bicara sesuka hati, lambat laun pasti akan diam dengan sendirinya.
"Ibu Nurmala!" Seorang perawat memanggilnya. Nurmala beranjak dari tempat duduknya. Lantas ia masuk ruangan poli kandungan. Dr. Rasya tersenyum menyambut pasiennya.
"Kondisi janin baik, posisinya sudah turun kepala bayi sudah di bawah, air ketubannya jernih, ari-ari juga bagus. Namun berat badan bayi masih kurang diusia kandungan yang memasuki 32 minggu." Papar Rasya sambil melihat layar USG.
"Ibu masih ada waktu untuk menaikkan berat badan bayi dalam kandungan. Jangan banyak pikiran ya bu karena bisa menghambat perkembangan dan pertumbuhan bayi dalam kandungan. Agar cepat proses melahirkan sebaiknya bayi harus sering ditengok sama bapaknya."
"Terima kasih dok sarannya. Saya akan berusaha makan yang banyak sesuai anjuran dokter. Maaf dok apakah saya bisa melahirkan normal?"
"Sangat bisa ibu. Apalagi semuanya baik-baik saja. Hanya pola makan saja yang harus diperhatikan. Ada lagi yang mau ibu tanyakan?"
"Tidak ada dok, makasih."
Nurmala pun keluar ruangan sambil mengusap perutnya yang terlihat tambah membesar.
Ia memesan taksi online untuk pulang ke rumahnya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
"Wow cepat sekali datang, mungkin sopirnya memang berada di area yang sama." Pikir Nurmala positif thinking. Ia lantas memasuki mobil tanpa memperhatikan siapa sopirnya.
"Ke jalan Mangga, Pak." Nurmala mengingatkan sopir setelah duduk dan menutup pintu mobil. Sopir itu mengangguk. Sopir sesekali menatap Nurmala dengan rasa yang sudah ia pendam selama ini.
__ADS_1
Makin cantik. Pipi yang chabi tubuh berisi seandainya tidak ada hukuman yang dibuat ia ingin sekali merengkuhnya, ingin membawanya jauh lari dari hukuman yang dibuat calon mertuanya. Namun ia tidak ingin mengecewakan wanitanya yang sangat menghargai keputusan ayahnya.
Ya benar sopir yang membawa Nurmala adalah Herdi calon suami Nurmala. Herdi sengaja tidak masuk kantor hari ini hanya karena ingin bertemu dengan wanitanya. Wanita yang sangat dirindukan, wanita yang sedang memperjuangkan hidup anaknya walau masih dalam kandungan.
"Loh pak kenapa mobilnya belok? Ini bukan arah menuju rumah saya."Protes Nurmala sudah mulai resah.
Dreeeet
Dreeeet
Panggilan dari nomor tak dikenal memekik memecah keheningan. Ia menekan tombol hijau.
"Ya hallo" Mata Nurmala masih terus memperhatikan sopir yang membawanya entah kemana. Namun ia berusaha bersikap tenang.
"Dengan Mbak Nurmala?" Seru seorang lelaki di ujung sana. Nurmala mengiyakan.
"Loh saya ada di dalam mobil ini. Saya pikir mobil yang saya tumpangi ini taksi online yang aku pesan." Ujar Nurmala bingung.
" Oh my god. Mas sepertinya aku diculik." Setelah meyadari sesuatu yang ganjil. Ini salahnya juga main masuk mobil tanpa bertanya dulu.
"Mas harus bertanggung jawab sampai saya diculik seperti ini! Nih penculik kayak ga ada kerjaan aja, nyulik ibu hamil" Imbuh Nurmala sengit. Ia langsung menutup pembicaraan secara sepihak. Sementara sopir yang bernama Herdi hanya tertawa cekikikan.
Dreeet
Dreeet
"Apa lagi sih mas?" Nurmala masih gondok.
__ADS_1
"Hey mbak jangan main matiin hape sepihak dong. Kalau mbak ga jadi pesan tolong batalkan melalui aplikasi! Saya ga mau tau kondisi mbak kayak gimana sekarang yang jelas mbak yang harus tanggung jawab karena sudah php. Sekarang juga mbak batalkan melalui aplikasi."
"Iya....iya cerewet!" Nurmala tambah dongkol. Ia lantas membuka aplikasi grobak untuk membatalkan pesanannya.
"Mbak kalau lagi hamil jangan marah-marah terus nanti ketularan loh anaknya. Anaknya bisa jutek tuh kayak ibunya." Ujar Herdi tertawa mengejek.
"Hai kenapa kau tertawa, siapa kau sebenarnya? Kau tahu, tidak ada untungnya kamu menculik ibu hamil sepertiku. Kalau kau memaksa kau akan berhadapan dengan ayahku. Kau tahu ayahku mantan preman pasar senen jangan mentang-mentang suamiku seorang pengusaha ya, kamu seenaknya menculikku hanya mau morotin uang suamiku. Turunkan aku di sini !" Emosi Nurmala bertambah. Perasaannya berkecamuk. Ia menatap supir yang bermuka brewokan berpostur atletis.
Herdi tertawa lagi.
"Memang mbak sudah punya suami?" Tanya Herdi masih tertawa karena senang Nurmala mengakuinya sebagai suami.
Nurmala terdiam. Tiba-tiba air matanya mengalir deras setelah menyadari bahwa dirinya belum menikah. Ia terlalu berharap kebahagiaan akan menyapanya. Herdi menghentikan tawanya. Ia khawatir melihat Nurmala menangis. Ia menghentikan mobilnya di sebuah restoran favorit Nurmala. Karena memang Herdi sering mengajak Nurmala ke tempat itu.
"Mbak kenapa menangis? Maaf kalau ucapanku tadi membuat mbak tersinggung."
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Nurmala menatap nanar orang yang masih duduk di depan kemudi. Herdi turun dari mobilnya kemudian membuka pintu belakang. Ia duduk di samping Nurmala yang membuat Nurmala terhenyak.
"Kau mau apa! Tolong jangan macam-macam denganku. Aku sedang hamil." Nurmala ketakutan. Ia menggeser tubuhnya ke samping.
"Ingat aku punya suami, aku sedang ha....." Nurmala tersentak laki-laki itu menubruknya sambil menangis. Nurmala tidak membalas. Dari aroma parfum yang dikanakan, wanginya sudah tak asing lagi.
"Tolong Nur sebentar saja, hanya sebentar. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama untuk tidak bertemu denganmu. Aku rindu Nur. Tolong sebentar saja. Aku rindu Nur aku juga rindu anakku, anak kita." Herdi masih mendekap.
Air mata Nurmala merembes. Ia tidak bisa berkata seolah lidahnya kelu, hatinya beku. Rindu? Jelas Nurmala sangat merindukan kasih sayang Herdi. Apalagi selama hamil belum merasakan kasih sayang itu.
"Ayah bisakah aku mengkhianati keputusanmu? hanya sebentar saja sebelum datangnya hari itu." Harap Nurmala dalam hati, ia memejamkan matanya merasakan kehangatan hati. Rindu yang membuncah dalam hati mereka kini bisa teratasi. Karena penawar rindu adalah dengan bertemu.
__ADS_1