
Dua insan keluar dari sebuah bioskop dengan perasaan bahagia. Hal itu tergambar dari mimik muka mereka yang sumringah setelah menonton film horor. Bukan isi film yang membuat mereka tertawa. Tetapi setelah menonton film tersebut ada kejadian dari penonton yang tiba-tiba teriak ketika melihat sesuatu dikegelapan dalam ruangan tersebut.
"Gigi terbang.....gigi terbang...aaaakh." wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan setelah lampu dinyalakan.
"Hey kenapa? Gigi gigi siapa yang terbang?" Ujar laki-laki yang kemungkinan adalah pasangannya.
"Itu....Ya Allah serem banget. Giginya ada yang emas ada yang putih terus bisa terbang gitu serem....!" Ujar wanita itu sedikit berteriak ketakutan, tangan kirinya masih menutup wajah sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah samping. Hal itu mengusik kekepoan pengunjung lain.
"Mbak....mbak....maaf tadi mengagetkan mbak saat saya buka hape." wanita berjilbab putih memegang bahunya. Ia tadi sempat membuka hape saat lampu bioskop dimatikan. Giginya yang maju ke depan mampu membuat wanita itu shock. Siapa yang ga kaget coba? Saat wanita itu membalikkan badan saat itu juga di bawah cahaya hape terlihat deretan gigi 2 warna yakni putih dan emas.
Pasangan AW tidak tertarik untuk mengetahui kelanjutan kejadian barusan di dalam bioskop. Mereka memilih keluar berjalan beriringan sambil menautkan jari-jarinya. Mereka tersenyum bahagia bisa mengisi malam minggu dengan jalan berdua saja. Setidaknya mereka pun ingin bersenang-senang tanpa dibebani pekerjaan yang selalu membuat mereka terasa dikejar waktu. Dari bioskop lanjut ke mall untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah kosong di kulkas.
-
-
"Maaf tidak bisa. Masnya harus bayar administrasi dulu baru pasien bisa kami tangani." Ujar seorang suster pada laki-laki muda yang baru saja datang dengan pakaian setengah basah.
"Begitukah aturan di sini sus? Tidak adakah kebijakan lainnya, sehingga ibu itu bisa secepatnya ditangani dan bisa melahirkan di sini?" Tanya laki-laki itu penuh harap.
"Maaf Mas tidak bisa. Kalau mas tidak mau memenuhi peraturan di sini, silakan cari klinik lain atau rumah sakit mungkin." Suster itu sibuk melayani orang lain. Jelas terlihat di wajah laki-laki itu sangat kecewa dengan peraturan yang dibuat klinik tersebut. Padahal yang ia tahu klinik tersebut satu-satunya klinik yang dapat menolong orang miskin untuk bisa berobat bahkan ada pengobatan gratis setiap hari jumat. Tapi ternyata itu semua hanya bualan saja. Mungkin hanya ingin tersohor. Pikir laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala.
-
-
Laki-laki itu menatap wanita yang ia kagumi di sekolahnya dulu. Ia menyadari saat masih sekolah ia sering merepotkan wali kelasnya yang sekarang sedang terkulai lemas tak berdaya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat kekayaan menjadi prioritas kesehatan, bagaimana dengan orang miskin? Mereka berhak sehat juga, kan? Apa tidak bisa mencicipi obat gratis sedikit saja agar orang miskin bisa sembuh dari sakitnya? Miris sangat miris. Matanya mengembun orang-orang miskin merasa terinjak tak mampu berbuat maupun membalas.
Dengan tekad yang bulat karena kondisi dan situasi yang membuatnya harus bertindak, laki-laki itu kembali ke dalam.
__ADS_1
"Buat apa aku pernah jadi anak nakal kalau aku tidak bisa melawan kezholiman di klinik ini? Aku harus bertemu dengan orang nomor satu di klinik ini, harus!" Laki-laki itu masuk dengan meninggalkan gurunya yang masih pingsan di serambi klinik. Emosinya membuncah.
"Suster aku ingin bertemu dengan pemilik klinik ini!" Pinta laki-laki itu penuh harap dengan suara yang cukup keras.
"Hey mas masih di sini? Saya sudah bilang mas kalau mau ibu itu melahirkan di sini bayar dulu minimal setengahnya!" Laki-laki itu menyorot tajam suster yang cukup berani padanya. Kalau saja dia seorang peri ia ingin mengutuk suster itu menjadi sebuah bola sepak sehingga bisa ia tendang dari klinik ini.
"### Hey kamu mau apa?" Laki-laki itu terus berjalan dengan langkah tegap menuju lantai 2. Ia tidak peduli suster itu berteriak memanggilnya "Mas".
-
Alhan memarkirkan mobilnya di area parkir pelataran klinik. Ia dan Wafa sengaja datang ke klinik untuk mengecek laporan hari ini secara langsung karena seharian ia tinggalkan keluar. Wafa berjalan beriringan dengan membawa kantong kresek yang berisi cemilan. Beberapa terakhir ini ia lebih sering lapar dan cemilan adalah penangkal lapar paling mujarab.
Netra Wafa tanpa sengaja melihat sosok seorang ibu yang terbaring di serambi klinik dalam keadaan hamil.
"Mas duluan saja ke atas. Saya mau ke sana dulu."
"Oh ya...mas duluan ya, ga pake lama oke!" Wafa mengangguk. Ia lantas menghampiri ibu-ibu yang sepertinya sedang terbaring lemah tak berdaya.
"Alhamdulillah." Ia berayukur Nurmala masih kuat. Dari denyut nadi yang bergerak normal. Ia lantas menelpon seseorang.
"Tolong bawa brankar ke depan sekarang, cepat ya!"
Kemudian ia menelepon dokter Rasya.
"Dok ada di mana?"
"Aku lagi di jalan bentar lagi nyampe. Ada apa?"
"Ada pasien yang membutuhkan penangananmu, dok. Saya tunggu secepatnya!"
__ADS_1
Wafa segera mengambil tindakan medis. Agar pasien secepatnya siuman.
"Langsung bawa ke ruang bersalin!" Titah Wafa pada dua orang perawat yang membawa brankar.
"Suster tolong pantau terus perkembangannya. Saya ke atas dulu." Titah Wafa setelah memasang infusan pada Nurmala.
"Baik bu."
-
-
-
Laki-laki itu mengetuk pintu ruangan dengan cukup keras.
"Saya sudah bilang orangnya ga ada di ruangan." Ujar suster yang bernama Merry dengan kesal.
"Ada apa ini?" Alhan terkejut ada dua orang di depan pintu ruangannya yang sedang adu mulut.
"Pak Alhan?"
"Kasdun? Kamu sedang apa di situ?"
"Alhamdulillah bapak masih ingat saya." Kasdun meraih tangan Alhan kemudian menciumnya. Ya siapa yang tidak ingat pada laki-laki di depannya. Bukankah bagi seorang guru ia akan mengingat nama siswanya apabila siswa itu pintar, cerdas dan nakal. Jadi kata terakhirlah yang membuat Alhan masih ingat nama Kasdun. Anak pembuat onar, sering bolos, nilai pas-pasan tapi anehnya hanya bu Nurmala yang percaya dan menyayangi Kasdun dengan alasan Kasdun sebenarnya ingin diperhatikan karena ia korban keluarga broken home.
"Pak saya mau bertemu dengan pemilik Klinik ini. Saya membawa bu Nurmala ke sini, beliau mau melahirkan pak. Saya tidak ada uang sepeserpun untuk membayar administrasi klinik yang katanya harus bayar sebelum penanganan pasien. Saya sadar pak saya anak paling nakal di sekolah tapi saya juga ingin menjadi orang baik apalagi pada bu Nurmala yang pernah baik pada saya. Kasihan Bu Nurmala ia masih pingsan di luar." Ujar Kasdun....
Deg
__ADS_1
Deg
"Nurmala...." Gumam Alhan dalam hati.