
Wafa mengemas pakaian muslim yang hendak disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
Ia menghentikan aktivitasnya manakala mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.
"Assalamualaukum bu bidan!"
"Walaikumussalam kebetulan kau datang Mil...bisa bantu saya mengemas baju-baju ini?"
"Mau pindahan Fa?" Agar lebih santai Mila mengubah panggilannya pada bidan wafa.
"Engga ini saya mau kasih ke orang." Jawabnya enteng
"Sebanyak ini?" Mila tidak percaya melihat ada 2 plastik kresek merah yang berisi pakaian muslim termasuk kerudungnya.
"Eemm. Ga tau kenapa bawaannya pengen sedekah mulu. Bawaan bayi kali ya?"
"Kamu hamil?"
Wafa mengangguk sambil tersenyum.
"Pak Alhan sudah tahu?"
"Belum. Beliau masih di Yogya. Baru kemarin cek kehamilan."
"Duuuh selamat ya Fa. Aku ikut senang lo..."
"Makasih ateu Mila." Ujar Wafa menirukan suara anak kecil. Mila tertawa melihat tingkah Wafa yang mendadak seperti anak-anak.
"Harus ya jawabnya pake suara anak-anak?"
"Iya dong. Ini penerapan pendidikan anak usia dini yang dilakukan sejak anak masih ada dalam kandungan."
"Sepenting itukah?"
__ADS_1
"Kalau menurutku sangat penting. Pembentukan karakter bisa di awali sejak dini. Baik buruknya anak yang nanti akan dilahirkan bergantung pada bibitnya. Maka diperlukan sebuah ilmu untuk menjadi seorang ibu yang berkarakter yang akan menyiapkan masa depan anak-anaknya." Ujar Wafa panjang lebar.
"Wedeh mantap nih. Kamu benar-benar siap menjadi seorang ibu."
"Harus siap. Tujuan perempuan menikah salah satunya ingin menjadi seorang ibu. Bukan pemuas hasrat suami. Ingat seseorang menikah harus punya tujuan yang jelas bukan buat nafsu karena kalau nafsu itu sudah tidak terpenuhi maka kegagalan dalam pernikahan akan terus terjadi karena banyak pasangan yang sebenarnya belum siap dengan ujian dalam pernikahan. Satu yang harus dipegang dalam sebuah pernikahan adalah kepercayaan pada pasangan. Insyaa Allah kalau kepercayaan tersebut terpatri dalam hati kedua pasangan maka mereka dengan mudah melewati segala macam bentuk ujian. Semoga ini membantumu untuk mencari laki-laki yang baik bukan yang sempurna karena tidak ada laki-laki yang sempurna di dunia ini. Kalau ada rasa cemburu itu wajar. Karena pasangan tidak ingin miliknya diambil orang dan itu merupakan bumbu dalam pernikahan tidak semuanya berasa manis yaaa seperti nano-nano ada asin, pahit, manis, asem lengkap itulah ujian rumah tangga makanya harus tahan banting biar engga terlempar akhirnya menyesal." Ujar Wafa tersenyum sambil mengemas pakaian yang lumayan banyak.
"Pakaian sebanyak ini beneran tidak terpakai?"
"Iya. Saya ingin memangkas isi lemari biar tidak mubadzir."
"Tapi Fa apa tidak sebaiknya dibikin bazar murah gitu. Kita kumpulkan pakaian bekas kita dan karyawan klinik yang masih layak pakai. Kemudian kita jual dengan harga yang sangat murah, jadi yang beli anggaplah shodakoh dan uangnya kita sumbangkan pada orang yang tidak mampu jadi tidak cuma-cuma memberikan pada orang lain, gimana bagus kan ideku?" Saran Mila dengan bangga. Wafa bergeming selanjutnya kepalanya mengangguk.
"Bagus nanti kita buat program itu. Tapi untuk yang ini khusus untuk seseorang yang mau berubah penampilan. Kasihan kan ingin berhijab tapi pakaian tidak mendukung."
"Memang ada yang seperti itu?"
"Pasti ada. Lebih bermanfaat, bukan?"
Kasdun menghentikan angkotnya tepat di depan gang yang tidak asing baginya. Ia menoleh dan benar ternyata yang turun orang spesial di hatinya.
"Notik tunggu!" Kasdun membuka pintu kemudi.
"Bentar ya , Neng!" Dia turun mengejar Tiara yang hendak masuk gang.
"Notik....." Kasdun tersenyum ketika Tiara menghentikan langkahnya sementara tantenya sudah agak jauh berjalan.
"Kamu kenapa mengikutiku. Ongkos kami kurang? Oh iya ini aku tambah..." Tiara membuka tasnya untuk mengambil dompet.
"Engga perlu tantemu sudah membayar dengan benar."
"Oooh kalau begitu tunggu apa lagi? Sebaiknya kamu pergi sebelum orang lain lihat kita!"
"Tolong Notik beri aku kesempatan untuk bicara."
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa lagi? Kamu belum puas dengan jawabanku kemarin? Aku sudah ada yang punya, dia lebih pantas bersanding denganku. Dan kau perbaiki saja kehidupanmu. Oh ya bukankah kamu sudah ada yang mendekatimu dan berharap jadi calon istrimu? Lebih baik kamu sama dia. Kayaknya dia lebih mencintaimu. Bangga sekali dia, padahal apa sih yang dapat dibanggakan darimu? Hanya seorang sopir angkot yang belum pasti masa depannya."
"Cukup ya kamu menghina bang Kasdun. Kamu tahu hanya orang bodoh yang mau sama kamu. Penampilan saja sok alim tapi hatinya seperti macan tutul. Kalau kamu menghina bang Kasdun lagi, kamu akan berhadapan denganku, ingat itu! Ayo bang ngapain berdiri terus di situ, jangan mau diinjak-injak sama cewek yang sok cantik itu!" Neneng menarik tangan Kasdun dengan kesal.
Tiara menatap kepergian wanita yang sejak tadi membuatnya geram.
Neneng membukakan pintu kemudi buat Kasdun yang hanya bergeming.
"Masuk bang!" Titah Neneng yang melihat Kasdun hanya diam saja lebih tepatnya masih kaget dengan keberanian Neneng melawan Tiara. Neneng berlari kecil menuju pintu angkot bagian depan. Ia duduk manis sambil matanya menatap ke depan.
"Maafkan sikap Neneng yang tadi ya bang! Neneng sadar Neneng memang bukan siapa-siapanya abang tapi Neneng lebih menghargai pekerjaan abang. Maafkan Neneng juga ya bang kalau Neneng terlalu berharap lebih sama abang padahal Neneng hanya seorang penumpang yang belum lama kenal. Anggap perkataan Neneng tidak pernah ada." Neneng merasa bersalah. Kasdun menoleh menatap Neneng yang menunduk. Ada ketulusan dari seorang wanita yang baru tiga hari jadi penumpangnya.
"Neng aku merasa tertampar dengan ucapanmu tadi. Aku memang bodoh ya Neng selalu mengharapkan dan memperjuangkan cintanya padahal sudah ditolak. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Cinta yang membuat aku buta...." Kasdun tertawa miris.
"Dan karena cinta juga seseorang tidak bisa melihat orang lain yang mencintainya dengan tulus." Gumam Neneng lirih.
"Kamu ngomong apa, Neng?"
"Ah tidak...lupakan saja. Oh iya katanya kita mau ke klinik, jadi kan?"
"Oh iya aku hampir lupa." Kasdun langsung tancap gas. Selama perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Kasdun memarkirkan angkotnya tepat di depan klinik.
"Ayo masuk!" Ajak Kasdun sambil membuka pintu kemudi. Neneng menggeleng.
"Kanapa?" Tanya Kasdun lembut.
"Neneng malu masuk sana dengan berpakaian kurang bahan begini. Abang masuk sendiri aja ya!" Entah mengapa perasaan malu menjalar saat ia menyadari pakaiannya begitu minim. Kasdun membuka jaketnya.
"Pakailah! Ini cukup membantu menutupi sebagian auratmu yang terbuka." Kasdun menyerahkan jaketnya pada Neneng. Ia pun merasa tidak ingin Neneng malu dengan pakaian yang terlihat mengekspos belahan dadanya. Kasdun tersenyum begitu melihat Nenemg sudah memakai jaketnya.
"Kamu tunggu sini ya, aku masuk ke dalam!"
__ADS_1