CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 86 Herdi Diusir


__ADS_3

Mama Meilan duduk dengan tenang, setelah minum air putih emosinya mulai terkontrol. Mata mama Meilan berkaca-kaca tidak pernah menyangka anak satu-satunya bisa bersikap tidak sopan dengan melakukan pernikahan secara diam-diam tanpa restu darinya.


"Bagi mama dan papa dengan siapapun kamu menikah tidak masalah. Yang penting satu keyakinan. Kamu memilih perempuan ini sudah jelas salah. Karena kamu sudah menjual keyakinanmu demi cinta. Apa hebatnya perempuan miskin ini hah! Sampai kamu bertekuk lutut padanya. Sekarang juga kamu kemas barang-barangmu jangan ada yang tersisa sedikitpun. Papa tidak sudi punya anak yang tidak menganggap papa dan mama sebagai orang tua sampai menikahpun harus sembunyi-sembunyi." Papa Lukas sangat murka.


"Pa kami lakukan itu karena terpaksa."


"Terpaksa kamu bilang? Apa yang telah kamu lakukan sehingga kamu bilang itu pernikahan terpaksa?"


"Pa Nurmala hamil saat mama bilang tidak merestui hubungan kami setahun yang lalu." Jawab Herdi jujur yang membuat hati Nurmala sakit jika mengingat masa lalunya yang kelam diungkit


"Apa kamu bilang? Jadi anak itu hasil dari hubungan terlarang?" Tangan papa Lukas mendarat di pipinya Hardi. Herdi mengusap pipinya yang terasa panas.


"Itu kami lakukan demi mendapat restu dari papa dan mama."


Papa tersenyum miris. Memiliki anak yang berpikiran dangkal yang sudah ia sekolahkan di LN.


"Kamu papa sekolahkan agar otakmu itu bisa berpikir dengan jernih. Dan tahu mana yang baik dan yang buruk! Papa sungguh kecewa sama kamu. Sekarang kamu tetap di rumah ini memilih orang tuamu atau memilih perempuan yang tidak tahu malu itu?" Papa Lukas enggan menatap keduanya.


"Maafkan Herdi pa, Herdi tidak bisa memilih diantara kalian. Kalian sangat berarti dalam hidup Herdi"


"Kalau begitu tinggalkan perempuan dan anakmu maka kau tidak akan hidup kekurangan."


"Tidak. Pa kumohon jangan memberikan pilihan yang sulit buat Herdi."


"Sekali lagi kemasi barang-barangmu jangan pernah terlewat sedikitpun! Papa sudah tahu jawaban kamu." Papa Lukas beranjak dari tempat itu. Herdi mengejar sambil memohon.

__ADS_1


"Pa kumohon sekarang sudah ada anak Herdi cucu papa. Dia anak laki-laki keturunan papa dan mama, dia penerus keluarga ini." Ujar Herdi penuh permohonan.


"Tolong pa....ma....restui pernikahan kami."


"Tidak! Pergi dari sini berikan kunci mobilnya, mulai hari ini kamu papa pecat. Besok kamu tidak usah ke kantor. Keluar!"


"Pa....mama tolong ma Herdi sayang mama jangan usir kami seperti ini." Mama Meilan melengos. Sakit rasanya.


"KELUAR....!" Suara papa Lukas mampu membangunkan panji yang tengah tidur nyeyak. Panji menangis kencang. Papa Lukas maupun mama Meilan terenyuh mendengarnya. Ingin memeluk dan menggendong cucunya itu namun mereka tahan.


Tanpa restu dari orang tua, kunci mobil pun sudah ia serahkan. Herdi menggiring istrinya untuk keluar dari rumah tersebut yang begitu banyak kenangan. Namun Herdi maupun Nurmala harus kuat. Hidup adalah pilihan. Semua yang sudah dilakukan pasti ada resikonya. Tidak ada yang perlu disalahkan atau disesali semuanya sudah terjadi. Herdi yang ternyata tidak memiliki apa-apa selain rumah hasil kerja kerasnya selama bekerja di perusahaan papanya, Nurmala harus bisa menerima nya sekarang tanpa ada bantahan. Bukankah rizki Allah itu luas maka jangan pernah takut menjadi miskin karena Allah sudah menjamin kehidupan manusia di dunia ini. Nurmala memantapkan hati. Ia bersyukur masih dicintai Herdi walaupun tidak memiliki kekuasaan lagi di perusahaannya.


"Maafkan papa Herdi semua papa lakukan untuk kamu. Agar kamu bisa mandiri tanpa kekayaan dari orang tuamu. Dan kamu bisa mendidik istrimu. Papa ingin tahu apakah istrimu benar-benar mencintaimu atau mencintai hartamu." Gumam papa Herdi menatap nanar anak dan menantunya yang sedang menggendong cucunya.


xxxxxxxxxxx


Keira tersenyum tanpa menghentikan aktivitasnya membuat adonan cilok.


"Eeeh mama sayang sudah datang. Ini mam banyak pesanan cilok. Teman - teman kampus pada request cilok bautanku jadi aku bilkn deh."


"Tunggu....tunggu....kamu jualan cilok di kampus?"


"Iya mamaku sayang....begitu Kei bawa beberapa cup kemarin, langsung ludes. Dan sekarang banyak pesanan 25 cup." Terang Keira mulai membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil


Mama mengerutkan dahi yang lebih mengagetkan lagi keira memakai hijab di dalam rumahnya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu memakai hijab?" Mama heran karena selama ini saat mamanya memberi nasehat pun Keira selalu menolak dengan alasan belum siap.


"Kemarin mam he...he..."


"Iya tapi kan ini di dalam rumah sayang jadi kamu ga mesti pake hijab kalau di dalam rumah."


"Iya mama sanyang kalau di rumah ini cuma kita yang ada di dalam. Lah kalau ada kakak Blu, dia kan bukan muhrim?"


"Blu di sini? Ngapain?"


"Nginep mam. Kemarin anterin Keira pulang. Ga taunya kemalaman. Jadi dia bermalam di sini. Mama pasti capek mendingan istirahat dulu sebentarblagi subuh.


"Mama bantuin ya?"


"Ga usah mama. Nanti mama nyicipin cilok buatan Keira pasti ketagihan. Kak Blu aja mau bawa 10 cup buat dibawa ke kantornya."


Mama menghela nafasnya dalam. Ga seharusnya anaknya bersusah payah berjualan cilok dengan membuatnya sendirian tanpa bantuan orang lain. Setiap dini hari Keira selalu bangun untuk membuat pesanan cilok yang semakin hari semakin banyak peminatnya. Berkah....berkaaah. Babang Kasdun Neneng tambah bersemangat melebarkan sayapnya menjadi pengusaha cilok.


Buat pasangan suami istri yang berprofesi sebagai anggota dewan bisa jadi merasa malu anaknya berjualan di kampus, bagaimana kalau banyak orang yang mengetahui kalau seorang mahasiswa yang berjualan cilok itu adalah anaknya. Namun bagi kedua orang tua Keira hal tersebut bukanlah masalah. Justru orang tuanya bangga memiliki anak yang mandiri tanpa berleha-leha dengan harta yang dimiliki orang tuanya yang melimpah.


Setelah Keira merampungkan kuliahnya dan menjual habis pesanan ciloknya ia menuju ke suatu tempat. Lebih tepatnya di daerah dekat dengan terminal kota. Di sana sudah menunggu anak-anak jalanan yang berusia dini, yang siap menerima ilmu dari Keira.


"Hayooo siapa yang mau cilok buatan teh Neneng sini belajar dulu sama teteh ya!"


"Horeee aku mau...aku mau....asikk belajar baca lagi sama teh Neneng."

__ADS_1


Semua anak-anak baik yang belum sekolah maupun yang putus sekolah semuanya kumpul di sebuah gubuk kecil.


Neneng tidak sendirian, ia ditemani oleh tiga orang teman kampusnya karena semakin hari semakin banyak anak-anak jalanan yang berminat untuk belajar bersama.


__ADS_2