
Resa meraih gelas yang diberikan suaminya. Dia pun tak kalah kaget ketika suaminya reflek bilang sayang di hadapan Mama dan Mela yang memang belum mengetahui status mereka. Namun hatinya terasa lega ternyata suaminya bisa bersikap romantis juga di hadapan orang lain.
Rasya melihat beberapa mata sedang menatap horor meminta penjelasannya. Apalagi terlihat papanya yang baru saja datang dari luar kota. Yang sempat mendengar istrinya bersuara tinggi.
Rasya menghampiri papanya dan mencium tangannya. Untung saja makan siang sudah selesai. Rasya pun memperkenalkan orang-orang yang ia bawa ke rumah.
"Pa ini teman Rasya namanya Alhan, dia pemilik klinik tempat aku bekerja selain di rumah sakit. Dan ini istrinya, dia pun bekerja di klinik yang sama." Mereka pun berjabat tangan.
"Dan ini Resa sepupu istrinya Alhan. Pa Rasya mau bicara sama mama dan papa tapi tidak di sini." Mohon Rasya meminta untuk pindah ke ruang keluarga.
Di sofa sudah duduk dengan manis beberapa orang yang siap mendengarkan kejujuran Rasya.
Rasya tidak mau jauh dari istrinya seolah siap untuk melindunginya. Sementara Alhan dan wafa diminta untuk menjadi saksi pernikahan mereka apabila saatnya diminta untuk berbicara mereka berdua harus siap memberi jawaban yang akurat terkait pernikahan dadakan Rasya dan Resa.
Hanya Mela yang tidak diperkenankan untuk bergabung. Hal ini membuat Mela penasaran tentang hubungan Rasya dan Resa yang ia yakini tidak hanya sebagai teman biasa. Mela berdiri di balik tembok penghubung ruang keluarga. Dia hanya ingin tahu kebenarannya.
Merasa ada yang tidak beres terhadap hubungan Rasya dan Resa, mama Azka terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Pun saat mereka menautkan jari tangan mereka. Mama Azka merasa risih. Apalagi tidak ada penolakan dari Resa.
"Rasya pindah duduk sini!" Titah mama tegas.
Rasya melepaskan tautannya setelah mendapat anggukan Resa sebagai tanda ia tidak keberatan. Kini Rasya duduk berhadapan dengan Resa, disamping kiri mama Azka.
Papa duduk sendiri, siap mendengarkan sesuatu yang akan dibicarakan anak pertamanya. Ya Rasya anak pertama dari dua bersaudara. Adik perempuan Rasya memang jarang di rumah, sejak tercatat sebagai mahasiswa negeri ia lebih menghabiskan waktunya dengan mengikuti organisasi di kampusnya.
"Apa yang ingin kau sampaikan, nak?" Papa telihat lelah.
"Maafkan Rasya pa kalau mengganggu waktu papa yang seharusnya papa beristirahat tapi....." Rasya menjeda kalimatnya, ia menghela nafasnya dalam. Ia mendadak gugup. Ia memandang Alhan yang tidak jauh dari tempat duduknya, dengan bahasa tubuhnya ia mengatakan permohonan untuk membantunya dalam berbicara.
__ADS_1
"Maaf pa saya ambil alih pembicaraan Rasya. Saya lihat Rasya belum siap mengatakan sesuatu yang penting kepada mama dan papa."
"Sesuatu yang penting, apa itu nak Alhan?" Tanya papa Muzakki bingung.
"Sebelumnya kami mohon maaf pada mama dan papa selaku orang tua Rasya. Kami memutuskan sesuatu yang sifatnya urgent karena berkaitan dengan reputasi pribadi Rasya begitupun reputasi klinik."
"Maksudnya apa?Memangnya apa yang telah dilakukan oleh Rasya, Nak Alhan?" Papa Muzakki semakin bingung.
Alhan pun menceritakan peristiwa yang sudah terjadi di kliniknya kemarin sore.
"Saya dan istri melihat secara langsung Rasya sedang berpelukan dengan Resa di dalam lift...."
Plaaak
Pukulan satu kali mendarat di paha Rasya. Namun mampu membuat Rasya meringis.
"Lebih nyeri hati mama lihat kelakuan kamu. Kamu tahu gak sih kelakuan kamu tuh ga terpuji. Mama ga pernah ngajarin kamu melakukan pelecehan pada wanita." Mama sampai berdiri sambil memukul badan Rasya secara bertubi-tubi.
"Mama sudah dong, katanya mama sayang sama Rasya. Sudah atuh ma, ini sakit tahu" Rasya merajuk. Itulah Rasya kalau di hadapan mamanya dia terlihat manja karena memang mereka sangat dekat. Orang pertama yang ia cintai dan sayangi adalah ibunya.
"Sayang....sayang. Ga ada sayang-sayangan yang ada mama geuleuh (Jijik) sama kelakuan kamu. Pasti di dalam lift melakukan hal di luar batas, kan? Ayo ngaku!" Mama Azka menunjukkan rasa kekecewaan pada Rasya.
"Ya Allah ma. Rasya tidak melakukan apa yang mama bayangkan. Tolong ma dengarkan dulu penjelasan Alhan, dia belum selesai bicara."
"Penjelasan tadi bagi mama sudah cukup, Sya....."
"Ma tenang dulu....duduklah!' Papa memotong omongan mama, ia mencoba menengahi. Kalau tidak ditengahi mamanya akan lepas kendali.
__ADS_1
"Maaf mama ceritaku belum selesai" Ujar Alhan. Mama Azka menoleh ke sumber suara.
"Belum selesai? Kalau begitu lanjutkan! Awas saja kalau kamu macam-macam mama jewer kamu Sya!" Mama Azka terlihat sangat dongkol.
Selanjutnya Alhan menceritakan kelanjutan peristiwa kemarin yang berakhir Rasya ke pelaminan.
"Apa, sudah menikah?!" Hampir bersamaan. Jelas mereka sangat kaget luar biasa.
Braakkkk
Mama Azka menggebrak meja.Semua orang yang duduk di sofa dan orang yang sedang mengintip di balik tembok terlonjak kaget.
"Rasyaaaa kamu tuh ya! Mama menyekolahkan kamu salah satunya biar kamu bisa memperbaiki akhlak kamu. Tapi ternyata apa yang kamu lakukan sungguh di luar kendali. Apa salah mama sampai kamu melakukan yang hina seperti itu? Terus kamu anggap apa orang tuamu ini hah! Sampai menikah saja kami tidak diberitahu!" Mama Azka menangis, ia kecewa dengan anak sulungnya.
Mela keluar dari balik tembok ketika mama Azka menangis, ia tahu pasti mama membutuhkan sandaran. Dia langsung memeluk mama Azka dan memberikannya minum air putih, sehingga emosinya kembali stabil. Dilihatnya papa Muzakki lebih tegar dan lebih bijaksana menghadapi masalah ini.
"Ma....pa kumohon mama dan papa jangan emosi dulu. Yang diceritakan Alhan itu belum selesai.Informasi yang mama papa terima itu baru setengahnya, jadi tolong jangan salah paham dulu. Dan aku pun belum menceritakan mengapa aku sampai memeluk Resa. Aku mohon mama papa dengarkan ceritaku dari awal karena Alhan pun tidak mengetahui awal kejadiannya maka saat itu ia pun sangat marah, sama seperti yang mama lakukan apalagi wanita yang kupeluk adalah sepupu istri Alhan." Rasya menghela nafasnya pelan. Selanjutnya ia menceritakan awal kejadiannya.
-
-
Emosi mama Azka perlahan mereda. Ia menatap mantunya yang sedang bersimpuh di hadapannya. Tadi Rasya mengajak Resa untuk mendekati kedua orang tuanya bersama untuk memohon restu. Disaksikan tiga orang yang melihatnya terharu.
Gadis yang seusia dengan putri keduanya begitu cantik dengan balutan hijabnya memberi ketenangan dan kenyamanan pada hati seorang ibu yang sangat menginginkan menantu.
"Takdir sudah mempertemukan kalian dengan caraNya yang unik. Mama harus bilang apa? Kalau ternyata itu sudah menjadi ketentuan-Nya. Mama tidak kuasa untuk menolakmu sebagai menantu. Mama hanya bisa merestui kalian."
__ADS_1
"Terima kasih mama sudah mau menerima Resa menjadi menantu mama. Maafkan Resa kalau ternyata Resa bukan menantu ideal mama. Resa akan memperbaiki dan belajar menjadi seorang istri yang pantas buat ka Rasya. Mohon bimbingan mama anggap Resa sebagai anak mama tidak hanya sekedar menantu mama." Mama Azka memeluk menantunya dengan terharu sambil mengangguk pelan.