
Alhan berjongkok di depan wafa yang sedang duduk di sofa. Setelah Alhan memijat kakinya yang keseleo.
"Dengarkan aku De. Tolong lupakan kejadian tadi pagi, aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemburu. Kamu masa depanku. Dan dia pun punya masa depan. Dia hanya masa lalu. Aku akui aku salah sudah masuk ke kandang buaya akhirnya aku terjebak di sana. Walaupun sebenarnya tujuanku ke sana untuk bertemu dengan Kasdun, kamu tahukan aku ingin memberinya pekerjaan tapi ternyata endingnya seperti ini. Aku menyesal saat ke sana tidak mempertimbangkan baik buruknya dampak dari pertemuan itu. De dengarkan aku, aku hanya ingin kau buka hatimu untuk menerima maaf dariku. Aku tidak ingin kepergianku ke Jogja menyisakan kebencian dan kekesalan di hati istriku. Aku ingin kau mendoakan suamimu ini di manapun aku berada apalagi saat bertugas di luar kota." Alhan mencium telapak tangan Wafa dengan tulus. Lama sekali.
Wafa menghela nafas pelan. Ia paling tidak bisa melihat orang memohon padanya apalagi itu suaminya sendiri. Di mata suaminya terlihat sebuah penyesalan. Tidak mungkin Wafa membiarkan orang yang telah menyesali perbuatannya dengan kesungguhan tidak ia maafkan. Sebelum suaminya meminta maaf sebenarnya Ia sudah memaafkannya. Anggaplah semua itu bumbu-bumbu cinta dalam rumah tangga. Badai yang menerpa rumah tangganya sebisa mungkin bisa dilalui dengan sabar dan ikhlas, hanya kedewasaan dalam berpikir dari setiap pasangan untuk menyelamatkan rumah tangganya.
"Mas duduklah sini." Wafa menepuk sofa agar suaminya duduk di sampingnya. Ia meraih tangan suaminya. Ia mencium telapak tangan suaminya lalu memaksa tangan itu untuk mengusap pipinya yang sedang tersenyum manis.
"Mas..... dalam hidupku kamu adalah orang pertama yang sudah mencuri hatiku. Sejak pertemuan kita dahulu. Walaupun terus terang aku tidak sengaja membawa cincin itu. Tapi entah mengapa ketika kau memasukkan cincin itu di jari manisku, aku merasa kau pangeranku yang dikirm Allah untuk menjadi pendampingku kelak. Tapi teryata perasaanku sangat bertolak belakang, kamu sangat membenciku hanya gegara cincin itu sempat hilang. Aku sempat kecewa dengan perasaanku sendiri yang selalu berharap padamu. Hingga suatu hari Allah mempertemukan aku dengan bunda, teryata beliau ibu kandungmu. Aku senang? Tidak. Karena saat itu pun aku tengah kesal padamu. Hingga saat itu tiba ternyata kedua orang tuamu sangat menginginkan aku untuk menjadi bagian keluarganya aku terharu karena sosok orang tua yang aku rindukan selama ini hadir kembali. Ya aku melihat orang tuamu seperti orang tuaku yang selalu memanjakanku setiap waktu. Saat aku menemukan kebahagiaan bersama dengan orang yang aku cintai mereka sudah pergi dan aku tidak sempat mempersembahkan suamiku kepada orang tuaku...." Alhan langsung memeluk istrinya yang terlihat sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Sepulang dari Jogja kita takjiah ke makam orang tuamu ya! Maaf malam ini aku harus pergi. Kalau saja kepergianku tidak dengan rombongan, aku ingin kita bulan madu di sana...." Bisik Alhan kemudian mencium mahkota istrinya dengan sayang. Tak lama kemudian Wafa mengurai pelukannya.
"Lain kali saja mas kita ke sana. Jangan sampai keinginan kita menghambat pekerjaan. Kalau saja aku tidak terikat dengan pekerjaan aku ingin ikut ke sana. Ah aku bakalan kangen dong sama kamu, mas. Boleh aku meminta sesuatu darimu sebelum kamu pergi?"
"Tantu saja boleh. Kau ingin aku minta buka bajupun boleh." Goda Alhan tertawa.
×××××××
Nurmala tengah bersiap untuk kepulangannya sore ini. Namun tangannya terhenti ketika ia mengingat sesuatu.
"Mas Herdi kau mau bawa aku pulang kemana?" Dia khawatir kepulangannya ke rumah dengan membawa seorang bayi akan menjadi cemoohan tetangganya karena yang mereka tahu Nurmala dan Herdi belum menikah.
__ADS_1
"Ya ke rumahmu lah...." Ucapannya terhenti, ia menoleh ke arah Nurmala.
"Iya aku mengerti sekarang kita tidak mungkin pulang ke rumah orang tuamu dengan keadaanmu seperti ini. Oiya aku punya rumah di perumahan elite di Tengerang, aku akan membawamu ke sana."
"Terima kasih mas."
"Hey kalian itu milikku, kamu tidak usah berterima kasih padaku. Apalagi aku sudah punya Panji sekarang. Secepatnya kalian akan bertemu dengan kedua orang tuaku. Kita akan segera menikah agar kita bisa tinggal satu rumah." Jelas Herdi. Nurmala tersenyum ada kelegaan dalam hatinya.
"Terima kasih mas. Aku tunggu janjimu. Semoga orang tuamu merestui hubungan kita."
"Aamiiin, kita pulang ya!"
Nurmala mengangguk, ia menggendong Panji yang sedang tertidur pulas.
"Tiara....kakak mulai hari ini ga pulang ke rumah. Kalau keadaan sudah memungkinkan kakak pasti pulang ke sana. Tolong beritahu ibu dan ayah! Sekarang kamu boleh ikut kakak biar kamu tahu tempat tinggal kakak yang baru. Sekalian nginap aja ya!"
"Mendadak sekali ka, aku ga bawa baju ganti. Gini aja gimana nginapnya besok saja. Ayah dan ibu kan seminggu lagi pulang, aku juga kesepian kalau di rumah sendirian. Jadi sekarang aku pulang aja."
"Iya bu besok saja biar saya yang antar Tiara ke sana!" Kasdun menimpali dengan senyum penuh arti.
"Ih siapa lagi yang mau diantar kamu. Aku bisa ke sana sendiri."
__ADS_1
"Jangan. Tidak baik perempuan cantik pergi sendirian khawatir ada jurig."
"Iya jurignya kamu. Dasar laki-laki menyebalkan!" Tutur Tiara jutek.
"Tiara jangan begitu entar kamu kepincut sama Kasdun lo." Bisik Nurmala.
"Tidak akan kak. Pokoknya aku akan ke sana sendiri atau kalau engga aku akan datang sama pacarku."
"Pacar? Ah engga mungkin, cewek jutek kayak kamu ga mungkin ada cowok yang mau."
"Ya mungkinlah cantik begini. Banyak cowok yang ngantri di luar sana."
"Iya ngantri doang. Lagian buat apa pacaran segala, yang ada rugi lu. Aku sih ogah pacaran, nanti kalau aku kepincut sama cewek pujaan hati bakalan langsung aku lamar. Tapi nunggu aku terlihat mapan dulu..." Kasdun nyengir.
"Kasduuuun." Nurmala berusaha menengahi alumni vs adiknya. Ia hanya geleng-geleng kepala.
"Kalian ini seperti anjing dan kucing kerjaannya berantem melulu. Hati-hati loh banyak yang seperti kalian akhirnya berujung ke pelaminan."
"Itu hanya cerita di novel saja kak, halu tingkat dewa. Di dunia nyata engga akan seperti itu."
"Ah yang beneeeer kalau aku sih setuju pendapat bu Nurmala. Aku mau nonton live ah, siapa tahu pemain utamanya memang berjodoh sama aku." Kasdun tertawa, berhasil membuat pipi Tiara memerah memndam kekesalan.
__ADS_1
"Sudah...sudah. Kalian ini. Kakak pergi dulu ya, Tiara besok jangan lupa bawakan baju kakak juga ya. Kalau bisa diantar Kasdun saja. Nanti kamu repot kalau pergi sendirian kesana." Nurmala mengingatkan adiknya yang sedang cemberut karena kakaknya sendiri masih berusaha mendekatkan ia dengan Kasdun.
"Kasdun makasih ya sudah mau menolong ibu sampai hari ini." Nurmala melangkah keluar begitu mobil Herdi sudah berada di depan lobi.