
"Kamu terlihat tak terurus." ujar Nurmala setelah menguraikan pelukannya.
Herdi tersenyum senang mendapat perhatian dari kekasihnya.
"Aku tak peduli dengan penampilanku karena kau tak ada di sisiku. Kau tahu Nur aku sangat bahagia sekali kita bisa bertemu kembali. Makasih kamu sudah memberi kesempatan untukku bisa menyentuhmu. Dan aku ingin menyentuh anakku, boleh?" Nurmala mengangguk.
Tangan Herdi bergetar saat akan menyentuh perut Nurmala. Telinganya dicondongkan ke perut Nurmala. Ingin merasakan bagaimana anaknya menyambut ayahnya dengan tendangan lembut nan tenang.
Nurmala memejamkan matanya merasakan sensasi yang berbeda. Seolah ia pun turut merasakan seperti ibu-ibu hamil pada umumnya. Ia bahagia ternyata Herdi masih memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus.
"Sepertinya anak kita lapar. Kita makan dulu yuk!" Asumsi Herdi setelah mendengar suara kukuruyuk dari perut Nurmala.
Nurmala melihat ke arah jendela. Ternyata mobil Herdi terparkir di depan restoran favoritnya. Ia tersenyum lalu mengangguk. Seperti pasangan pada umumnya mereka bergandengan tangan. Seolah tak menggubris hukuman yang tengah mereka jalani.
Nurmala dan Herdi saling menatap keduanya tersenyum. Mereka menunggu pesanan makanan yang sudah direquest oleh Nurmala. Tidak menunggu waktu lama makanan pun tersaji di atas meja makan. Menu ikan bakar sambal hejo dan ayam bakar taliwang menjadi menu favoritnya.
Dua orang berhijab menghampiri pasangan yang tengah melepas kerinduan yang mendalam.
"Bu engga usah ke sana. Khawatir mengganggu mereka." Cegah Bu Ane memegang tangan kanan Bu Neni.
"Sudah tanggung Bu Ane. Kita ingin tahu bukan, kebenaran isu yang merebak di sekolah kita? Setidaknya sekolah kita bersih dari tindakan asusila." Tampik Bu Neni. Jiwa kekepoannya akut. Cctv hidup ini terus berjalan dikuti Bu Ane di belakangnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussa...lam" Nurmala gugup jelas sangat kaget melihat dua rekan kerjanya berada di sampingnya.
"Boleh ikut nimbrung kan ya? Karena ga ada tempat duduk lagi, rame begini. Boleh ya?" Bu Neni langsung mengawali aksinya. Dengan duduk di sebelah Nurmala sedangkan Bu Ane duduk di sebelah Herdi.
"Duh Bu Nur maaf tadi saya sudah cegah Bu Neni biar ga gabung di sini, padahal tadi mau dibatalkan karena tempat di sini selalu rame pengunjung dan sudah aku ajak pulang juga. Tapi Bu Neni sangat ingin makan di sini." Bu Ane tidak enak hati.
__ADS_1
"Iya Bu Ane tidak apa-apa. Kalian sudah pesan?"
"Sudah dong bu Nur. Tinggal nunggu makanya hanya kursi di tempat ini yang kosong."
"Bu Nur ga dikenalin nih?" Bu Neni melirik Herdi.
"Oh iya kenalkan dia...." Nurmala masih gugup mukanya sedikit pucat.
"Saya suaminya Nurmala." Potong Herdi cepat menyalami kedua teman Nurmala yang datang seperti jelengking. Nurmala bergeming. Tidak percaya dengan pernyataan Herdi yang berani.
"Oooh kalian sudah menikah? Kapan, di mana kok ga ngundang kami sih?"
"Kami menikah di Jakarta. Memang hanya famili saja yang diundang karena saat itu nenekku sakit yang mengharuskan kami menikah secepatnya. Nenekku sangat ingin melihat cucunya menikah sebelum kepergiannya menghadap Illahi. Jadi sebelum nenek meninggal kami menikah di rumah sakit tempat nenek dirawat." Jelas Herdi begitu meyakinkan keduanya.
"Oooh begitu, maaf pak kami tidak tahu perihal ini. Pantesan lihat Bu Nur sekarang chabi sepertinya Bu Nur sedang berisi. Selamat ya. Kalian mau punya momongan. Tapi sebaiknya kalian melangsungkan resepsi biar ga ada suudzon kalau kalian benar sudah menikah." Pesan Bu Ane, Sementara Bu Neni menatap tidak percaya.
Herdi tahu begitu berat ujian yang dialami calon istrinya. Dengan kondisi seperti itu ia mampu bertahan menghadapi omongan yang menusuk hati.
Herdi cepat tanggap ketika ada dua orang yang menanyakan perihal privacy mereka. Walaupun Herdi menceritakan hal yang tidak sebenarnya pada mereka,
namun Herdi yakin setelah pertemuan ini aib mereka tertutupi.
Huhft.....
Lega rasanya ketika dua orang temannya berpamitan untuk pergi. Nurmala menghela napas pelan. Ia menelan salivanya dengan susah. Ia lantas minum air putih untuk menetralkan hati. Tangan yang dingin terasa hangat ketika jemari Herdi bertaut dengan jemari miliknya.
"Tenangkan dirimu. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Maafkan aku jika berbohong pada mereka. Kalau tidak seperti itu, mulut mereka tidak akan diam. Mereka akan selalu mengekspos aib kita. Tapi aku yakin Tuhan akan menutupi aib kita dengan cara-Nya." Ujar Herdi menenangkan.
Herdi mengantarkan Nurmala pulang ke rumah. Mobil itu hanya berhenti 50 meter sebelum rumah Nurmala. Ia tidak ingin orang tua Nurmala mengetahui pertemuan mereka.
__ADS_1
Nurmala masuk ke dalam kamar dengan perasaan bahagia. Pertemuan 2 jam bersama Herdi menyisakan kenangan manis yang mendalam. Diusapnya perut yang sudah membesar dengan senyuman.
"Nak... kamu sudah bertemu ayah. Sebentar lagi kamu lahir dan kita akan hidup bersama. Selamanya dan tak akan ada lagi yang akan memisahkan kita." Ujar Nurmala bermonolog.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu kamarnya membuatnya berhenti bermonolog.
"Kakak mana ponselku. Gimana sih katanya sebentar perginya ga tahunya lama. Karena tidak sesuai janji kakak harus bayar denda."
"Ya Allah de sama kakak sendiri perhitungan amat. Nih ponselnya makasih adikku sayang. Ini dendanya. Jangan kapok kasih pinjam lagi ya!" Nurmala menyerahkan ponsel yang ia pinjam dari adiknya karena ponsel miliknya disita ayahnya sebagai upaya agar tidak ada kontak lagi dengan Herdi untuk sementara waktu. Tapi ternyata tanpa sepengetahuan ayahnya mereka bisa bertemu juga.
"Cup ah. Makasih kakak sayang. Sering-seringlah bayar denda. Makin penuh brankasku di kamar wk...wk...wk..." Tiara menerima uang 50 ribuan sebagai denda kelamaan memakai hapenya. Ia duduk di kasur mengecek chat yang masuk di grup WA dan grup NT. Matanya sesekali melirik kakaknya yang di rasa ada keanehan.
"Dih senyum-senyum ga jelas gitu. Kayak yang sedang jatuh cinta lagi. Ingat kak, mas Herdi sedang menunggu di luar sana." Tiara mengingatkan kakaknya agar tidak jatuh cinta pada orang lain.
"Ih apaan sih kamu. Sudah sana kakak mau istirahat."
"Sebentar lagi magrib ga boleh tidur kak. Pamali." Tiara masih berbicara walaupun Nurmala mendorong tubuhnya untuk keluar kamar.
-
Sudah seminggu Nurmala tidak ke sekolah ia mengajukan cuti melahirkan. Sudah terlanjur basah Herdi pernah menyampaikan bahwa dirinya sudah terdesak untuk menikah karena neneknya Herdi dalam keadaan kritis saat itu. Dan pada kenyataannya neneknya Herdi memang sudah meninggal karena sakit setahun yang lalu.
Beruntung bagi Nurmala di sekitar rumahnya masyarakat tidak begitu nyinyir melihat perubahan fisik yang dialaminya. Karena kebanyakan dari mereka adalah para pekerja kantoran dan buruh pabrik yang bersikap masa bodo pada lingkungan. Apalagi mereka tahu Nurmala sebagai pendidik yang pasti memberi teladan bagi semua orang.
__ADS_1