
Bruuk
Nurmala tak sadarkan diri tepat di depan pintu kamar mandi. Darahnya mengalir dengan deras.
"Nurmala....!" Alhan meletakkan bayi mungil itu ke dalam boks bayi. Dia langsung menghampiri Nurmala berniat untuk menolongnya. Baru saja berjongkok akan menggendongnya kerah baju bagian belakangnya ada yang menarik.
"Apa yang telah kamu lakukan pada istriku!" Herdi datang dengan memberikan bogem mentah pada wajah Alhan. Bersamaan dengan itu Wafa, Mila , Tiara dan Kasdun masuk ke dalam menyaksikan insiden tersebut.
"Cukup, ada apa ini?" Wafa mencoba melerai keduanya. Wafa melihat darah yang begitu banyak langsung memerintahkan Kasdun dan Mila untuk membopong Nurmala ke brankar. Wafa mengesampingkan masalah yang terjadi pada suaminya.
"Silakan kalian keluar dari kamar ini, keluar!"
"Fa tolong ini tidak seperti yang kau lihat. Aku dan Nurmala tidak melakukan apa pun....tolong percaya saya Fa." Mohon Alhan dengan mata mengembun. Wafa menatap tajam suaminya.
"Keluar mas. Keluar!" Dengan menahan amarah, Ia mencoba membangunkan Nurmala yang masih pingsan. Mila menyiapkan alat infus. Dengan kondisi seperti ini kepanikan menyelimuti orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Bu Nurmala dengar saya! Bu....." Wafa menepuk-nepuk pipi Nurmala terus menerus. Sampai Nurmala merespon.
"Emmmh...." Samar terdengar suara seseorang memanggil ditelinga Nurmala.
"Bu Nur ayo sadar lihatlah bayimu sedang menantimu. Bu Nur...." Wafa menepuk-nepuk pipi Nurmala sampai ada respon kembali dari Nurmala.
"Emmmmhh....."
"Buka matanya....ayo buka matanya bu!" Wafa dengan tenang menghadapi Nurmala yang masih belum sepenuhnya sadar. Sampai pada akhirnya Nurmala mengerjap-mengerjapkan matanya sambil mendesis.
"Alhamdulillah..." Wafa langsung memasang alat infus untuk memulihkan tenaganya. Baju yang basah karena darah harus segera diganti. Suster Mila segera membantu bidan Wafa untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
Kasdun dan Tiara tanpa dititah membersihkan darah yang tercecer di lantai.
Tiara tak kuasa menahan air mata. Ia tidak tega melihat kakaknya seperti itu. Setelah tahu kakaknya sadar, Tiara menghampiri Bidan Wafa.
"Bagaimana kondisi kakak saya bu bidan?"
"Alhamdulillah kakakmu baik-baik saja. Lain kali jangan diperbolehkan kemana-mana dulu sebelum pulih kesehatannya. Dan jaga kakaknya dengan baik jangan pergi kemana-mana!" Salma masih menahan amarah. Dia masih bingung mengapa justru suaminya yang berada di dalam ruangan tersebut. Sedang berdua ya berdua saja dengan Nurmala, ada apa sebenarnya dengan mereka?
"Maafkan saya bu bidan." Ujar Nurmala dengan suara lemah.
"Bu Nurmala kalau mau ke kamar mandi bilang dulu ke suster atau ke siapa pun yang ada di kamar ini, agar ada tindakan dari kami. Jangan bertindak gegabah mengingat tubuh bu Nurmala masih lemah karena kejadian semalam. Untung saja tadi Kasdun memberitahukan kalau Ibu ingin buang air kecil jadi kami sekalian bawa pispot alat buang air kecil. Untuk kesehatan bu Nurmala tolong kesampingkan egonya agar tidak lagi terjadi hal seperti ini. Akhirnya siapa yang rugi?"
"Iya sekali lagi saya minta maaf bu." Ujar Nurmala masih lemah. Matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan.
"Bu tolong jangan marah pada pak Alhan atas kejadian ini. Ini murni kesalahan saya. Tadi pak Alhan sudah mencegah saya untuk tidak ke kamar mandi tapi saya ngeyel. Karena saya tidak kuat dan merasa tidak nyaman." Jelas Nurmala pelan. Wafa hanya diam nama suaminya disebut.
"Baik bu bidan."
Wafa keluar dari ruangan dengan emosi yang membuncah. Ia melewati dua orang yang tadi bersitegang. Herdi segera menghampiri Wafa untuk mengetahui keadaan Nurmala dan anaknya.
"Bagaimana keadaan istri saya bu bidan?"
" Alhamdulillah sudah siuman. Dan tolong jaga istri Anda dengan baik. Jangan sampai hal serupa terulang lagi. Itu saja ada hal lain yang mau ditanyakan?"
"Tidak ada bu bidan terima kasih atas pertolongannya," Wafa tersenyum getir. Ia melirik suaminya yang berada di belakang Herdi sedang manatapnya nanar. Ia lantas berjalan diikuti Alhan yang selanjutnya berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan jalan beriringan.
"Kita harus bicara!" Alhan tidak mau insiden tadi menjadi kesalahpahaman yang tak berujung. Mereka masih berjalan menuju ruangan Wafa. Sepanjang jalan mereka berusaha tidak menampakkan perasaannya ke semua orang yang dilaluinya.
__ADS_1
"Oh tentu saja. Kita memang harus bicara. Tapi tidak di sini dan tidak sekarang!" Tepat di depan ruangan Wafa.
"Iya tapi kenapa?"
"Aku sibuk." Wafa membuka pintu ruangannya yang diikuti Alhan.
"Please sayang kita harus selesaikan sekarang agar masalah ini tidak berkepanjangan." Alhan memohon agar istrinya menyempatkan waktunya untuk membahas permasalahan mereka.
Dreet
Dreet
Dreet
Ponsel Alhan memekik , ia langsung menerima panggilan dari pihak kampus.
"Iya pak? Memang harus malam ini? Baik terima kasih informasinya." Mata Alhan terus melirik istrinya yang terlihat sedang menulis. Ia membaca chat yang berisi surat tugas yang mengharuskan dirinya untuk pergi ke Jogyakarta selama seminggu. Ia mendekati istrinya. Ia memutar kursi yang diduduki istrinya agar berhadapan dengannya. Ia meraih kedua tangan istrinya kemudian menciumnya bolak-balik.
"Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu cemburu ketika aku berada di ruangan Nurmala. Tapi ketahuilah sayang aku ke sana awalnya hanya mencari Kasdun. Ternyata dia memang ada di sana. Namun sesuatu terjadi ketika Nurmala hendak ke kamar mandi, itu pun sudah kucegah lantaran dia baru saja melahirkan. Tapi ternyata ia keras kepala, ia tidak mengindahkan omonganku akhirnya terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Kalau kau tidak percaya penjelasanku nanti Kasdun yang akan menjelaskannya karena dia saksi sebelum peristiwa itu terjadi."
"Sudah ngomongnya? Aku lanjut kerja." Wafa hendak memutar kursinya namun ditahan oleh Alhan.
"Sayang tolong maafkan aku. Kalau aku tahu masalah ini akan datang aku tidak akan datang ke ruangannya. Saat itu pintu ruangannya terbuka kebetulan orang yang kucari berada di dalam aku tidak tahu kalau itu ruangan perawatan Nurmala. Aku mohon mengertilah."
"Aku berusaha untuk selalu mengerti tentang dirimu, mas. Tapi apakah kamu mengerti perasaanku? Aku juga butuh dimengerti, mas. Tapi kamu tidak pernah mau tahu itu."
"Aku tahu kamu pasti cemburu ketika aku berada di sana, iya kan? Percayalah sayang perasaanku sudah tidak ada apa-apa lagi. Aku menganggapnya masa lalu. Masa depanku hanya kamu, sayang."
__ADS_1
"Ya masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Bagaimana aku percaya padamu mas sementara fotonya saja masih tersimpan di atas meja kerjamu yang tertata rapih di sebuah kamar rumah orang tuamu. Bagaimana aku bisa percaya padamu mas kalau ternyata di ponselmu masih tersimpan nomor my love. Dan bagaimana aku percaya padamu mas saat kamu ke anyer ternyata kamu berada di rumah sakit memapahnya masuk ke dalam mobil seperti layaknya suami istri. Kamu rela meninggalkankanku saat malam pertama. Ternyata di sana kamu bahagia karena sudah bertemu dengannya lagi. Kenapa kamu kaget aku tahu semuanya? Ternyata suamiku belum seratus persen bisa melupakan nama Nurmala. Karena kamu pun sudah menjamin itu." Alhan tertegun mendengar penuturan istrinya. Ia mengecek ponselnya ternyata memang benar, ia belum mengganti bahkan membuang nomor Nurmala. Mengenai foto Nurmala yang selalu nongkrong di meja kerjanya sungguh bukan disengaja.