
Semua orang yang hadir mengucap syukur. Resa memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Ini seperti mimpi ia bisa menikah dengan pangeran impiannya.
Ia tidak pernah menyangka sebelumnya. Yang awalnya datang ke klinik ingin bertemu Wafa untuk liburan tidak tahunya malah mendapatkan jodoh. Luar biasa jodoh yang tak disangka-sangka gegara sambal geprek.
Rasya dan Resa berdiri. Rasya kemudian meraih tangan Resa dan memasukkan cincin 24 karat dengan berat 2,5 gram sebagai mas kawin di jari manis sebelah kiri. Resa memejamkan mata ketika bibir Rasya mendarat di pucuk kepalanya sambil berdoa untuk kebaikan istrinya.
Rasya sendiri terpaku, ia pun merasa sedang bermimpi menikah dengan seorang gadis ceroboh yang selalu berbuat ulah jika bertemu. Selalu berantem jika bertemu dan sekarang harus hidup bersama selamanya. Bisakah? Entahlah sampai saat ini pun Rasya tak percaya kalau dirinya sudah berubah status menjadi seorang suami.
Alhan menepuk bahu Rasya yang sedang tercenung.
"Sudah tidak usah melamun. Resa sudah halal, terserah mau kau apakan dia yang jelas jangan pernah kau sakiti hatinya."
"Tenang saja kak Alhan, kak Rasya tidak berani menyakiti hatiku. Dia sangat menyayangiku hanya saja ia tidak berani mengungkapkannya." Resa tersenyum getir sambil
memandang suaminya dengan sendu, ia menggigit bibir bawahnya.
"Aku percaya pada kalian kalau sebenarnya kalian saling mencintai dan saling menyayangi, jadi akan lebih mudah untuk menjalani rumah tangga. Samawa ya!"
"Terima kasih" jawab mereka kompak. Resa tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Tepat pukul 23.30 orang tua Resa berpamitan untuk pulang. Mereka beriringan menuju parkiran.
"Nak Rasya mau langsung pulang ke Bandung atau menginap di sini dulu?" Ibu Resa tahu menantunya itu harus bekerja di klinik juga.
"Biar Resa dan dokter Rasya menginap di rumahku dulu, ya kan mas?" Wafa yang menjawab. Alhan mengangguk.
"Besok kan dokter Rasya masih ada jadwal di klinik. Lagi pula ini sudah malam." Lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu. Resa jaga dirimu baik-baik ya, nurut sama suami! Sekarang kamu bukan tanggung jawab ibu dan ayah lagi. Sekarang kamu tanggung jawab Rasya suamimu." Resa memeluk ibu dan ayahnya secara bergantian.
"Rasya, kami serahkan Resa padamu mulai malam ini. Tolong sayangi dan kasihi dia sebagai istrimu. Jadikan ia istri yang soleha, yang berbakti pada suami dan yang bisa mendidik anak-anak kalian kelak. Jika kamu tidak bisa mendidiknya lagi kembalikan ia pada ibu dan ayah secara baik-baik." Ayah menepuk bahu Rasya lalu memeluknya.
Sungguh terasa berat beban di punggung Rasya saat ini. Ia mendapatkan gadis yang tidak sesuai dengan kriterianya. Model seperti Wafalah yang ia harapkan. Namun ternyata jodohnya dengan adik sepupu Wafa yang tentunya berbeda karakter dengan orang yang dicintainya.
Tidak baik memang harus membanding-bandingkan istri sendiri dengan istri orang lain, tentu ini suatu kesalahan besar.
__ADS_1
Rasya dan Resa mengantar orang tuanya sampai ke parkiran. Resa tak kuasa untuk tidak menangis. Karena sejak malam ini Resa tidak bisa tinggal lagi bersama orang tuanya ia harus ikut kemana pun suaminya pergi.
"Kamu akan terus berdiri di sini?" Tanya Rasya dengan suara datarnya. Resa tersentak. Sikap suaminya berubah-ubah. Sikap manis yang Rasya berikan saat di lift tadi sore menyisakan kenangan yang indah di hati Resa.
"Masuk!" Titahnya seraya membukakan pintu penumpang bagian depan. Resa ragu untuk masuk dalam mobil. Resa hanya menatap suaminya.
Melihat Resa diam Rasya gemas sendiri.
"Ratu Resa yang cantik yang manis yang baik masuklah pada mobil, ini sudah malam, sayang." ujar Rasya geregetan.
"Ikhlas ga nih ngomong begitu?"
"Ikhlas Sayang." penuh penekanan tersenyum yang dipaksakan.
"Gitu dong. Dengarnya kan enak" Resa langsung menaiki mobil dengan tersenyum. Rasya mengitari mobil lalu duduk di bagian kemudi, di sampingnya Resa tengah duduk tanpa menggunakan sealbelt.
Melihat istrinya belum menggunakan sealbelt, tanpa mengucapkan sepatah katapun Rasya memasang sealbelt Resa.
"Eh mau ngapain?" Resa terhenyak tiba-tiba Rasya mendekat.
Selesai mengenakan sealbelt pada istrinya, Rasya mengemudikan mobilnya menuju kota.
"Loh mau kemana kita, bukannya rumah kak Wafa tidak jauh dari klinik ya?" Tanya Resa bingung ketika mobil Rasya sudah jauh dari Klinik.
"Hotel." Jawab Rasya singkat, padat dan jelas.
"Tunggu.....tunggu ke hotel, ngapain?" Asli dalam hal ini Resa tidak paham.
"Kak bukannya kita disuruh kak Wafa menginap di rumahnya? Kenapa malah ke hotel sih, biayanya kan mahal? Lebih baik uang kita ditabung buat masa depan kita. Buat beli rumah, beli keperluan sehari-hari dan untuk masa depan anak-anak kita. Kalau nginap di hotel namanya pemborosan kak." Rasya tergelak mendengar celotehan istrinya.
"Kenapa kakak malah tertawa?" Tanya Resa kikuk jelas tergambar kebingungan di wajahnya perasaan ucapannya tadi bukanlah lelucon atau cerita lucu. Rasya menghentikan tawanya.
"Kamu beneran pengen punya anak?"
"Ya iyalah Kak. Tujuan menikahkan salah satunya memperbanyak keturunan."
__ADS_1
"kamu pengen punya banyak anak?"
"Walaupun engga banyak tapi setidaknya ada." Rasya mengangguk-angguk.
"Kalau gitu nanti kita bikin anak." Ujar Rasya mantap.
"Yang benar saja kak. Yang bisa bikin anak itu hanya Allah. Bikinnya aja dari tanah liat. Waaah Allah itu hebat ya kak? Dari tanah manusia bisa hidup." Ujar Resa takjub. Rasya tergelak lagi. Istrinya selain ceroboh dia juga polos.
-
-
Tidak ada hal lain yang dilakukan keduanya semalaman. Rasa lelah, capek menghampiri keduanya. Mereka langsung tertidur tanpa ada drama.
Resa berteriak ketika mengetahui ada seorang laki-laki yang tengah tidur pulas di sampingnya. Dia kaget bukan main. Apalagi laki-laki itu ternyata Rasya orang yang sangat ia rindukan.
Rasya terbangun mendengar teriakan istrinya.
"Kamu kenapa Resa?"
"Apa yang kakak lakukan di sini? Kakak kenapa tidur bareng aku?" Resa bukan menjawab pertanyaan Rasya melainkan dia balik bertanya.
"Aku tidur bareng sama kamu karena kamu istriku."
"Istri? Kapan aku menikah sama kakak? Berarti kakak
sudah menyentuhku?" Resa langsung berdiri menyingkap selimutnya. Matanya mengedar ke kasur mencari sesuatu. Selimutnya pun ia lihat dengan teliti.
"Syukurlah aman." Resa sangat khawatir ada bercak darah di kasur atau selimut. Namun ia tidak menemukannya.
"Kenapa, apanya yang aman?" Tanya Rasya bingung dengan kelakuan istrinya yang mendadak amnesia .
"Aku khawatir saja kau menyentuhku kak. Bagaimana nasib aku kalau aku ha**il. Aku masih kuliah masa depanku masih panjang kak." Rasya geleng-geleng kepala melihat keadaan Resa yang semakin ngawur saja omongannya. Rasya menarik Resa. Mengambil handuk putih yang ada di atas meja.
"Mau dibawa kemana aku?" Rasya membuka pintu toilet.
__ADS_1
"Mandilah kemudian ambil air wudhu kita sholat subuh berjamaah. Siapa tahu amnesiamu hilang." Rasya langsung menutup pintu kemudian menghembuskan nafasnya dengan pelan.