Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Extra Part 14


__ADS_3

Besok pagi, Tari yang telah bangun lebih awal, merasakan kembali kram di perutnya. Tari lalu mengguncang tangan Riko. Dan membuat Riko terbangun.


" Ada apa,.Sayang."


" Bang, perut Tari kram lagi."


Riko yang masih setengah sadar pun langsung panik. Dan duduk di hadapan Tari.


" Kita ke rumah sakit aja ya?"


" Gak usah, masih bisa Tari tahan."


Riko pun segera membelai perut Tari.


" Sayang, kenapa? Princess papa kecapean ya? Jangan buat mama bingung ya, Nak. Kasian mama, Sayang."


Entah mengapa, setelah Riko berkata seperti itu, perut Tari kembali merasa nyaman. Dan Riko mendapat hadiah tendangan dari dalam. Membuat Riko mencium perut Tari.


" Anak Papa paling pinter. Sabar ya, Sayang. Dua bulan lagi, princess papa akan bertemu dengan mama dan juga papa. Jadi jangan buat mama khawatir ya, Sayang."


Tari pun membelai rambut Riko. Membuat Riko mendongakkan wajahnya melihat ke Tari.


" Lihat, Sayang. Dia dengerin apa yang Abang bilang. Masih kram gak?"


" Udah enggak."


Riko pun bangkit dari duduknya.


" Abang mau kemana?"


" Mau buatin kamu susu, dan roti. Kayaknya Princess Abang lapar."


Tari tergelak mendengar ucapan Riko. Pasalnya Riko mendengar suara perut Tari. Dan itu yang membuat Riko menuju dapur.


Riko datang dengan susu segelas dan juga roti yang telah di isi dengan selai coklat. Tari menikmati sarapan pagi butanya. Sedangkan Riko hanya duduk menemani Tari yang sedang memakan roti.


" Jangan lupa, nanti kita ke rumah sakit, setelah Abang pulang siang ya?"


Ucap Riko pada Tari saat Riko akan berangkat pagi itu. Tari mengangguk patuh, lalu mencium tangan Riko sebelum lelaki itu, duduk di dalam mobilnya.


Siang ini, sesuai janji nya. Riko menemani Tari yang sedang periksa kandungan. Anak mereka sehat dan begitu juga dengan Tari. Saat Riko bertanya tentang hubungan suami istri, Tari sempat mencubit paha Riko. Pasalnya Tari sangat malu, mendengar ucapan Riko yang terlalu vulgar baginya.

__ADS_1


" Aman-aman saja Pak. Asal di lakukan dengan hati-hati dan tidak kasar."


Ucapan dari dokter kandungan Tari pun membawa angin segar bagi Riko. Pasalnya lelaki itu sudah cukup lama berpuasa. Setibanya di rumah, Riko tak kembali ke kantor. Riko lebih memilih berduaan dengan Tari di dalam kamar. Ruko terus saja menempel pada Tari, hingga pada akhirnya Riko berhasil berbuka puasa untuk pertama kalinya setelah dirinya menikah. Riko menyeka anak rambut yang ada di kening Tari, dan menyelipkannya di bagian belakang telinga, Tari masih memejamkan matanya. Merasakan indahnya surga dunia yang baru saja Riko ciptakan. Saat Tari membuka mata, wajah Riko tepat berada di depan nya. Senyum yang mengembang dari wajah Riko membuat Tari kembali menutup wajahnya dengan tangan.


" Kenapa?"


Tanya Riko sambil membuka tangan Tari.


" Tari malu, Bang. Jangan di liatin terus."


Ruko tersenyum. Tari segera membelitkan selimut ke tubuhnya. Membuat Riko tersenyum simpul.


" Gak perlu malu, Sayang. Abang udah tau semua. Ayo, Abang bantu ke kamar mandi."


Tari meringis menahan rasa tak nyaman di inti tubuhnya. Bagaimana pun, Tari baru dua kali melakukan itu, dan berjarak lumayan lama. Riko dengan telaten membantu membersihkan tubuh Tari. Sebenarnya Riko ingin kembali mengulang kejadian yang baru saja berlalu, namun dirinya tak ingin Tari dan bayinya tersakiti.


Waktu bergerak dengan cepat, tak terasa kini usia kehamilan Tari sudah menginjak bulan ke sembilan. Riko sudah cuti dari kantor. Karena ingin menjadi suami siaga. Saat ini perusahaan kembali di handle oleh Pram. Membuat Pram harus pintar-pintar mengatur waktu. Dengan kondisi Pram yang masih sering mual dan muntah. Bahkan Reyhan sampai pusing di buatnya.


Tari bangun dari tidurnya saat merasakan perutnya sakit, namun masih bisa di tahan. Sejenak sakitnya hilang, lalu kembali datang. Saat melihat Tari keluar dari kamar sambil meringis, Delila langsung menghampiri menantunya itu.


" Sayang, kamu kenapa?"


Delila membulatkan matanya. Lalu mulai memanggil Riko. Riko yang mendengar suara Delila pun tergopoh-gopoh lari menuju Bundanya.


" Ada apa, Bun?"


" Riko, istri kamu udah mau melahirkan. Cepetan bawa ke rumah sakit."


Delila tampak mulai panik dan berjalan kesana kemari. Tapi tak tau apa yang harus di lakukan.


" Bun,..Tari gak apa-apa, lagian HPL masih seminggu lagi. Sakitnya juga kadang datang, kadang hilang."


Ucap Tari yang membuat Riko langsung menatap nya.


" Kenapa gak bilang Abang sih Sayang."


" Nanti aja, Bang. Lagian belum sering kan sakitnya."


Riko dan Delila akhirnya mengalah, menunggui Tari yang masih menikmati ayam goreng yang di mintanya dari asisten rumah tangga. Selesai memakan potongan ayam yang ketiga, Tari kembali merasakan sakit di perutnya, bahkan lebih kuat dari yang pagi tadi di rasakannya. Dan membuat Riko serta Delila panik seketika. Dengan cepat, Riko membawa Tari ke mobil. Supir yang memang di tugaskan untuk menghantarkan Delila pun dengan sigap membawa mereka ke rumah. sakit keluarga. Setibanya di ruangan bersalin dokter memeriksa jalan lahir dan sudah pembukaan lima. Membuat Delila membulatkan mata.


" Ya ampun, kan udah dari tadi Bunda bilang cepat ke rumah sakit, beruntung masih pembukaan lima, kalau udah pembukaan lengkap, cucu Bunda bisa lahir di mobil."

__ADS_1


Delila mulai mengomel. Riko masih terus menemani Tari melewati masa-masa pembukaan nya. Hingga kini semua keluarga sudah berkumpul. Ada Lena, Dania, Pram dan juga Rahmi, mereka semua sedang menunggu kelahiran cucu pertama di keluarga Delila.


Ruko dengan sabar menunggu tiap momennya. Hingga saat Tari mengejan dan suara tangis bayi terdengar nyaring, di situlah Riko langsung menitikkan air mata dan menciumi setiap jengkal wajah Tari.


" Selamat Sayang, kamu sudah menjadi seorang mama. Terima kasih, Sayang...Terima kasih.."


Ucap Riko di sela Isak tangisnya. Membuat dokter dan suster yang ada di ruangan itu tersenyum menyaksikan momen romantis pasca melahirkan. Tari hanya bisa mengangguk. Kondisinya sedikit lemah. Setelah bayi di bersihkan, Bayi itu pun di letakkan di atas dada Tari. Bayi mungil nan cantik itu mulai mencari sumber kehidupannya.


Kini setelah Tari di bersihkan, Tari sudah di pindahkan di ruangan khusus keluarga pemilik rumah sakit. Seluruh keluarga besar memberikan selamat. Saat Pram datang pun, semua orang sedang berkumpul. Pram datang dengan keadaan yang sangat lesu. Hingga membuat Reyhan menatapnya heran.


" Kenapa sih Lo?"


" Asam lambung gue gak sembuh-sembuh. Mual terus."


Reyhan mengerutkan keningnya. Melihat ke arah Dania yang tampak sangat menikmati buah segar di hadapannya.


" Pram, sebaiknya Lo pergi bawa Dania ke dokter kandungan deh. Mumpung Lo berdua masih disini."


Dania dan Pram saling pandang, namun segera berangkat, karena dukungan dari seluruh keluarga. Tiga puluh menit kemudian, Pram dan Dania datang dengan wajah yang berseri. Membuat semua orang memandang ke arah mereka.


" Perhatian semuanya, ternyata saya mual akibat ada mereka disini."


Ucap Pram sambil mengelus perut Dania. Semua orang tampak terperangah. Lalu semua datang memeluk Dania dan mengucapkan selamat. Sedangkan Tari yang tak bisa turun dari ranjang pun merentangkan tangannya.


" Selamat Dania..."


" Tunggu, tadi Lo bilang mereka? Maksud Lo?"


Tanya Riko dan menatap wajah Pram.


" Dania hamil anak kembar, gue seneng banget Ko."


Ucap Pram. Lalu Riko pun memeluk Pram. Kini mereka semua sedang menikmati kebahagiaan. Riko dan Tari yang baru saja di beri momongan seorang putri. Mereka menamainya dengan Nama


" QORI SANDRINA PUTRI"


Lena dan Reyhan sedang menanti anak pertama pun tak kalah berbahagia saat tahu anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


Pram dan Dania juga berbahagia karena saat ini mereka tengah di beri kepercayaan kembali. Bahkan kepercayaan itu double. Dania hamil anak kembar. Kebahagiaan di ruangan itu adalah kebahagiaan seluruh keluarga Hanudinata.


....... Tamat. .......

__ADS_1


__ADS_2