Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 64


__ADS_3

Pagi hari nya, Dania yang sudah terbangun dari tidurnya tak mendapati Pram di kamar. Namun suara gemericik di kamar mandi, menandakan ada orang di dalam sana. Dan sudah pasti itu adalah Pram. Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Pram keluar dengan handuk kecil di tangan dan menggosok rambutnya. Pram melihat ke arah Dania.


" Kamu sudah bangun?"


Dania hanya mengangguk. Tak lama, Pram masuk kembali ke kamar mandi, membawa handuk kecil yang baru, dan wadah untuk berisi air hangat. Pram akan membersihkan tubuh Dania.


" Mas bersihkan dulu ya, biar kamu segar."


Namun Dania menolak.


" Aku sendiri aja."


Bukan Pram namanya kalau tidak keras kepala. Pram akhirnya membersihkan tubuh Dania dengan menggunakan handuk kecil yang di basahi dengan air hangat.


" Kamu sarapan dulu ya? Mas udah beli kan bubur ayam di Deket taman kota."


Dania menatap ke arah lain. Tak ingin memandang Pram. Dania sedang tak ingin terlibat pembicaraan terlalu dalam dengan Pram. Saat Pram akan menyuapi Dania, Dania menolak.


" Aku gak laper."


Pram menatap sendu ke arah Dania. Lalu meletakkan sendok ke mangkuk itu kembali.


" Sayang, Mas tau. Mas salah. Tapi mas mohon, jangan siksa diri kamu. Kamu butuh asupan nutrisi. Saat ini, anak kita sedang tumbuh di rahim kamu. Mas yang salah, jangan hukum dia. Hukum saja Mas, Sayang."


Dania menggeser selimut yang ada di tubuhnya. Pram memegangi lengan Dania.


" Kamu mau apa?"


" Mau ke kamar mandi."


Pram membantu Dania sampai di kamar mandi, bahkan Pram tidak keluar sama sekali dari sana. Pram tetap setia disana, bahkan saat Dania memintanya untuk keluar.


" Aku bisa sendiri."


Dengan berat hati, Pram meninggalkan Dania. Namun Pram tetap berdiri di depan pintu kamar mandi. Setelah terdengar Dania selesai, Pram segera membuka pintu dan membantu Dania untuk kembali ke ranjangnya.

__ADS_1


Dania sama sekali belum menyentuh sarapannya. Pram bahkan sudah berulang kali memintanya. Bahkan berusaha untuk menyuapinya. Namun Dania tetap tak ingin memakan apapun.


" Sayang, makanlah, mas mohon. Kamu harus minum obat."


Dania mengingat janin yang ada di kandungannya. Dan akhirnya satu suapan berhasil masuk ke mulutnya. Cukup hingga suapan ketiga, Dania mendorong mangkuk bubur yang di pegang oleh Pram. Tak lama, Dania pun meminum obatnya.


Suara ponsel Pram nyaring terdengar di ruangan itu, Pram sedang berada di kamar mandi, Dania hanya melirik sekilas, ada nama Chelsea tertera disana. Dania mengalihkan pandangannya. Mencoba tak menghiraukan apa pun yang terjadi.


Tiga kali suara dering ponsel Pram terdengar. Namun tak sekali pun Dania mengangkatnya. Tak ingin membuat luka hatinya. Dania memilih untuk bersikap acuh. Pram keluar dari kamar mandi, saat suara deringan itu berhenti.


" Ponsel kamu bunyi terus, sahabat mu memanggil."


Pram melihat ponselnya, tiga kali panggilan masuk. Pram melihat kearah Dania. Sedangkan Dania mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pram kembali meletakkan ponselnya. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Pram hanya melihatnya.


" Pergilah, sahabatmu membutuhkanmu."


Dania kembali merebahkan tubuhnya. Lalu menaikan selimut sampai sebatas dada. Dania memunggungi Pram. Lelah. Tak lama, Pram keluar dan membawa ponselnya. Entah apa yang di bicarakan mereka. Dania tak tau, dan tak ingin tau. Baginya saat ini, yang terpenting adalah kesehatannya, agar anak dalam kandungannya tetap baik-baik saja.


Pram sama sekali tak meninggalkan Dania, walau Dania masih sangat dingin padanya. Tapi Pram tidak pergi sedetik pun.


" Assalamualaikum, Bunda..."


Suara Cilla membuat Dania mengalihkan pandangannya menuju pintu yang terbuka. Wajah Cilla tampak bersedih, membuat Dania merentangkan tangannya, dan meminta Cilla masuk ke dalam pelukannya.


" Cilla kenapa, Sayang?"


" Bunda sakit apa? Cilla sedih liat bunda sakit."


Air mata Dania luruh begitu saja. Rasa sayang Cilla pada dirinya begitu kuat. Hingga saat dirinya di rawat di rumah sakit pun, Cilla tampak begitu sedih.


" Cilla jangan sedih ya. Bunda gak apa-apa kok."


Dania memandang Fatma dan juga Pram yang tengah duduk di sofa di kamar itu.


" Boleh aku bicara berdua dengan Cilla, Mi?"

__ADS_1


Fatma melihat ke arah Pram. Pram melihat ke arah Dania. Sedangkan Dania hanya menatap dingin pada Pram. Akhirnya Pram mengangguk setuju. Mereka berdua meninggalkan Dania dan Cilla berdua saja di kamar itu.


" Cilla, boleh bunda minta sesuatu ke Cilla?"


Cilla mendongak kan wajahnya menatap wajah Dania. Lalu mengangguk kecil.


" Bunda ingin pergi ke suatu tempat. Bunda gak mau buat Cilla sedih, tapi bunda harus pergi, Sayang."


" Bunda mau kemana? Cilla gak mau di tinggal."


Suara serak Cilla mulai menggoyahkan keinginan Dania. Tapi sekuat tenaga Dania menahan rasa.


" Cilla sayang kan sama Bunda? Bunda cuma ingin pergi sebentar. Jadi bunda minta, selama bunda pergi, Cilla jadi anak baik, anak yang penurut. Ikut kata Oma dan papa. Oke?"


Cilla tampak menangis. Membuat Dania juga menyeka air matanya. Lalu memeluk erat putri sambungnya itu.


" Tapi Bunda janji ya, akan segera pulang."


Dania hanya mengangguk kecil. Walaupun berat, tapi Dania sudah membulatkan tekad, akan pergi menjauh dari Pram untuk waktu yang tidak bisa di tentukannya.


Dania memeluk Cilla erat sekali. Begitu juga Cilla. Ikatan diantara mereka sungguh kuat. Sayangnya Dania pada Cilla pun melebihi sayangnya pada diri sendiri.


" Sekarang Cilla jangan nangis lagi. Selama Bunda di rumah sakit, Cilla juga boleh datang. Tapi ingat pesan bunda ya, Sayang. Selama nanti bunda pergi, Cilla jadi anak baik. Oke?"


" Iya, Bunda..."


Setelah pembicaraan itu, Cilla kembali seperti biasa. Walau sesekali wajahnya masih tampak murung. Selama Cilla di ruangan Dania, makan tetap Dania yang menyuapi. Fatma yang meminta agar Cilla makan sendiri pun di tolak Dania. Dania hanya ingin menghabiskan harinya bersama Cilla. Sebelum nantinya Dania menepi.


Setelah selesai makan malam, Fatma dan Cilla pun kembali ke rumah. Sebelumnya Cilla memeluk dan menciumi seluruh wajah Dania. Begitu juga Dania, menciumi wajah Cilla.


" Besok Cilla kesini lagi ya? Bunda ingin Cilla menemani bunda disini."


Cilla mengiyakan, lalu mereka pun keluar dari ruangan Dania. Saat di lorong menuju parkiran, Fatma bertanya pada Cilla apa yang di bicarakan pada nya tadi.


" Bunda cuma bilang, selama bunda gak ada, Cilla harus jadi anak penurut. Ikuti omongan Oma."

__ADS_1


Fatma tersenyum. Fatma berpikiran, bahwa Dania akan lama berada di rumah sakit. Padahal yang sebenarnya, Dania akan pergi begitu keluar dari rumah sakit.


__ADS_2