
Hiasan bunga berwarna putih mendominasi ruang tamu yang juga akan menjadi saksi pernikahan Tari dan Riko pagi ini. Setelah dua Minggu keluar dari rumah sakit, kini Tari dan Riko akan melangsungkan pernikahan. Riko tampak gagah dengan balutan beskap putih dan Tari yang memakai kebaya dengan warna senada.
Suara hamdallah menggema di ruangan itu, setelah Riko dengan lantang mengucapkan ijab di depan penghulu. Tari berurai air mata, sesaat setelah ijab kabul. Bahkan bahunya masih tampak bergetar saat memasukan cincin ke jari manis Riko. Saat Riko selesai memakaikan cincin di jari manis Tari, Riko mengusap air mata di pipi Tari. Pandangannya tampak sangat dalam.
Setelah ijab kabul kini mereka di minta untuk foto berdua, fotografer yang di sewa oleh Tante Delila mengarahkan Riko dan Tari untuk berpose. Selama foto sesi berlangsung, Riko tampak tersenyum lepas, sedangkan Tari hanya tersenyum jika sang fotografer memintanya untuk tersenyum. Tari lebih banyak diam.
Saat acara makan-makan berlangsung, Tari tampak duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal dan lembut. Tari menselonjorkan kakinya. Dan sesekali memijitnya. Riko yang tengah mengambil makanan pun langsung menghampiri dan duduk di samping kaki Tari. Riko memindahkan kaki Tari ke pangkuannya.
" Pak, jangan.."
" Kenapa? Kamu istri aku sekarang Tari."
" Tapi gak enak di lihat orang Pak?"
Riko menghela nafasnya. Dan melanjutkan memijat pelan kaki Tari. Oma Salma yang melihat Riko tak jadi mengambil makanan pun berinisiatif meminta Mbak Ratih membantu membawakan makanan untuk Riko.
" Riko, Tari, Ayo makan dulu."
Mbak Ratih di minta Oma untuk meletakkan makanan di dekat mereka. Tari langsung melipat kakinya.
" Maaf Oma. Tari gak sopan."
" Gak apa-apa, Sayang. Disini hanya kita semua. Kamu jangan segan ya."
Dari arah luar, Zaki berlari kearah mereka. Dan langsung menabrak Oma Salma.
" Adduuhh...cicit Eyang. Larinya jangan ngebut-ngebut."
Ucap Oma Salma sambil memangku Zaki. Tak lama, Dania datang dan duduk di samping Oma Salma.
" Sayang, jangan lari-lari."
Tari pun melihat Dania yang tengah duduk di dekat Oma Salma. Dania tampak bahagia saat ini, dan semua itu terlihat jelas di wajahnya. Dania melihat Tari yang diam saja.
" Tari, kamu belum makan?"
Tari menggeleng, lalu menatap ke arah Riko.
" Ko, bawa aja Tari ke kamar. Tari gak boleh kecapean. Biarkan dia istirahat."
Oma yang paham tatapan Tari, akhirnya buka suara. Riko pun bangkit, lalu menjulurkan tangannya membantu Tari bangkit dari duduknya. Riko membawa Tari ke kamar yang dulu menjadi kamarnya. Ya, acara pernikahan mereka di laksanakan di kediaman orang tua Riko. Dan seperti nya setelah menikah mereka pun akan tetap tinggal disini, karena permintaan Bunda Riko.
__ADS_1
Riko membuka kamarnya dan meminta Tari untuk masuk terlebih dahulu. Tari menatap sekeliling kamar itu. Kamar yang luas. Kamar ini pun di hias oleh bunga-bunga yang cantik. Membuat Tari tersenyum tipis. Riko membawa Tari ke tepi ranjang. Di sandarkan tubuh Tari ke kepala ranjang, dan kakinya di bantu naik oleh Riko. Bahkan Riko menyangga punggung Tari dengan sebuah bantal.
" Gimana? Udah Nyaman? AC nya perlu aku kencengin gak?"
"Udah cukup."
Tari melihat Riko yang menggeser kursi di meja rias, dan duduk di tepi ranjang. Membuat Tari menatapnya heran.
" Bapak gak keluar? Di depan masih banyak tamu."
" Gak, aku disini aja, nemenin kamu."
" Tapi saya gak apa-apa, Pak."
Riko mendecak. Lalu di tatapnya mata Tari.
" Tari, sekarang itu kita suami istri. Apa kamu pernah dengar istri manggil ke suaminya dengan sebutan Bapak. Saya ini suami kamu. Kamu bisa manggil aku dengan panggilan yang lebih manis."
" Panggilan manis? maksudnya?"
" Ya kamu bisa manggil aku dengan Honey, baby , Sayang atau Cinta. Atau apalah yang lebih enak gitu dengernya."
" Aapaaaaa?????"
" Kenapa? Kamu mau manggil Aku apa? Sayang aja ya? Atau baby?"
" Enggak...enggak.."
" Loh, kenapa?"
" Udah deh, jangan aneh-aneh."
Saat mereka sedang berdebat, suara ketukan pintu membuat mereka menatap ke arah pintu.
" Apa Lo?"
Ucap Riko saat melihat Reyhan dan Pram di depan pintu. Kedua sepupu Riko itu langsung menarik Riko.
" Keluar Lo, masih siang juga udah di kamar aja. Ingat istri Lo itu gak bisa capek."
Dania dan Lena yang ada di dekat mereka hanya tertawa. Lalu kedua sahabat Tari itu masuk sambil membawa nampan yang berisi makanan.
__ADS_1
" Tar, makan dulu. Oma khawatir banget sama kamu. Makanya kita di suruh bawa makanan ini ke kamar."
Ucap Dania sambil meletakkan baki di atas nakas. Lena pun melakukan hal yang sama. Baki satunya berisi makanan kecil.
" Makasih Dania, Lena."
Ucap Tari sambil meneteskan air matanya. Dania pun mengusap air mata yang jatuh di pipi Tari.
" Jangan nangis, kamu udah banyak nangis. Nanti anak kamu jadi cengeng."
Tari menatap ke arah Dania dan Lena.
" Kalian..."
" Ya Tari. Kita tahu. Awalnya aku marah sama Riko, bahkan aku sempat menamparnya. Tapi aku bahagia, akhirnya kita jadi saudara."
Tari menunduk.
" Apa mungkin aku mampu bertahan seperti kamu, Dan?"
Dania membelai punggung Tari. Dan mencoba memberikan dukungan untuknya.
" Jalani aja yang ada, bagaimana kedepannya, kita serahkan semua pada sang pemilik hidup. Hm.."
Tari mengangguk. Pukul lima sore, acara pun selesai. Dua orang asisten rumah tangga masuk ke kamar Tari dan membawa piring bekas makan Tari. Tati tak keluar kamar sejak siang. Bukan karena dirinya tak menghargai tamu dan acara itu, tapi Riko dan Ibu Mertuanya lah melarang. Karena takut Tari kelelahan dan berakibat fatal untuk kandungannya.
Tari melepas kebaya yang melekat di tubuhnya. Dan membersihkan diri setelah kedua asisten rumah tangga itu berlalu dari kamarnya. Tari keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe. Ketukan di pintu membuat Tari bertanya.
" Tari, ini Bunda, Sayang."
Tari segera membuka pintu kamarnya. Dan tampak ibu mertuanya di depan pintu dan membawa paper bag di tangannya.
" Boleh Bunda masuk?"
Tari mengangguk, lalu membuka lebar pintu kamarnya agar memudahkan ibu mertuanya itu masuk.
" Sayang, ini ada beberapa gaun yang bisa kamu pakai. Bunda gak tau selera kamu seperti apa. Mudah-mudahan kamu suka ya."
" Terima kasih, Tante. "
Kening Tante Delila berkerut. Mendengar Tari masih memanggilnya dengan sebutan Tante.
__ADS_1
" Bunda, Sayang. Sekarang kamu manggilnya Bunda. Dan Ayah. Gak mau denger kamu manggilnya Tante atau Om lagi. Oke Sayang? Sekarang Bunda keluar dulu."
Tari menutup kembali pintu kamarnya. Dalam hatinya selalu bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat menyayangi nya.Bahkan sejak awal bertemu dengannya pun, perlakuan ibu mertuanya itu tak pernah berubah.