Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 68


__ADS_3

Menjelang malam, Tejo kembali ke rumah dengan membawa satu mobil. Sedangkan mobil Dania tetap berada di desa, untuk memudahkan Dania jika ingin bepergian. Pram yang sudah menunggu pun langsung beranjak saat mendengar suara mesin mobil yabg di matikan. Pram berlari menghampiri Tejo.


" Jo, Dimana istri saya? Jawab Jo? Kemana Dania pergi?"


Tejo yang di berondong pertanyaan dari Pram hanya menunduk tanpa berani menatap Pram. Pram pun semakin kesal. Hingga menarik kerah baju yabg di pakai oleh Tejo.


" JAWAB SAYA TEJO...APA KAMU MAU SAYA PECAAATTT??? HUUUHHH!!!


Suara Pram meninggi namun Tejo tetap saja bungkam. Bahkan tangan Pram sudah melayang ingin memberikan sebuah bogem mentah karena Tejo yang tak kunjung buka suara.


" Hentikan, Pram. "


Fatma berteriak di depan pintu bersama dengan Mbak Ratih. Karena mendengar keributan, Mbak Ratih dan Fatma melihat ke depan. Sedangkan Mbok Sri menemani Cilla di kamar.


Pram menggantungkan tangannya di udara, dan pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Fatma. Fatma mendekat, lalu melepaskan cekakan di kerah baju Tejo.


" Lepaskan dia, Pram."


Tejo menunduk takut, karena selama bekerja dengan keluarga ini, baru pertama kali, Pram marah sampai ingin memukul. Melihat Tejo yang ketakutan, membuat Fatma meminta Tejo untuk pergi.


" Kamu masuk, Jo. Biar ini saya yang mengatasinya."


" Te..terima kasih, Nyonya. Saya masuk. Permisi Tuan."


Pram memejamkan matanya, menahan gejolak emosi di hatinya. Sejak siang, Pram sudah kalut karena Dania tak juga menjawab panggilan darinya. Sedangkan Fatma pun bungkam mengenai Dania. Fatma tak buka suara sama sekali, Fatma ingin putranya sadar, bahwa Dania pergi karena ulahnya.


" Kenapa? Kenapa kamu sekhawatir ini? Apa yang membuat kamu khawatir, Pram?"


Pram menatap ke arah Maminya. Pram merasa pertanyaan ini sangat tidak masuk di akal. Bagaimana pun, Dania adalah istrinya.

__ADS_1


" Mi, Dania itu istri Pram. Dania saat ini sedang mengandung anak Pram, Mi. Sangat wajar, jika Pram bertanya dimana Dania saat ini."


Fatma tersenyum sinis. Lalu menggeleng kan kepalanya.


" Istri? Kalau kamu menganggap Dania istri kamu, mestinya kamu menjaga perasaanya. Bukannya sibuk dengan sahabat kamu itu."


Fatma akhirnya buka suara tentang ketidak sukaannya dengan sikap Chelsea akhir-akhir ini. Semua nya Fatma ungkapkan. Bagaimana Dania menahan rasa cemburunya, menahan sakit hatinya saat Pram lebih mendahulukan Chelsea dari pada dirinya.


" Seandainya posisi itu yang di rubah, apa kamu terima Pram? Mami tau, Dania hanya menantu, tapi ketulusan Dania terhadap keluarga ini dan juga Cilla membuat Mami menganggap dirinya sebagai anak mami sendiri. Dan soal anak yang di kandungnya, bukannya kamu yang menolak kehadirannya? Kamu tak menginginkan anak itu kan?"


Air mata Pram menetes, beberapa kali Pram mengerjapkan matanya.


" Mi, Saat itu Pram tidak tau, kalau Dania tengah hamil. Pram tidak menyadarinya, Mi. Tapi percayalah Mi, Pram bahagia saat tau Dania mengandung. Pram hanya takut, kejadian seperti Sabina terulang kembali. Hanya itu."


" Tidak menyadarinya? Karena kamu terlalu sibuk dengan Chelsea, Pram."


" Mami pernah bilang kan, Pram. Seandainya Dania tidak sanggup berada di sisi kamu lagi, maka Mami sendiri yang akan membawa Dania pergi dari sisi kamu. Itu mami ucapkan, karena mami sadar, kamu tidak tegas dengan hatimu sendiri. Hingga kamu menyakiti hati wanita yang telah sangat tulus terhadap kamu dan Cilla."


Fatma pergi dari hadapan Pram. Meninggalkan Pram sendiri di halaman luas itu. Namun saat Fatma belum jauh meninggalkan Pram. Lagi-lagi Fatma berkata.


" Pram, jika Dania ingin lepas dari dirimu, karena tak sanggup bertahan. Maka lepaskanlah Pram. Dania juga berhak bahagia."


Fatma meninggalkan Pram sedangkan Pram hanya bisa berteriak sambil meremas rambutnya. Cilla yang mendengar teriakan Pram pun segera memeluk Mbok Sri di sebelahnya.


" Mbok, Cilla takut. Cilla mau Bunda. Bunda...hiks...hiks.."


Cilla menangis di pelukan Mbok Sri, dan Mbok Sri hanya mampu menenangkan sambil sesekali menyeka air matanya. Mbok Sri kasihan melihat Cilla. Hanya sebentar menikmati kasih sayang seorang ibu.


Setelah lelah merenungi diri, Pram akhirnya masuk ke kamar. Merebahkan diri di atas ranjang mereka. Ranjang itu terasa dingin. Karena Pram kehilangan wanita yang telah menghangatkan hari dan hidupnya. Pram meraba sisi ranjang di bagian Dania. Kembali air matanya jatuh. Menyesali keadaan.

__ADS_1


Pram memeluk bantal yang biasa Dania pakai. Saat ini pikirannya menerawang jauh, memikirkan Dania. Sementara Dania yang telah tiba di desa. Di rumah peninggalan kakek dan neneknya. Dania memilih tinggal disana, karena tempatnya yang masih asri. Selama ini, rumah itu di rawat oleh sepasang suami istri.


Pintu kamar yang di tempati Dania di ketuk. Bik Idah memanggil dari luar.


" Neng, neng Dania. Ayo makan dulu. Bibik sudah siapkan."


Dania membuka pintu kamarnya.


" Makasih, Bik. Maaf Dania ngerepotin Bibik."


" Jangan ngomong gitu. Bibik gak merasa direpotkan."


Dania dan Bik Idah menuju meja makan. Bik Idah menyiapkan menu istimewa untuk Dania makan malam. Ikan bakar yang diambil langsung dari kolam dan juga sambel untuk cocolannya. Dania menatap hidangan itu, masakan Bik Idah memang sedap, namun pikiran Dania tertuju pada Cilla.


" Neng, kenapa cuma diliatin? Ayo di makan. Dede bayi di perut Eneng juga butuh makan. Bibik ambilkan ya?"


Dania tersenyum tipis. Setelah makanan di piringnya tersedia, Dania makan di temani oleh Bik Idah. Setelah selesai makan, Buk Idah menyiapkan segelas air jahe hangat untuk Dania.


" Sebelum tidur di minum ya, Neng. Biar besok badannya seger."


" Makasih, Bik."


Dania duduk di teras rumah itu. Pandangannya menatap lurus. Tak menyangka bahwa akhirnya Dania akan memilih pergi. Dania mengambil ponselnya. Membuka galeri, dimana banyak foto dan kenangan selama ini. Foto kebahagiaan dirinya dan Pram saat liburan. Serta foto-foto lainnya. Tangan Dania mengusap foto Cilla. Baru beberapa jam saja, rasa rindunya pada bocah gembul dan berambut keriting itu begitu dalam.


" Maafkan Bunda, Sayang. Bunda sayang sama Cilla. Tapi untuk saat ini, Bunda hanya ingin menenangkan diri. Jika nanti Bunda sudah lebih baik, Bunda akan menemui Cilla, Nak. Bunda kangen kamu, Sayang."


Dania meneteskan air mata. Teringat saat pertama kali bocah itu di gendong dalam keadaan menangis tanpa ada yang bisa menenangkan. Bahkan Cilla sampai tertidur di gendongan Dania. Sejak saat itu, Dania sudah jatuh hati pada Cilla.


Saat Dania menatap foto Cilla di ponselnya, panggilan dari Pram pun masuk kembali. Namun dengan cepat, Dania menolak panggilan itu. Saat ini menjauh dari sisi Pram adalah pilihan terbaik baginya.

__ADS_1


__ADS_2